TangerangNews.com

Kisah Veri, Kayuh Sepeda Sendiri Mudik dari Serpong ke Palembang

Fahrul Dwi Putra | Kamis, 19 Maret 2026 | 10:44 | Dibaca : 65


Veri, pria berusia 50 tahun melakukan perjalanan mudik dari Serpong, Tangsel menuju ke kampung halamannya di Palembang menggunakan sepeda. (CNN Indonesia / Yogi Anugrah)


TANGERANGNEWS.com- Di tengah padatnya arus mudik Lebaran 2026 di Pelabuhan Ciwandan, ada satu pemandangan yang tidak biasa. Sebuah sepeda hitam dengan sleeping bag dan tenda terikat rapi di bagian belakang melaju pelan menuju area pelabuhan. 

Sepeda itu dikayuh Veri, 50, pemudik asal Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel) yang memilih pulang kampung ke Palembang dengan cara yang tak biasa, yakni seorang diri menggunakan sepeda.

Veri memulai perjalanannya dari rumah sekitar pukul 09.00 WIB pada Selasa, 17 Maret 2026. Ia menempuh perjalanan menuju Pelabuhan Ciwandan sambil menghadapi cuaca panas yang menyengat sepanjang jalan.

"Jalan santai tadi, panasnya minta ampun," ujar Veri dikutip dari CNN Indonesia, Kamis, 19 Maret 2026.

Awalnya, Veri mengaku sempat menjalankan puasa saat mulai berangkat. Namun, karena kondisi fisik yang cukup terkuras akibat perjalanan jauh di bawah terik matahari, ia akhirnya memutuskan membatalkan puasa demi menjaga stamina.

Sekitar pukul 21.00 WIB, ia tiba di pelabuhan. Kedatangannya sengaja disesuaikan dengan jadwal kapal yang akan berangkat sekitar tengah malam. 

Ia berharap bisa memanfaatkan waktu di atas kapal untuk beristirahat sebelum kembali melanjutkan kayuhan panjang menuju kampung halamannya di Palembang.

Bagi Veri, mudik menggunakan sepeda bukan pengalaman pertama. Sejak 2018, ia sudah terbiasa menempuh perjalanan pulang-pergi dengan sepeda, termasuk melintasi jalur penyeberangan ke Sumatera. 

Hanya pada tahun lalu ia tidak sepenuhnya menjalani perjalanan penuh dengan sepeda.

"Tahun kemarin pulangnya dari Palembang yang pakai sepeda," katanya.

Pengalaman bertahun-tahun membuat Veri sudah hafal cara mengatur perjalanan. Ia biasa beristirahat saat sore menjelang malam, lalu mencari tempat aman untuk mendirikan tenda. Area posko mudik atau sekitar masjid menjadi tempat yang kerap ia pilih untuk bermalam.

"Sore ke malam, kalau ketemu masjid atau posko biasanya izin, bikin tenda di luar," ujarnya.

Ia juga punya prinsip sendiri selama di perjalanan. Veri menghindari melintasi jalanan gelap atau kawasan yang sepi dan dikelilingi hutan saat malam hari. 

Baginya, keselamatan tetap menjadi hal utama selama menempuh perjalanan jauh seorang diri.

Perjalanan mudik dengan sepeda tentu bukan hal yang mudah. Cuaca panas, tubuh yang lelah, hingga perjalanan panjang tanpa teman menjadi bagian dari rutinitas yang harus ia hadapi. 

Bagi Veri, sepeda kesayangannya itu sudah menjadi teman perjalanan yang selalu menemaninya.

"Hobi sepeda, satu-satunya hiburan cuma sepeda," katanya.

Veri menargetkan bisa tiba di Palembang tepat waktu agar tetap dapat merayakan malam takbiran dan Idulfitri bersama keluarga.

"Ini nanti sampai waktu malam takbiran (20 Maret)," ujarnya.

Di sisi lain, suasana Pelabuhan Ciwandan pada malam itu memang terus dipadati pemudik, khususnya pengendara roda dua. 

Deretan sepeda motor dengan barang bawaan besar terlihat memenuhi jalur antrean menuju kapal.

Arus pemudik roda dua juga terus mengalir hingga Rabu, 18 Maret 2026, dini hari. Berdasarkan data resmi, jumlah penumpang yang menyeberang melalui Pelabuhan Ciwandan pada Selasa, 17 Maret 2026, mencapai 15.008 orang, dengan 8.928 unit kendaraan roda dua.

Sementara hingga Rabu dini hari, tercatat tambahan 3.944 penumpang dan 2.644 sepeda motor yang sudah menyeberang.