TANGERANGNEWS.com-Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat turut memberikan pengaruh pada banyak sektor seperti Bahan Bakar Minyak (BBM) serta komoditas kebutuhan pokok.
Berdasarkan data Bloomberg, saat pembukaan perdagangan di pasar spot exchange pada Kamis, 11 Juni 2026, nilai tukar rupiah terhadap Dollar AS sempat menguat sebesar 0,01 persen di posisi Rp17.930/US$.
Namun, pada pukul 07.20 WIB, nilai Rupiah kembali melemah sebesar 0,15 persen ke level Rp17.955/US$.
Salah seorang pedagang sembako di Pasar Gudang Tigaraksa Kabupaten Tangerang, Sukandi mengatakan, omzetnya mengalami penurunan sebesar 20 persen akibat melemahnya nilai tukar Rupiah.
Pasalnya, depresiasi Rupiah ini menyebabkan kenaikan harga pada sejumlah kebutuhan bahan pokok meliputi sagu dari yang sebelumnya Rp10 ribu per kilogram menjadi Rp15 ribu, kacang tanah dari Rp32 ribu per Kilogram jadi Rp35 ribu.
Kacang kedelai turut mengalami kenaikan menjadi Rp15 ribu per kilogram dari yang semula Rp13 ribu.
"Omzet sekarang berkurang sekitar 20 persen," ujar Sukandi.
Sementara harga pada komoditas minyak masih stabil, sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET).
Ia menjelaskan, inflasi menyebabkan naiknya komoditas kebutuhan pokok tersebut. Pasalnya, sejumlah kebutuhan pokok yang mengalami kenaikan seperti kacang kedelai, merupakan produk impor yang mengakibatkan biaya menjadi membengkak.
"Sangat berpengaruh lah, terutama kacang kedelai kan impor, transportnya juga menjadi lebih mahal," jelasnya.
Ia berharap, pemerintah dapat mengintervensi kenaikan harga pada komoditas kebutuhan pokok ini.
"Kalau pemerintah mau naikin harga, diperkirakan dengan daya beli masyarakat, kalau begitu kami jadi tidak khawatir misalkan ada kenaikan harga juga," tutu Sukandi.