TANGERANGNEWS.com- Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyatakan untuk mundur dari keanggotaan Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) apabila keberadaan Indonesia di forum tersebut tidak memberikan manfaat bagi perjuangan kemerdekaan Palestina.
Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Ukhuwah Cholil Nafis usai bertemu dengan Prabowo di Istana Kepresidenan Jakarta pada Kamis, 5 Maret 2026, malam.
"Janjinya kalau memang saya tidak bermanfaat di BoP, saya akan mundur," kata Cholil dikutip dari CNN Indonesia, Jumat, 6 Maret 2026.
Menurut Cholil, Prabowo menegaskan bahwa langkah Indonesia di forum internasional tersebut sepenuhnya didorong oleh komitmen untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Ia menyebut sikap Indonesia terhadap isu Palestina sudah jelas dan tidak akan berubah.
"Kalau tidak untuk kepentingan Palestina, maka dia akan mundur," ujarnya.
Pernyataan serupa sebelumnya juga pernah disampaikan Cholil setelah pertemuannya dengan Prabowo di Istana Kepresidenan pada 3 Februari 2026 lalu.
Sementara itu, Sekretaris Majelis Syuro Front Persaudaraan Islam (FPI) Muhammad Hanif Alatas mengungkapkan dirinya turut menyampaikan surat dari Rizieq Shihab kepada Presiden Prabowo terkait sikap Indonesia terhadap Palestina.
Hanif mengatakan isi surat tersebut pada pokoknya meminta Indonesia untuk menarik diri dari keanggotaan Board of Peace.
Meski demikian, ia menyatakan tidak meragukan niat Prabowo dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
"Nabi-nabi saja, para Rasul saja dikhianati oleh Israel, apalagi cuman kita manusia biasa," kata Hanif.
Menurutnya, Prabowo juga menyampaikan kesiapannya untuk keluar dari forum tersebut jika dinilai tidak lagi sejalan dengan upaya memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
"Pernyataannya seperti itu. Tapi kita tetap enggak perlu nunggu itu, dari sekarang aja, orang udah terbukti kok Amerika dari dulu nggak bisa dipercaya," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Hanif juga menyampaikan pesan dari Rizieq Shihab agar Presiden Prabowo secara langsung menyampaikan belasungkawa atas gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Ia menilai Iran merupakan negara sahabat Indonesia dan membutuhkan dukungan setelah menjadi sasaran serangan militer dari Israel dan Amerika Serikat.
"Kita minta Presiden jangan hanya mengutus Menteri Luar Negeri untuk menyampaikan belasungkawa, tapi kita minta supaya Presiden sampaikan belasungkawa secara terbuka. Karena bagaimanapun negara sahabat, negara sahabat. Ya jadi dan kita kira Iran butuh didukung dalam hal membela kedaulatannya," ucapnya.
Keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace disorot setelah terjadinya serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Serangan tersebut juga memicu eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah setelah Iran melakukan serangan balasan yang menargetkan Israel dan sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah tersebut.