TangerangNews.com

Jeffrey Epstein: Saat Kekayaan Tak Lagi Membahagiakan

Rangga Agung Zuliansyah | Senin, 9 Februari 2026 | 14:11 | Dibaca : 255


Gesti Ghassani (gegeyys), Aktivis Muslimah. (@TangerangNews / Rangga Agung Zuliansyah)


Oleh: Gesti Ghassani/@gegeyys, Aktivis Muslimah

 

TANGERANGNEWS.com-Nama Jeffrey Epstein kembali mencuat setelah Departemen Kehakiman Amerika Serikat merilis jutaan halaman dokumen penyelidikan yang selama ini tersegel. Dokumen yang dikenal sebagai Epstein Files itu berisi email, catatan perjalanan, dan komunikasi yang memperlihatkan luasnya jaringan sosial serta kekuasaan yang ia miliki selama bertahun-tahun. (Detik.com, 06-02-2026)

Fakta ini membuat publik kembali bertanya: bagaimana mungkin seorang pelaku kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur dapat bertahan begitu lama di lingkar elite dunia?

Epstein bukan orang biasa. Ia finansier kaya raya, memiliki pesawat pribadi, pulau pribadi, dan relasi dengan tokoh politik serta figur hiburan kelas atas. Ia hidup di puncak materi yang diimpikan banyak orang. 

Namun justru di titik itulah terlihat satu kenyataan yang jarang dibahas: ketika kekayaan sudah mencapai puncaknya, kebahagiaan tidak otomatis ikut datang.

 

Ketika Kekayaan Tidak Lagi Cukup

Epstein tidak lagi mengejar uang atau status. Semua itu sudah ia miliki. Yang ia cari berikutnya adalah sesuatu yang jauh lebih berbahaya: sensasi menguasai manusia lain.

Di sinilah pola kerusakan itu tampak jelas. Saat kenikmatan materi tidak lagi memuaskan, hawa nafsu mencari bentuk pelampiasan lain yang semakin menyimpang. Eksploitasi terhadap anak di bawah umur yang ia lakukan bukan lahir dari kebutuhan, tetapi dari dorongan ingin merasakan kuasa atas hidup orang lain.

Kasus ini menunjukkan bahwa kerusakan tidak selalu berawal dari kekurangan. Ia sering justru tumbuh dari rasa berlebihan dan perasaan tidak tersentuh oleh apa pun.

 

Fakta yang Membuka Gambaran Besar

Rilis jutaan halaman dokumen memperlihatkan bahwa Epstein bertahan lama bukan karena ia bersembunyi, tetapi karena ia berada di tengah lingkar kekuasaan. Ia memiliki akses sosial yang membuatnya terlindungi selama bertahun-tahun.

Di dalam dokumen itu juga terungkap korespondensi mengenai pengiriman potongan kain kiswah Ka’bah ke alamatnya pada 2017. Tidak ada bukti pelecehan ritual terhadap Ka’bah, namun bagi seorang Muslim, fakta ini menghadirkan kontras yang sangat tajam.

Kiswah adalah simbol ketundukan manusia kepada Allah, sementara ia berada di rumah seseorang yang hidup sepenuhnya mengikuti dorongan hawa nafsunya.

Terasa sebuah ironi yang dalam: simbol penghambaan kepada Allah berada di tangan manusia yang tidak memiliki penghambaan kepada-Nya.

 

Masalah yang Lebih Dalam dari Sekadar Kejahatan

Kasus Epstein bukan hanya kisah seorang predator seksual. Ia memperlihatkan bagaimana sistem yang memuliakan materi di atas moral dapat melahirkan manusia yang merasa tidak memiliki pengendali, tidak punya batas.

Ketika keberhasilan diukur dari kekayaan, jaringan elite, dan status sosial, sementara agama dipinggirkan sebagai urusan privat, lahirlah manusia yang merasa bisa membeli hukum, membeli kehormatan orang lain, dan mempermainkan martabat manusia.

Persoalannya bukan hanya pada Epstein. Persoalannya adalah lingkungan yang memungkinkan manusia seperti itu tumbuh, terlindungi, dan berkuasa. Dalam Islam, manusia dimuliakan karena ia diikat oleh hukum Allah. Ada halal dan haram. Ada kehormatan manusia yang tidak boleh dilanggar.

Ketika manusia tidak tunduk kepada aturan Allah, ia tetap akan tunduk namun kepada hawa nafsunya sendiri. Dan hawa nafsu, ketika dibiarkan, akan menyeret manusia melampaui kemanusiaannya.

Allah telah mengingatkan:

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ

“Tidakkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”

(QS. Al-Jatsiyah: 23)

 

Dan peringatan yang sangat jelas:

كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَىٰ • أَن رَّآهُ اسْتَغْنَىٰ

“Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia merasa dirinya serba cukup.”

(QS. Al-‘Alaq: 6–7)

 

Ayat ini seakan menjelaskan fenomena yang terjadi pada Epstein: ketika merasa jenuh dengan materi, manusia mulai kehilangan kendali.

 

Menghadirkan Kembali Pengendali dalam Kehidupan

Kasus seperti Epstein tidak akan selesai hanya dengan menghukum para pelaku. Karena yang melahirkan kasus ini bukan hanya individu, tetapi sistem kehidupan yang tidak menjadikan hukum Allah sebagai pengatur.

Selama materi dijadikan ukuran kemuliaan, selama kekuasaan bisa melindungi pelaku, selama agama tidak hadir sebagai pengontrol publik, maka manusia-manusia tanpa batas akan terus lahir.

Islam tidak hanya mengatur ibadah, tetapi juga mengatur sistem sosial, hukum, dan politik agar manusia selalu berada dalam koridor yang jelas. Dalam sistem Khilafah, hukum Allah menjadi landasan kehidupan. Tidak ada manusia yang kebal hukum karena kekayaan atau relasi. 

Kehormatan manusia dijaga secara tegas. Kejahatan seksual dipandang sebagai pelanggaran berat terhadap martabat manusia dan ditindak dengan hukum yang memberikan efek jera nyata.

Di sinilah pentingnya sistem yang bukan hanya menghukum setelah kejahatan terjadi, tetapi menjaga manusia agar tidak sampai tenggelam dalam kerusakan sejak awal. Karena ketika pengendali itu hilang, yang rusak bukan hanya satu orang, tetapi seluruh kemanusiaan.