TangerangNews.com

Travel Umrah Berkedok MLM di Tangsel Diduga Tipu Jemaah, Korban Rugi Rp512 Juta

Fahrul Dwi Putra | Rabu, 26 Agustus 2026 | 14:07 | Dibaca : 61


Ilustrasi jemaah umrah di Terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta. (@TangerangNews / Rangga Agung Zuliansyah)


TANGERANGNEWS.com— Dugaan penipuan perjalanan umrah dilaporkan ke Polres Tangerang Selatan setelah sejumlah jemaah gagal berangkat ke Tanah Suci. Salah satu korban, Dendy Pradana, melaporkan perusahaan agen travel pada Senin 24 Agustus 2026.

Dendy datang ke kepolisian setelah upaya penyelesaian secara kekeluargaan tidak menghasilkan pengembalian uang yang telah dibayarkan. 

“Total dari kami dan kawan-kawan nominalnya sekitar Rp 512 juta. Itu baru dari kami,” ujar Dendy dikutip dari Kompas.com, Rabu 26 Agustus 2026.

Dijelaskan Dendy, terdapat 14 orang dalam rombongannya yang menjadi korban. Sementara berdasarkan informasi yang diterimanya dari pihak travel, jumlah jemaah yang terdampak diperkirakan mencapai 90 orang.

Sebelum membawa perkara tersebut ke kepolisian, para korban sempat berupaya menyelesaikannya melalui musyawarah. 

Namun, sampai laporan dibuat, uang yang telah disetorkan belum dikembalikan.

“Kami sebenarnya sebelum melakukan pelaporan sudah melakukan musyawarah secara kekeluargaan. Sampai dengan saat ini, 24 Agustus 2026, kami sepeser pun belum dikembalikan,” tegasnya.

Dendy mengatakan para korban memiliki sejumlah dokumen yang dapat digunakan untuk mendukung laporan. 

Bukti tersebut di antaranya riwayat transaksi pembayaran dan surat dari pihak travel yang menyatakan kesanggupan mengembalikan dana.

“Semua lengkap. Dari bukti transfer, lalu ketika gagal memberangkatkan, travel juga membuat surat bahwa akan melunasi sampai batas waktu tertentu,” jelas Dendy.

Pihak travel, kata dia, sempat meminta tambahan waktu selama 10 hari. Permintaan itu disampaikan setelah sebelumnya diberikan waktu sekitar satu bulan untuk menyelesaikan pengembalian dana. 

Namun, uang yang dijanjikan tetap tidak diterima hingga para korban akhirnya mengirimkan somasi.

“Tidak ada iktikad baik, sepeser pun walaupun sejuta pun tidak ada masuk ke kami,” kata dandy.

Persoalan bermula ketika pihak travel menyampaikan tidak mampu membayar biaya tuslah atau biaya tambahan penerbangan pada 9 Juli 2026. 

Informasi tersebut diterima jemaah hanya dua hari sebelum jadwal keberangkatan yang ditetapkan pada 11 Juli 2026.

“Karena mereka menginfokan bahwa tidak sanggup membayar terkait tuslah sekitar Rp 350 sekian juta kepada pihak Garuda (maskapai penerbangan),” tutur Dendy.

Dendy mempertanyakan alasan tersebut karena pembayaran paket umrah dari rombongannya telah dilakukan secara lunas. Ia mengatakan seluruh biaya diserahkan secara tunai kepada pihak travel.

“Kami bayarnya langsung cash. Tiga hari cash ke mereka, lunas,” ujarnya.

Masalah lain yang membuat jemaah semakin khawatir adalah dokumen perjalanan yang belum diterbitkan menjelang keberangkatan. Bahkan, hingga dua hari sebelum jadwal keberangkatan, visa dan tiket disebut belum tersedia.

“Sampai H-2 kita tanya, visa dan tiket itu belum terbit,” tambah dia.

Selain menuntut pengembalian dana, Dendy juga meminta aparat mendalami sistem pemasaran dan perekrutan jemaah yang diterapkan travel tersebut. 

Ia mengaku memperoleh informasi mengenai pola pemasaran yang menurutnya menyerupai sistem berjenjang.

“Belakangan saya mendapat informasi bahwa sistem marketing perekrutan jemaah ini menyerupai MLM, nanti kita tunggu hasil penyelidikan dari pihak yang berwenang terkait dengan kebenarannya,” ujar Dendy.

Ia juga mempertanyakan informasi mengenai jumlah jemaah yang terdampak.

Angka 90 orang yang disebut pihak travel, menurut Dendy, masih sebatas pengakuan karena kelompoknya belum pernah bertemu dengan rombongan jemaah lainnya.

“Iya, karena 90 itu pengakuan. Yang lain itu enggak ada. Kita belum pernah ketemu,” ucapnya.

Kasus tersebut, lanjut Dendy, terasa semakin mengecewakan karena dana untuk perjalanan umrah dikumpulkan secara bersama-sama oleh keluarga. 

Uang itu dipersiapkan agar orang tua mereka yang datang dari Sulawesi dapat menjalankan ibadah umrah.

“Orangtua dari Sulawesi datang ke sini untuk umrah. Kita semua patungan memberangkatkan orangtua,” ungkap Dendy.

Ia berharap dugaan perkara tersebut dapat ditindaklanjuti oleh Polres Tangerang Selatan dan hak para jemaah dikembalikan. 

Menurutnya, tujuan utama para korban bukan sekadar membawa persoalan ke ranah hukum, tetapi mendapatkan kembali dana yang telah mereka bayarkan.

“Kalau saya sih karena kita enggak dendam, lebih kepada dibalikin deh semuanya. Jadi saya berharap ke depannya enggak ada lagi seperti saya yang gagal berangkat. Mohon doanya kawan-kawan semua,” pungkasnya.