TangerangNews.com

Ketika Perbaikan Jalan Tak Pernah Benar-Benar Selesai

Rangga Agung Zuliansyah | Rabu, 11 Maret 2026 | 23:50 | Dibaca : 37


Rama Bagas Fikriyana, Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Yuppentek Indonesia. (@TangerangNews / Rangga Agung Zuliansyah)


Oleh: Rama Bagas Fikriyana, Mahasiswa Universitas Yuppentek Indonesia, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

 

TANGERANGNEWS.com-Jalanan yang rusak di wilayah Kota dan Kabupaten Tangerang sering terasa seperti masalah yang tidak pernah benar benar selesai. Bahkan anehnya, kerusakan itu biasanya muncul hanya di titik tertentu di ruas jalan yang berlubang. Belum lama diperbaiki, tiba-tiba muncul lagi lubang baru di lokasi berbeda seperti kerusakannya hanya pindah tempat, bukan benar-benar hilang.

Bagi pengguna jalan, kondisi ini bukan cuma membingungkan, tapi juga melelahkan. Hari ini satu titik sudah ditambal, besok muncul lubang lain beberapa meter dari sana. Dan akhirnya pengendara mengurangi kecepatan bukan semata karena aturan lalu lintas, melainkan karena harus menghafal titik-titik berbahaya di jalan yang sama setiap hari. Jalan yang seharusnya mempermudah mobilitas malah berubah jadi ruang penuh antisipasi.

Kerusakan yang muncul di titik titik tertentu ini sebenarnya memberi sinyal bahwa masalahnya lebih dalam dari sekedar aspal berlubang. Muncul pertanyaan soal kualitas perbaikan dan pola perawatan jalan, apakah perbaikannya hanya sementara? apakah drainase kurang berfungsi? atau memang pemeliharaan lebih fokus pada tambal cepat daripada solusi jangka panjang?

Sering kali perbaikan terlihat reaktif seperti lubang muncul, lalu ditambal, dan dianggap selesai. Padahal kalo penyebab utamanya seperti genangan air, beban kendaraan berat, atau kualitas material tidak ikut ditangani pasti kerusakan baru sering muncul kembali. Akibatnya, masyarakat melihat pola yang berulang seperti rusak, diperbaiki, lalu rusak kembali.

Menariknya, kerusakan ini jarang terjadi merata. Hanya beberapa titik yang rusak parah sementara bagian lain tetap mulus. Justru kondisi seperti ini membuat pengendara sering lengah. Saat jalan terlihat baik baik saja, tiba tiba ada lubang tanpa peringatan dan risiko kecelakaan pun meningkat karena kondisi jalan yang tidak konsisten.

Dari sudut pandang masyarakat, muncul kesan bahwa perhatian terhadap infrastruktur masih bersifat insidental, bukan pencegahan sejak awal. Perbaikan biasanya dilakukan setelah kerusakan terlihat parah atau keluhan warga mulai ramai. Padahal idealnya, pemeliharaan dilakukan sebelum jalan berubah menjadi sumber bahaya.

Kemunculan lubang baru setelah perbaikan lama juga perlahan memengaruhi kepercayaan publik. Warga mulai bertanya apakah anggaran perbaikan benar benar menghasilkan kualitas yang tahan lama. Ketika kerusakan terus muncul di titik baru, kesannya masalah hanya dipindahkan, bukan diselesaikan.

Di sisi lain, memang harus diakui bahwa wilayah Tangerang baik kota maupun kabupaten memiliki mobilitas yang sangat tinggi. Pertumbuhan kendaraan, aktivitas logistik, dan pembangunan yang cepat memberi tekanan besar pada kondisi jalan. Tanpa sistem pemeliharaan yang konsisten dan berkelanjutan, kerusakan memang mudah terjadi. Jadi persoalannya bukan sekedar ada atau tidaknya perbaikan, tetapi bagaimana perbaikan itu dirancang supaya tidak terus berulang.

Pada akhirnya, jalan rusak di satu titik mungkin terlihat sebagai masalah kecil. Tapi ketika titik titik itu terus muncul dan berganti itu menjadi gambaran yang lebih besar tentang bagaimana infrastruktur dikelola. Jalan bukan hanya soal aspal, melainkan soal rasa aman dan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan publik.

Selama jalan rusak terus muncul di titik titik baru, masyarakat akan tetap berkendara dengan kewaspadaan berlebih. Dan selama perbaikan masih terasa sementara, jalanan di Tangerang akan terus menjadi pengingat bahwa pembangunan bukan hanya soal membangun atau menambal, tetapi memastikan sesuatu benar benar selesai bukan sekedar diperbaiki untuk sementara.