TangerangNews.com

Pasar Tekstil Cipadu Tangerang Kian Sepi Pembeli, Pedagang Ngos-ngosan Bertahan

| Rabu, 21 Januari 2026 | 09:35 | Dibaca : 97


Pasar Cipadu Kota Tangerang (@TangerangNews / Istimewa )


TANGERANGNEWS.com- Pasar Cipadu, Kota Tangerang yang dahulu dikenal sebagai sentra kain dan pakaian terbesar di wilayah Tangerang tampak semakin sepi, dengan banyak kios tutup dan arus pengunjung yang jauh berkurang.

Sejumlah kios dibiarkan kosong, sementara kios yang masih buka hanya menampilkan beberapa gulungan kain. 

Suasana tawar-menawar yang dulu menjadi ciri khas pasar nyaris tak terdengar. 

Mukhlis, 50, pedagang kain di Toko Sabana Textile yang telah berjualan selama 25 tahun mengaku sempat merasakan masa ketika Pasar Cipadu dipadati pembeli hingga area parkir kendaraan tak lagi mencukupi. 

Namun situasi itu berubah perlahan dan mencapai titik terberat saat pandemi Covid-19 melanda pada 2020.

“Sekarang ini memang sepi sekali. Merosot dari Corona dulu. Mulai dari situ merosot separuh lebih,” ujar Mukhlis dikutip dari Kompas, Rabu, 21 Januari 2026.

Penurunan penjualan memaksanya mengurangi jumlah kios dari empat menjadi dua. Omzet yang dulu bisa mencapai puluhan juta rupiah per bulan kini sulit diraih. 

“Dulu sebelum Corona bisa dapat Rp 20 juta sampai Rp 30 juta. Sekarang cari Rp 10 juta saja susah,” katanya.

Mukhlis juga kehilangan banyak pelanggan lama yang sebelumnya datang dari luar pulau. Kini, ia hanya mengandalkan pembeli dari wilayah Jakarta dan Tangerang. 

Padahal, menurutnya, kain yang dijual memiliki kualitas premium dan biasa digunakan untuk kebutuhan seragam pabrik, pusat perbelanjaan, hingga rumah sakit. 

“Kain saya ini biasanya sering dipesan untuk seragam pabrik, mall, rumah sakit tapi sekarang sudah jarang sekali,” imbuhnya.

Serupa, Annisa, 50, pedagang pakaian yang telah membuka usahanya di Pasar Cipadu sejak tahun 2000 menilai pandemi dan pergeseran pola belanja masyarakat ke platform daring semakin memperberat kondisi pasar tradisional untuk bersaing.

“Dulu karyawan saya sembilan orang. Sekarang tinggal tiga. Banyak toko yang terpaksa tutup,” kata Annisa.

Ia mengaku saat ini hanya bertahan dengan mengandalkan pelanggan lama, itu pun dengan pola pembelian yang lebih kecil dibandingkan sebelumnya. 

Keramaian musiman menjelang Ramadhan dan Idul Fitri yang dahulu menjadi puncak penjualan juga tak lagi terasa. 

“Sekarang bertahan saja sudah ngos-ngosan. Kalau bukan karena tanggungjawab biaya sekolah ke anak, saya pasti sudah balik ke kampung,” ujarnya.