TangerangNews.com

Peritel Makin Selektif Pilih Lokasi Usaha, Summarecon Serpong Perkuat Ekosistem Kawasan

Rangga Agung Zuliansyah | Kamis, 30 Juli 2026 | 19:54 | Dibaca : 63


Strozzi Commercial di koridor Symphonia Boulevard, Gading Serpong, Tangerang, dipasarkan dengan harga mulai sekitar Rp4 miliar. (@TangerangNews / Rangga Agung Zuliansyah)


TANGERANGNEWS.com-Besarnya arus kendaraan di suatu kawasan dinilai tidak lagi menjadi satu-satunya tolok ukur utama bagi pelaku usaha ritel dalam menentukan lokasi ekspansi bisnis.

Saat ini, keberadaan penghuni, fasilitas pendidikan, ruang publik, hingga keragaman aktivitas harian dianggap jauh lebih mencerminkan kemampuan suatu wilayah dalam menciptakan kunjungan yang stabil dan berkualitas.

Perubahan orientasi ini sejalan dengan transformasi industri ritel yang semakin mengarah pada penyediaan pengalaman dan interaksi sosial.

Kepala Research Services Colliers Indonesia Ferry Salanto memaparkan pusat perbelanjaan dan kawasan komersial kini memperkuat perannya sebagai destinasi gaya hidup, melalui kurasi penyewa yang ketat serta penyediaan ruang sosial.

"Mal-mal ini semakin berperan sebagai pusat gaya hidup, dengan kurasi penyewa yang kuat, penyelenggaraan acara, serta ruang sosial yang tidak dapat tergantikan oleh platform online," ujarnya, dikutip Kamis 30 Juli 2026.

Berdasarkan data Colliers pada kuartal I 2026, tingkat kekosongan pusat perbelanjaan premium di Jakarta berada di angka 4,2%, antara lain dipicu oleh penutupan salah satu department store utama di Mal Kelapa Gading 1.

Kendati demikian, aktivitas penyewaan tetap bergeliat, terutama didorong oleh sektor makanan dan minuman (F&B) serta merek-merek ritel mewah internasional yang terus berekspansi melalui kemitraan dengan peritel lokal.

Terbatasnya pasokan mal premium baru turut menopang kenaikan tarif sewa rata-rata sebesar 1,09% secara kuartalan pada awal tahun 2026.

"Kondisi tersebut mendorong pelaku usaha untuk lebih selektif dalam memilih lokasi serta menerapkan format gerai alternatif guna menjaga efisiensi operasional," ujar Ferry Salanto.

 

Penguatan Ekosistem Kawasan di Serpong CBD

Tren pergeseran kebutuhan lokasi usaha ini tercermin dalam pengembangan kawasan terintegrasi Serpong CBD oleh Summarecon Serpong.

Saat ini, kawasan tersebut telah dihuni lebih dari 12.000 keluarga dan didukung sekitar 2.000 unit rumah toko atau ruko. Aktivitas harian masyarakat turut ditopang oleh keberadaan Summarecon Mall Serpong, SQP Hub, SQP Park, serta sejumlah fasilitas lain yang membentuk pergerakan kawasan sejak pagi hingga malam hari.

Executive Director Summarecon Serpong Albert Luhur menyatakan bahwa pelaku usaha saat ini menaruh perhatian besar pada dinamika aktivitas yang hidup di dalam suatu kawasan.

"Sekarang pelaku usaha bukan cuma melihat apakah lokasinya strategis atau tidak. Mereka juga ingin tahu, apakah kawasannya memang hidup, apakah ada aktivitas yang terus bergerak setiap hari," katanya.

Sebagai bagian dari penguatan ekosistem tersebut, Summarecon Serpong bersiap meluncurkan Strozzi Commercial di koridor Symphonia Boulevard dengan harga mulai sekitar Rp4 miliar.

Strozzi Commercial akan dipasarkan dalam dua pilihan ukuran, yakni 5 x 16 meter dan 7 x 16 meter. Unit-unit tersebut ditujukan bagi beragam jenis usaha, mulai dari F&B, ritel, wellness, hingga layanan profesional.

Setiap unit dilengkapi mezzanine serta didukung jalan dengan right of way atau ROW selebar 36 meter dan 32 meter. Kawasan ini juga mengusung konsep double-layer parking guna meningkatkan kapasitas parkir bagi tenant maupun pengunjung.

Kawasan komersial ini juga berada dalam satu jalur dengan proyek lakeside retail neighborhood The Hood yang dijadwalkan beroperasi pada Desember 2026, serta didukung oleh operasional Sekolah Ekayana Genta Bangsa mulai Juli 2026.

Kehadiran fasilitas pendidikan, pusat pengisian daya kendaraan listrik (electric vehicle charging station), serta fasilitas komersial penunjang lainnya diproyeksikan mampu membentuk pola kunjungan harian yang berkelanjutan.

Dengan model pengembangan kawasan yang memadukan berbagai aktivitas tersebut, keberlanjutan bisnis ritel dinilai semakin bergantung pada relevansi pengunjung dan konsistensi ekosistem di sekitarnya.