TANGERANGNEWS.com-Menjalankan ibadah puasa bagi penderita diabetes (diabetesi) memerlukan perhatian khusus agar kadar gula darah tetap stabil dan terhindar dari risiko komplikasi.
Prof. dr. Hari Hendarto, Sp. P.D, Subsp. E.M.D. (K), Ph.D, MARSS, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrin Metabolik Diabetes Eka Hospital BSD menjelaskan, secara medis, mayoritas penyandang diabetes tipe 2 yang gula darahnya terkontrol dengan baik diperbolehkan berpuasa.
Namun, keputusan ini harus berdasarkan anjuran dan pantauan dokter
"Pasien dengan risiko sangat tinggi, seperti penyandang diabetes tipe 1 dengan gula darah tidak tidak terkontrol, pasien dengan gagal ginjal, atau yang sedang hamil, memerlukan penilaian khusus dari dokter. Pastikan Anda telah melakukan check-up setidaknya 2-4 minggu sebelum Ramadan dimulai," ujarnya, Rabu 4 Maret 2026.
Manfaat Puasa bagi Kesehatan Diabetesi
Menurut Prof. Hari, jika dijalankan dengan pola yang benar, puasa memberikan dampak positif bagi sistem hormonal.
Ia juga membeberkan sejumlah mafaat yang didapat, seperti seperti meningkatkan sensitivitas insulin karena puasa membantu sel-sel tubuh menjadi lebih peka terhadap insulin, sehingga gula darah lebih mudah dikelola.
Lalu, penurunan berat badan yang sehat selama puasa akan mengurangi lemak visceral yang menjadi musuh utama diabetesi. Dengan pola makan yang terjaga, puasa juga dapat memperbaiki rata-rata kadar gula darah (HbA1c) secara bertahap.
"Manfaat lainnya, puasa membantu menurunkan tekanan darah dan memperbaiki profil kolesterol, mengurangi risiko komplikasi kardiovaskular," terangnya.
Tips Berpuasa
Bagi pasien diabetes yang hendak menjalankan puasa, Prof. Hari membagikan sejumlah tips krusial agar tetap aman dan lancar.
1. Konsultasi Medis adalah Wajib
Sebelum memasuki bulan puasa, penderita diabetes sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter. Hal ini penting untuk mengevaluasi apakah kondisi fisik pasien memungkinkan untuk berpuasa dan apakah perlu ada penyesuaian dosis serta jadwal konsumsi obat atau suntikan insulin.
2. Pantau Gula Darah Secara Mandiri
Selama berpuasa, pemeriksaan kadar gula darah mandiri harus dilakukan lebih sering, terutama saat merasakan gejala tidak nyaman.
"Jika kadar gula darah terlalu rendah (hipoglikemia) atau terlalu tinggi (hiperglikemia) secara ekstrem, pasien disarankan untuk segera membatalkan puasa demi keselamatan jiwa," jelasnya.
3. Strategi Pola Makan Saat Sahur dan Berbuka
Prof. Hari menekankan pentingnya komposisi nutrisi yang tepat. saat Sahur pilihlah karbohidrat kompleks, seperti gandum atau nasi merah, yang melepaskan energi secara perlahan, sehingga rasa kenyang bertahan lebih lama dan gula darah lebih stabil. Akhirkan waktu sahur mendekati waktu imsak.
"Sedangkan saat berbuka hindari langsung mengonsumsi makanan yang terlalu manis secara berlebihan. Segerakan berbuka dengan porsi yang terkontrol untuk menghindari lonjakan gula darah yang drastis," ujar Prof. Hari.
4. Jaga Hidrasi Tubuh
Minum air putih yang cukup antara waktu berbuka hingga sahur sangat penting untuk mencegah dehidrasi. Gunakan pola 2-4-2, yakni 2 gelas saat berbuka, 4 gelas sepanjang malam, dan 2 gelas saat sahur, untuk mencegah dehidrasi yang bisa memperburuk kondisi ginjal.
"Lalu, harus untuk membatasi minuman berkafein seperti kopi atau teh yang bersifat diuretik atau memicu buang air kecil lebih sering," kata Prof. Hari.
5. Tetap Beraktivitas Fisik Ringan
Puasa bukan berarti berhenti bergerak. Prof. Hari menyarankan aktivitas fisik ringan hingga sedang, seperti berjalan santai, namun sebaiknya dilakukan beberapa saat setelah berbuka puasa untuk menghindari risiko hipoglikemia di siang hari.
"Dengan persiapan yang matang dan disiplin dalam memantau kondisi tubuh, penderita diabetes tetap dapat menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk tanpa mengabaikan kesehatan," ungkapnya.
Kapan Harus Membatalkan Puasa?
Prof. Hari juga mengingatkan diabetisi untuk waspada terhadap gejala hipoglikemia (gula darah terlalu rendah) atau hiperglikemia (gula darah terlalu tinggi).
Jika gula darah berada di bawah 70 mg/dL atau melonjak di atas 300 mg/dL, serta muncul gejala seperti lemas yang ekstrem, keringat dingin, gemetar, atau pusing, sangat disarankan untuk segera membatalkan puasa demi keselamatan jiwa.
"Ibadah puasa bagi diabetisi adalah tentang keseimbangan antara ketaatan spiritual dan penjagaan kesehatan. Dengan pengawasan medis yang tepat dan kedisiplinan dalam pola makan serta pengobatan, diabetes bukanlah halangan untuk meraih keberkahan Ramadan," tutup Prof. Hari.