TangerangNews.com

Begini Progres Persiapan PSEL di TPA Jatiwaringin Tangerang

Rangga Agung Zuliansyah | Kamis, 19 Februari 2026 | 17:17 | Dibaca : 528


Bupati Tangerang Moch Maesyal Rasyid menuangkan cairan ecoenzym untuk menetralkan air tanah yang dimanfaatkan masyarakat sekitar TPA Jatiwaringin, Rabu 18 Februari 2026. (@TangerangNews / Rangga Agung Zuliansyah)


TANGERANGNEWS.com-TPA Jatiwaringin di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang diproyeksikan menjadi pusat pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) yang ditargetkan terealisasi pada tahun 2026.

Bupati Tangerang Moch Maesyal Rasyid menegaskan bahwa Pemkab Tangerang telah melakukan berbagai langkah strategis untuk mendukung misi besar tersebut, mulai dari pembenahan infrastruktur hingga rehabilitasi lingkungan sekitar TPA.

Untuk infrastruktur, telah disiapkan lahan seluas 6,5 hektare dengan pematangan dan pemadatan lokasi. Kemudian, memastikan ketersediaan air bersih PDAM, serta menjamin volume pasokan sampah minimal 1.000 ton per hari, yang saat ini telah mampu dipenuhi sekitar 2.700 ton perhari. 

“TPA Jatiwaringin kita siapkan sebagai lokus pengolahan sampah menjadi energi listrik. Lahan sudah kita matangkan, volume sampah mencukupi dan juga tengah menyiapkan kerja sama pengangkutan sampah dengan pihak ketiga. Kita terus mendukung program ini agar bisa terealisasi pada tahun 2026,” ujarnya saat peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026, Rabu 18 Februari 2026.

Sembari menunggu realisasi PSEL, Pemkab Tangerang juga melakukan rehabilitasi lingkungan di sekitar TPA. Langkah ini dilakukan dengan menyiramkan ecoenzym ke sumur-sumur pantau untuk menurunkan kadar bakteri E.Coli serta membantu menetralisir kualitas air tanah yang juga dimanfaatkan masyarakat sekitar.

“Selain itu, penanaman bambu juga dilakukan sebagai barrier alami untuk membantu menyerap bau dan menahan angin di sekitar TPA,” ungkap Maesyal.

Pihaknya juga telah menginstruksikan kepada para camat agar mengintensifkan sosialisasi kepada masyarakat untuk membuang sampah di TPS yang telah disediakan, tidak lagi di pinggir jalan umum.

Menurut dia, penanganan sampah adalah tanggung jawab bersama, tidak bisa dilakukan oleh pemerintah sendiri. Masyarakat harus terlibat dan berperan aktif langsung, salah satunya dengan membudayakan perilaku buang sampah pada tempatnya.

“Kami mohon kepada masyarakat untuk membuang sampah di tempat yang sudah disediakan. Jangan di pinggir jalan umum. Kita angkut satu jam kemudian penuh lagi. Ini perlu kesadaran bersama,” serunya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Ujat Sudrajat menjelaskan pihaknya telah melakukan pembenahan di TPA Jatiwaringin, di antaranya penggunaan teknologi geomembran untuk mengurangi bau dan mengendalikan gas metana, serta penguatan pengolahan air lindi. 

“Hasil uji kualitas air tanah di sekitar TPA menunjukkan penurunan signifikan angka E.coli dari 8.300 per 100 ml menjadi 134 per 100 ml setelah aplikasi ecoenzym selama dua bulan. Program tersebut akan dilanjutkan hingga enam bulan ke depan dengan interval pemberian rutin setiap bulan,” ujarnya.