TangerangNews.com

Geger Beras Fortifikasi Palsu, Pedagang di Pasar Anyar Tangerang Kelimpungan Jual Stok

Redaksi | Rabu, 16 September 2026 | 19:48 | Dibaca : 78


25 merk beras fortifikasi palsu yang diungkap Kementerian Pertanian. (Istimewa / Istimewa)


TANGERANGNEWS.com-Peredaran 25 merek beras fortifikasi palsu yang diungkap Menteri Pertanian RI membuat pedagang beras di Kota Tangerang kebingungan.

Mereka sudah terlanjur membeli stok dengan harga mahal, sementara pembeli kini ragu untuk membeli.

Linda, Pedagang beras di Pasar Anyar mengaku baru mengetahui informasi tersebut dari pemberitaan. Ia sempat membandingkan tekstur beras fortifikasi yang dijual dengan beras biasa dan merasakan ada perbedaan.

Menurutnya, persoalan ini diduga muncul karena kandungan fortifikasi yang tidak sesuai standar.

"Bisa jadi akibat ulah pemasok atau gudang beras yang ingin menekan biaya produksi," katanya, Rabu 16 September 2026.

Linda menegaskan posisinya hanya sebagai penjual yang mengikuti harga dari pemasok. Ketika harga dari distributor naik, ia pun harus menaikkan harga jual, begitu pula sebaliknya.

Kondisi ini membuatnya bingung karena stok yang sudah dibeli mahal justru berisiko tidak terjual akibat isu beras fortifikasi palsu.

"Kita tinggal ngikutin harga dari pemasok. Kalau ada kasus kayak gini kita bingung jualnya gimana, orang jadi enggak mau beli," katanya.

Ia menilai temuan pemerintah soal keuntungan yang terlalu besar tidak menyentuh persoalan riil di lapangan.

Linda berharap pemerintah tidak sekadar menyebarkan daftar merek tanpa solusi, melainkan menindak pemasok dan pabrik agar pedagang kecil tidak menjadi korban.

Menurutnya, pedagang menengah ke bawah adalah pihak yang paling dirugikan karena harus menanggung stok yang sudah dibeli.

Pedagang beras di Pasar Anyer lainnya, Iman, mengaku sudah mendengar informasi tersebut. Ia menegaskan pedagang tidak punya kemampuan mengecek kandungan fortifikasi karena tidak memiliki alat.

Iman menjelaskan, selama ini ia memesan langsung dari pabrik dan menerima barang sesuai yang dikirim, tanpa bisa memverifikasi kandungan di dalamnya.

Ia juga menilai konsumen di Tangerang umumnya tidak terlalu memperhatikan kandungan fortifikasi. Pembeli lebih melihat bentuk fisik beras dan harganya.

Jika bentuknya bagus dan harga sesuai, pembeli cenderung langsung membeli tanpa mengecek lebih jauh.

"Kalau order langsung dari pabrik dan yang dikirim sesuai yang saya terima. Saya enggak bisa cek kandungannya," ujar Iman.

Iman memastikan tidak akan lagi menjual merek yang masuk daftar beras fortifikasi palsu, meski ia mengaku hanya menjual satu hingga dua merek dari daftar tersebut.

Ia berharap pemerintah memperketat pengawasan langsung ke pabrik dan melakukan pengecekan sebelum distribusi ke toko, sehingga beras yang tidak sesuai standar tidak sampai beredar ke pedagang.

Sementara itu, pedagang beras, Albert menilai isu ini cukup meresahkan, terutama bagi pedagang di pasar bawah. Ia mengaku tidak pernah menjual beras yang masuk daftar tersebut dan tidak menerima keluhan langsung dari pembeli terkait fortifikasi. Namun, harga yang masih fluktuatif dari pemasok menjadi persoalan tersendiri baginya.

"Pemerintah diharapkan memperketat pengawasan terhadap harga dan kualitas barang yang dijual di pasar. Keduanya harus disesuaikan agar pedagang dan konsumen tidak dirugikan," pungkasnya.

 

Reporter: Arya Baihaqi