TangerangNews.com

Ketua Dewan Pers Tegaskan Peran Wartawan Sebaga Filter Lawan Manipulasi AI

Rangga Agung Zuliansyah | Minggu, 8 Februari 2026 | 20:44 | Dibaca : 45


Konvensi Nasional Media Massa Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Provinsi Banten, Minggu 8 Februari 2026. (@TangerangNews / Rangga Agung Zuliansyah)


TANGERANGNEWS.com-Kehadiran Artificial Intelligence (AI) dalam ekosistem informasi ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi menawarkan efisiensi, namun di sisi lain mengancam kebenaran publik melalui disinformasi dan manipulasi fakta.

Menanggapi hal ini, Ketua Dewan Pers Komarudin Hidayat menegaskan bahwa pers tidak boleh kalah oleh algoritma.

Dalam Konvensi Nasional Media Massa Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Banten, Komarudin menekankan bahwa tantangan terbesar AI bukanlah teknologinya, melainkan bagaimana pers menjaga "kejernihan air" di tengah banjir data yang seringkali beracun.

 

Pers Sebagai Filter di Tengah Tsunami Algoritma

Komarudin menyoroti bahwa AI telah mengubah cara informasi diproduksi secara masif, yang seringkali mengabaikan disiplin verifikasi. Hal ini menciptakan kondisi masyarakat yang "kecanduan" pada konten toksik dan hoaks.

"Saat terjadi disrupsi informasi di era AI, pers harus bisa menjawab kebingungan masyarakat. Jika AI bisa memproduksi data dengan cepat, maka pers harus berperan sebagai lembaga penyulingan yang memastikan data tersebut adalah fakta, bukan rekayasa," ujar Komarudin, Minggu 8 Februari 2026.

Meski tantangan AI terlihat berat, Komarudin tetap optimis. Menurutnya, disrupsi adalah pola sejarah yang selalu melahirkan kemajuan bagi mereka yang kreatif.

"Jangan takut pada AI. Kita justru ditantang untuk inovatif. Pada akhirnya, masyarakat akan jenuh dengan informasi yang manipulatif dan akan kembali mencari sumber air bersih, yaitu media massa yang terpercaya," pungkasnya.

 

Verifikasi Benteng Terakhir Melawan Disrupsi

Senada dengan pandangan tersebut, Sekretaris Daerah Banten Deden Apriandhi dalam konvensi bertema “Pers, AI dan Transformasi Digital” ini menyebutkan bahwa pers kini bertransformasi menjadi penentu makna.

Di saat AI mampu mengolah ribuan data dalam hitungan detik, hanya jurnalisme yang memiliki nurani untuk mengurai kompleksitas dan kepentingan publik di dalamnya.

Beberapa poin krusial tantangan AI yang dibahas meliputi kemampuan AI menciptakan konten yang menyerupai realitas (deepfake/rekayasa teks).

Karena itu, SOP pers yang menjadi satu-satunya pembeda antara informasi kredibel dan sampah digital. Dibutuhkan juga literasi kepada masyarakat sebagai panduan untuk membedakan hasil olahan mesin dengan karya jurnalistik yang akuntabel.

"Inilah Konvensi Nasional Media Massa HPN 2026 menjadi ruang strategis untuk merumuskan kembali peran pers sebagai penjaga kepentingan publik di era AI dan transformasi digital," ujarnya.