TangerangNews.com

Aktivis Virdian Aurellio Beberkan Carut Marut Banten: Dari Dinasti Politik, Korupsi hingga Infrastruktur Buruk

Rangga Agung Zuliansyah | Rabu, 5 Agustus 2026 | 07:00 | Dibaca : 39


Aktivis dan konten kreator Virdian Aurellio mengkritik bobroknya pemerintah daerah di Banten. (@TangerangNews / Istimewa)


TANGERANGNEWS.com-Aktivis sekaligus konten kreator muda, Virdian Aurellio menyoroti berbagai persoalan yang melanda Provinsi Banten.

Melalui video yang diunggah di Instagram pribadinya dengan tagar #LawanButaPolitik, ia mengungkapkan kontradiksi besar antara keindahan alam serta sejarah Banten, dengan kondisi tata kelola pemerintahannya yang carut-marut.

Virdian mengaku memiliki kecintaan mendalam terhadap sejarah dan alam Banten yang merupakan tempat kelahiranya, namun merasa sangat kecewa dengan kepemimpinan pemerintah daerah yang dinilainya tidak pro-rakyat.

"Sebagai orang Banten asli lahir di Serang, pulang kampung ke Labuan, gue bangga banget dengan Banten dengan seluruh sejarahnya, dengan seluruh alamnya. Tapi gue tidak pernah bangga dengan pemerintahannya, gue enggak pernah cinta sama pemerintahannya," katanya dikutip Rabu 5 Agustus 2026.

Dalam pernyataannya, Virdian membedah empat masalah utama yang menjadi sorotan di Provinsi Banten.

 

  1.   Politik Dinasti

Virdian menyoroti budaya politik dinasti di Banten yang telah mencengkeram hingga tingkat kabupaten dan kota. Menurutnya, kondisi ini membuat generasi muda di Banten menjadi enggan berkontibusi karena sistem dinasti yang sudah menggurita.

"Yang pertama lo liat di Banten pasti dinasti. Ganti rezim, dinasti. Dinastinya sampai kabupaten kota, membuat kita yang muda-muda jadi malas ngasih kontribusi politik, dinastinya gila-gilaan," tegasnya.

 

  2.   Alokasi APBD yang Tidak Proporsional

Dengan APBD Banten mencapai 10 triliun, Virdian mengungkapkan bahwa Rp7 triliun di antaranya habis untuk belanja operasional.

Ironisnya, anggaran untuk infrastruktur, hanya dialokasikan sekitar Rp900 miliar lebih. Padahal masih banyak jalan rusak di Banten. Hal itu yang membuat Banten sangat timpang dengan Jakarta yang hanya berjarak beberapa jam saja.

"Lu bayangin ya Banten sama Jakarta jarak paling cuma 2 jam, 3 jam, tapi ketimbangannya gila banget, udah kayak lu lagi ke pulau lain gitu," tambahnya.

 

  3.   Maraknya Korupsi

Virdian juga menyinggung masalah korupsi yang masif hingga memperparah situasi. Sebagai contoh nyata kekacauan sistemik ini, Virdian membeberkan data kontras di Kota Cilegon di mana pendapatan sektor industrinya bisa menembus lebih dari Rp10 triliun, namun Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang masuk hanya Rp1 triliun.

 

  4.   Ketimpangan Infrastruktur

Selain itu, Virdian juga menyoroti ketimpangan infrastruktur di Banten antara wilayah yang dibangun developer swasta dengan yang dikelola pemda.

Sejumlah masalah yang kerap muncul akibat buruknya tata kelola pemda seperti maraknya pungutan liar (pungli), menjamurnya pariwisata ilegal, hingga kerusakan lingkungan yang merugikan warga lokal.

"Pasti orang Tangsel akan malas manggap dirinya orang Banten kan? Karena kalau ada developer jadinya sangat-sangat mewah, ketika dikelola pemerintahnya jadinya banyak pungli, banyak bahkan pariwisata yang tidak berizin, lingkungan yang bahkan juga akhirnya rusak," tegasnya.

Kendati merasa muak dengan kondisi provinsi saat ini, Virdian mengajak seluruh pemuda Banten untuk tidak menyerah. Ia optimis Banten dapat direbut dan diubah bersama-sama ke arah yang lebih baik demi masa depan masyarakat Banten.

"Tunggu gue jadi Gubernur Banten ya, kita ubah bareng-berang, kita ambil Banten ini yang bagus ini menjadi milik kita," tutupnya dengan kelakar.