TangerangNews.com

Bayi Sulit Menyusu Belum Tentu Tongue Tie, Ini Penjelasan DokterĀ 

Fahrul Dwi Putra | Jumat, 16 Oktober 2026 | 10:36 | Dibaca : 88


Ilustrasi tongue tie pada bayi. (@TangerangNews / Istimewa)


TANGERANGNEWS.com- Bayi yang kesulitan menyusu memang kerap membuat orang tua khawatir, terlebih ketika muncul dugaan tongue tie atau kondisi yang membatasi gerakan lidah. 

Padahal, kesulitan menyusu tidak selalu disebabkan oleh kondisi tersebut dan perlu dinilai melalui pemeriksaan menyeluruh.

Dokter Spesialis Anak sekaligus Konselor Laktasi Bethsaida Hospital Serang dr. Viany Rehansyah P, M.Ked(Ped), Sp.A, CBS menjelaskan, tongue tie memang dapat memengaruhi proses menyusui, tetapi bukan satu-satunya penyebab bayi sulit melekat pada payudara.

“Tongue tie memang bisa menjadi salah satu penyebab bayi mengalami kesulitan menyusu, tetapi bukan berarti setiap bayi yang sulit menyusu pasti mengalami tongue tie. Kita perlu melihat proses menyusunya secara menyeluruh,” jelas dr. Viany.

Tongue tie atau ankyloglossia terjadi ketika frenulum, yakni jaringan yang menghubungkan bagian bawah lidah dengan dasar mulut, membatasi pergerakan lidah. 

Padahal, gerakan lidah berperan dalam proses bayi melekat pada payudara, mengisap ASI, hingga menelan.

Meski demikian, frenulum yang tampak pendek tidak otomatis menandakan adanya gangguan menyusu. Hal yang perlu diperhatikan adalah sejauh mana kondisi tersebut membatasi fungsi lidah bayi.

Sejumlah tanda kesulitan menyusu antara lain bayi sering terlepas dari payudara, terdengar bunyi “klik” ketika menyusu, membutuhkan waktu sangat lama untuk menyusu, mudah lelah, atau masih terlihat belum puas setelah menyusu.

Kondisi ini juga dapat disertai nyeri dan luka pada puting ibu maupun kenaikan berat badan bayi yang kurang optimal.

Namun, gejala tersebut dapat muncul akibat berbagai faktor. Posisi dan pelekatan yang belum tepat, kelahiran prematur, bayi yang mudah mengantuk, hidung tersumbat, serta koordinasi mengisap, menelan, dan bernapas yang belum optimal juga dapat menyebabkan kesulitan menyusu.

Faktor dari ibu turut memengaruhi proses menyusui, seperti bentuk puting, kondisi payudara, produksi ASI, serta aliran ASI yang terlalu cepat atau lambat.

“Masalah menyusui bisa berasal dari bayi, ibu, atau kombinasi keduanya. Karena itu, evaluasinya perlu dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya berfokus pada lidah bayi,” terang dr. Viany.

Ia menjelaskan, tidak semua bayi dengan tongue tie membutuhkan tindakan medis. Pada sebagian kasus, proses menyusui dapat membaik setelah posisi dan pelekatan diperbaiki melalui pendampingan laktasi.

Saat konsultasi, dokter dapat mengevaluasi posisi bayi, pelekatan, pola hisapan, proses menelan, kondisi rongga mulut, perpindahan ASI, hingga pertumbuhan dan berat badan bayi.

Tindakan pada frenulum baru dipertimbangkan apabila keterbatasan gerak lidah terbukti menimbulkan gangguan fungsi menyusu yang bermakna.

“Tindakan pada frenulum tidak otomatis diperlukan pada setiap bayi. Yang utama adalah menilai apakah ada gangguan fungsi yang benar-benar memengaruhi proses menyusu,” ujar dr. Viany.

Orang tua disarankan berkonsultasi dengan dokter spesialis anak atau konselor laktasi jika bayi terus kesulitan melekat, sering terlepas ketika menyusu, mudah lelah, menyusu dalam waktu lama tetapi tetap belum puas, atau mengalami kenaikan berat badan yang kurang optimal. Pemeriksaan juga dianjurkan apabila ibu mengalami nyeri atau luka pada puting secara berulang.

Direktur Bethsaida Hospital Serang dr. Tirta Mulya menambahkan, pendampingan yang tepat diperlukan agar ibu dan bayi mendapatkan penanganan sesuai kondisi masing-masing.

“Keberhasilan menyusui melibatkan kondisi dan kesiapan ibu serta bayi. Melalui layanan Dokter Spesialis Anak yang didukung Konseling Laktasi, kami ingin membantu orang tua mendapatkan evaluasi dan pendampingan yang tepat sejak awal,” pungkasnya.