TangerangNews.com

Atlet Pengidap Asma Tetap Bisa Berprestasi, Ini Kuncinya Menurut Dokter

Fahrul Dwi Putra | Sabtu, 28 Februari 2026 | 07:14 | Dibaca : 28


Ilustrasi penanganan asma. (@TangerangNews / Istimewa)


TANGERANGNEWS.com- Latihan fisik merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan atlet. Namun bagi yang memiliki asma, aktivitas dengan intensitas tinggi dapat memicu gangguan pernapasan yang berdampak langsung pada performa.

Dokter spesialis paru di Bethsaida Hospital Serang dr. Rifian Arnanda, Sp.P menjelaskan, asma adalah peradangan kronis pada saluran napas yang perlu dikenali dan dikendalikan sejak dini, terutama pada individu yang aktif berolahraga.

"Asma merupakan penyakit inflamasi kronis pada saluran pernapasan yang memengaruhi banyak orang di seluruh dunia. Meskipun asma tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, gejalanya dapat dikendalikan dengan pengobatan yang tepat," ungkap dr. Rifian.

Dalam olahraga, dikenal istilah exercise-induced asthma (EIA), yakni gejala asma yang muncul setelah aktivitas fisik. 

Definisi ini merujuk pada panduan dari European Respiratory Society dan European Academy of Allergy and Clinical Immunology yang berkolaborasi dengan Global Allergy and Asthma Excellence Network.

Saat berolahraga berat, saluran napas dapat mengalami pengeringan akibat peningkatan aliran udara. 

Kondisi tersebut berisiko menurunkan fungsi paru, yang ditandai dengan turunnya nilai FEV1. Respons penyempitan saluran napas setelah latihan ini dikenal sebagai exercise-induced bronchoconstriction (EIB).

Menurut dr. Rifian, pemeriksaan atau skrining menjadi langkah penting, khususnya bagi atlet muda yang sedang membangun karier.

Tidak sedikit atlet yang enggan mengungkapkan riwayat asmanya karena khawatir memengaruhi peluang bertanding. 

Padahal, keterbukaan justru memudahkan penyusunan strategi latihan dan terapi yang aman.

Lanjutnya, sinergi antara atlet, pelatih, dan tenaga medis, target pengobatan selaras dengan kebutuhan performa bukan hal yang tidak mungkin. 

Dengan pengendalian yang baik, asma tidak menghalangi seseorang mencapai level kompetisi tertinggi.

Beberapa atlet dunia seperti David Beckham, Dennis Rodman, dan Paula Radcliffe menjadi contoh bahwa kondisi tersebut tetap memungkinkan pencapaian prestasi.

Rekomendasi dari Global Initiative for Asthma menyarankan penggunaan inhalasi kortikosteroid (ICS) sebagai terapi pengontrol pada remaja dan dewasa muda untuk mencegah kekambuhan.

Konsultasi rutin dengan dokter paru juga diperlukan guna menyusun rencana aksi asma yang terukur.

Direktur Bethsaida Hospital Serang dr. Tirta Mulya menambahkan, Bethsaida Hospital Serang berkomitmen dalam memberikan pendampingan menyeluruh bagi pasien dengan gangguan pernapasan, termasuk atlet.

"Mengelola asma dengan tepat adalah kunci bagi atlet untuk tetap berprestasi tanpa batasan. Di Bethsaida Hospital Serang, kami selalu berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik dan penanganan yang holistik bagi para pasien, termasuk atlet yang ingin mengoptimalkan performa mereka," ujarnya.

Adapun fasilitas Klinik Paru di Bethsaida Hospital Serang didukung perangkat diagnostik seperti X-ray, bronkoskopi, CT scan, dan spirometri, serta tim dokter spesialis berpengalaman guna memastikan penanganan yang terpadu dan sesuai kebutuhan pasien.