TangerangNews.com

AI dan Medsos Picu Trafik Situs Berita Anjlok hingga 70 Persen

Rangga Agung Zuliansyah | Selasa, 28 Juli 2026 | 19:15 | Dibaca : 73


Ilustrasi seorang wanita mencari berita ringkas lewat AI dan media sosial. (Gambar dibuat dengan AI) (Gemini AI / Rangga Agung Zuliansyah)


TANGERANGNEWS.com-Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) dan pergeseran pola konsumsi informasi ke media sosial (medsos) menjadi tantangan berat bagi industri media digital global maupun nasional.

Kehadiran fitur AI generatif membuat publik kini cenderung langsung mendapatkan jawaban tanpa harus mengunjungi situs web berita.

Hal tersebut disampaikan oleh CEO Tempo Digital sekaligus Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wahyu Dhyatmika, dalam acara Workshop Penguatan Kompetensi Media Digital yang digelar Indonesia Social Media Network (ISMN) bersama Bank OCBC dan Tempo Institute di Ballroom OCBC BSD, Senin 27 Juli 2026.

Wahyu memaparkan temuan riset terbaru AMSI yang mencatat penurunan drastis kunjungan ke situs-situs berita dalam kurun waktu satu tahun terakhir.

"Salah satu temuan utamanya menunjukkan bahwa dalam satu tahun terakhir kunjungan ke situs berita turun sekitar 40–70 persen di hampir seluruh media," ungkapnya.

 

Fenomena Homeless Media

Pergeseran distribusi informasi yang kini berpusat di media sosial turut memunculkan perdebatan mengenai sebutan yang tepat bagi para penerbit informasi berbasis platform digital tersebut.

Berbagai istilah mulai bermunculan, mulai dari new media, homeless media, hingga news creator.

Menurut Wahyu, meski esensi kelompok tersebut sudah dipahami, industri hingga kini belum memiliki kesepakatan mengenai label yang paling akurat untuk menggambarkan peran mereka dalam ekosistem informasi modern.

"Karena itu, saya berharap setelah forum ini, teman-teman dari Indonesia Social Media Network bersama berbagai asosiasi yang bergerak di bidang media dapat duduk bersama untuk merumuskan konsep dan istilah yang lebih tepat," ujar dia.

Di tengah derasnya arus konten viral, Wahyu menegaskan bahwa kredibilitas tetap menjadi aset utama.

Kapasitas pengelola media digital harus terus ditingkatkan guna memperkuat integritas dan membangun kepercayaan publik melalui praktik penyebaran informasi yang bertanggung jawab.

 

Tantangan Saring Informasi

Senada dengan hal tersebut, Assisted Channel and Services Head OCBC Rudi Hamdani menyoroti tantangan masyarakat di era digital saat ini yang bukan lagi soal kesulitan mengakses informasi, melainkan memverifikasi kebenarannya.

Kehadiran influencer atau penyebar informasi mandiri di media sosial kerap menimbulkan celah penyebaran hoaks yang berpotensi memicu kepanikan, termasuk dalam sektor finansial.

Sementara itu Founder ISMN Arif Budianto mengapresiasi kolaborasi lintas sektor bersama Bank OCBC dan Tempo Institute ini.

Pelatihan yang diikuti 50 peserta dari pengelola media digital, content creator, dan komunitas media ini diharapkan mampu mendongkrak kapasitas pengelola new media.

"Diharapakan meningkatkan kemampuan dari sisi produksi konten kreatif, literasi keuangan digital, verifikasi informasi, hingga upaya bersama menangkal hoaks di ruang digital," katanya.