TangerangNews.com

Para Pencari Tuhan Dakwah Sosial Keagamaan dan Kebangsaan

Rangga Agung Zuliansyah | Kamis, 26 Februari 2026 | 22:51 | Dibaca : 60


Ahmad Syailendra, S. Sos. Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 2 Ciledug. (@TangerangNews / Rangga Agung Zuliansyah)


Oleh: Ahmad Syailendra, S. Sos. Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 2 Ciledug

 

TANGERANGNEWS.com-Bulan ramadhan seperti biasa kita banyak di suguhkan takjil (jajanan makanan) di lingkungan masyarakat sekitar, di karenakan indonesia adalah negara yang mayoritas beragama islam, tentu banyak keberkahan di bulan ramadhan. Selain kita juga sebagai umat muslim di minta untuk memperbanyak ibadah di bulan yang istimewa untuk meningkatkan kualitas ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. 

Al qur’an Surat Al baqarah ayat 183  «wahai orang-orang beriman, di wajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana di wajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.» 

Dalam Hadist Riwayat Ahmad di katakan » telah datang bulan ramadhan, bulan penuh berkah, maka Allah mewajibkan kalian untuk berpuasa pada bulan itu. Saat itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka di tutup, para setan diikat pada bulan itu pula terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.     

Selain kita di minta untuk meningkatkan ibadah dan menyampaikan pesan kebaikan di bulan yang penuh maghfiroh (ampunan), para pelaku seni pun melaksanakan apa yang dinamakan fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). Sinetron Para Pencari Tuhan (PPT) Jilid 19 yang bertajuk «Tobat Woy» yang menyoroti berbagai persoalan sosial yang dekat dengan kenyataan di masyarakat kita. Seperti fenomena anak jalanan dan kriminalitas, edukasi tentang organisasi kemasyarakatan, pinjaman online (pinjol) dan jerat utang dan pengangguran  serta sulitnya mencari kerja. Adapun persoalan kebangsaan yang sering di ingatkan dalam sinetron tersebut adalah tentang pendidikan, korupsi para pejabat dan bagaimana kita dapat berbuat kebaikan terhadap lingkungan sekitar yang di bawakan dengan komedi satir khas seorang Deddy Mizwar. 

 

Problematika Sosial

Eksploitasi terhadap anak jalanan dan kriminalitas menjadi perhatian yang tidak dapat di hindarkan dalam persoalan di negara kita saat ini. Jurnal kajian hukum dan kebijakan publik (KHKP) tentang Kasus Eksploitasi Anak (Studi Kasus Pada Anak Jalanan Di Bandar Lampung). Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa banyak anak terpaksa bekerja di lingkungan yang berbahaya atau dipekerjakan menjadi pengemis, pengamen, dan pekerja guna membantu menopang keperluan ekonomi keluarga mereka. Selain dampak langsung pada kesejahteraan anak, situasi ini berpotensi menimbulkan masalah jangka panjang dalam perkembangan mental dan fisik mereka. 

Selain itu organisasi kemasyarakatan yang para «oknumnya» menjadi biang masalah pun tidak lepas dari sorotan publik kita sekarang, bentrok fisik yang terjadi kemudian pemalakan yang kerap terjadi yang sudah barang tentu meresahkan lingkungan masyarakat setempat. Persoalan lainya muncul ketika kesejahteraan tidak di dapati oleh masyarakat, yang timbul adalah jalan pintas, jika yang bersangkitan tidak memiliki keimanan dan ketakwaan yang baik. Bisa saja terjerat persoalan pinjaman online, bahkan sampai berdampak terhadap bunuh diri bagi mereka yang merasa  tidak bisa mengembalikannya. Tatanan sistem sosial kita ini memang perlu ada perubahan yang mendasar dan harus di mulai dengan pendidikan agama dan sekolah yang baik dan sehat. 

Jika angka kemiskinan terus meningkat, problematika sosial seperti yang tersebut di atas akan linier dengan seiring data angka kemiskinan. Sudah barang tentuna akan menjadi beban sosial terutama keluarga dan negara, yang mesti mengasuh dengan baik karena sudah menjadi tanggung jawabnya melindungi. Negara Indonesia secara konstitusional menjamin kesejahteraan rakyat berdasarkan UUD 1945 Pasal 33 dan 34, yang mengamanatkan pengelolaan kekayaan alam untuk kemakmuran rakyat serta pemeliharaan fakir miskin dan anak terlantar oleh negara.

 

Kolektivitas Kedermawanan Negara dan Masyarakat 

“Yang harus menjadi kesadaran kita secara kolektif bahwa kerja itu adalah ibadah. Itu harus menjadi satu kesadaran, tidak hanya kesadaran intelektual, tapi juga kesadaran spiritual,” tutur anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Ruslan Fariadi, muhammadiyah.or.id 2021. Peran negara secara kolektiv berada di mana ? Negara hadir di saat kebijakan-kebijakan yang di keluarkan dapat memberikan kebermanfaatan untuk masyarakatnya dan sudah barang tentu meski adanya kolaborasi dengan seluruh pemangku  kepentingan untuk dapat menuntaskannya. Saya menyebutnya kolektivitas kedermawanan negara dan masyarakat. Mendorong lapangan pekerjaan, memberikan layanan pendidikan gratis, layanan kesehatan gratis (BPJS) guna menekan problematika sosial, merupakan bentuk dari kedermawanan negara memperhatikan masyarakatnya. 

Konteks tobat woy dari sinetron para pencari tuhan jilid 19 ada sosok pa haji jalal tokoh masyarakat yang memiliki kekayaan yang berlebih dan di kenal senang membantu, apalagi jika sudah berhubungan dengan bang jack seorang ustadz tokoh utama dalam PPT.  Dengan demikian kalangan masyarakat yang memiliki usaha yang lebih, mesti mampu membantu peran pemerintah dalam menekan angka pengangguran dan kemisikinan yang berimplikasi terhadap kriminalitas. Kontek berbagi bukan hanya memberikan makan secara gratis, namun juga mampu memberikan kail agar masyarakat kita tidak terlena dengan bantuan-bantuan sosial yang di berikan oleh negara.

Untuk itu peran penting dari ulama dan umara serta kalangan masyarakat pengusaha dapat memberikan dampak yang positif guna menyelesaikan problematika sosial yang terjadi. Dengan membangun kolektivitas kedermawanan dengan tujuan memajukan kesejahteraan masyarakat melalui pembukaan lapangan pekerjaan dan pengembangan Usaha Mikro, kecil menengah (UMKM). Negara harus hadir dalam kolektivitas kedermawanan antara negara dan masyarakatnya yang di peruntukan untuk kemajuan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.