TANGERANGNEWS.com- Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Aetra Tangerang melalui unggahan resminya menyampaikan adanya penurunan kualitas air baku.
Dalam keterangan tertulisnya, Aetra menjelaskan, saat ini terjadi peningkatan polutan di Sungai Cisadane sehingga Instalasi Pengolahan Air belum dapat beroperasi secara optimal.
“Dapat kami informasikan bahwa saat ini tengah terjadi penurunan kualitas air baku akibat peningkatan polutan di Sungai Cisadane,” tulis akun resmi @aetratangerang.
Pihak Aetra menyebutkan, pemeriksaan kualitas air dilakukan secara ketat dan suplai air akan kembali normal setelah air baku memenuhi syarat pengolahan.
Aetra juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pelanggan
Gangguan pasokan air bersih dirasakan warga Tangerang sejak Senin dini hari tersebut pun dikeluhkan sejumlah pelanggan PDAM Aetra lantaran air mendadak mati tanpa pemberitahuan, bahkan sejak malam hingga pagi hari.
Keluhan tersebut ramai disuarakan warga melalui kolom komentar media sosial Instagram @aetratangerang.
“Sampe kapan nih aer mati? Lama bgt dari tadi malem sampe pagi,” kata @lisnaanna.gunawan.
”GARA2 AIR CISADANE TERCEMAR LIMBAH KIMIA DARI PERUSAHAAN TANGSEL NIH. JADI MATI SERENTAK,” komentar akun @hitl3rraden20.
“kalo bayar telat kena denda….kalo ada kejadian air amsjong gini??….kira2 ada reward nya ga buat pelanggan???” timpal akun @anangbalung.
Di sisi lain, dugaan pencemaran Sungai Cisadane turut dikaitkan dengan peristiwa kebakaran gudang pestisida di wilayah Tangerang Selatan.
Danton Dinas Pemadam Kebakaran Tangerang Selatan (Tangsel) Sahroni menjelaskan, perubahan warna dan bau air sungai Jalatreng terjadi akibat kebakaran gudang pestisida di kawasan Taman Tekno, Serpong.
“Itu kan bahan kimia yang terbakar itu. Bahkan limbahnya saja sampai mencemari sungai yang di BSD, sampai banyak ikan yang mati. Pestisida itu,” ujar Sahroni dikutip dari Kompas, Selasa, 10 Februari 2026.
Ia menjelaskan, saat proses pemadaman, air yang digunakan petugas bercampur dengan sabun dan zat pestisida sehingga berubah menjadi limbah berwarna putih.
Limbah tersebut mengalir ke selokan dan bermuara ke sungai Jalatreng di kawasan Perumahan De Latinos BSD.
“Jadi itu memang pembuangan airnya ke sungai. Jadi ngalirnya mau enggak mau ke sana,” jelasnya.

Dampak pencemaran terlihat jelas dari perubahan warna air dan bau menyengat. Sahroni menyebut, ikan mati ditemukan di sejumlah titik aliran sungai.
“Limbahnya sampai mencemari sungai di wilayah BSD, sampai banyak ikan yang mati,” katanya.
Pada unggahan akun Instagram @abouttng, tampak juga sejumlah ikan-ikan berukuran besar mati di sepanjang Sungai Cisadane diduga keracunan limbah tersebut.
Sementara itu, Kepala Bidang Pemadaman dan Penyelamatan Dinas Pemadam Kebakaran Kota Tangsel Omay Komarudin mengatakan, kebakaran gudang pestisida tersebut terjadi sekitar pukul 04.30 WIB.
“Kebakaran terjadi jam 4.30 WIB dan pasukan kita langsung diterjunkan ke lokasi,” ujarnya.
Sebanyak 14 unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan, termasuk bantuan dari wilayah BSD serta mobil tangki penyuplai air.
“Yang kebakaran itu gudang pestisida. Untuk penyebab kebakaran sampai sekarang masih dalam penyidikan,” kata Omay.
Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, namun kerugian ditaksir mencapai Rp2 miliar.