TangerangNews.com

IHSG Anjlok 4,31 Persen, Indonesia Terancam Jadi Setara Zimbabwe

Fahrul Dwi Putra | Senin, 19 Oktober 2026 | 13:37 | Dibaca : 129


Ilustrasi IHSG anjlok. (@TangerangNews / Magnific)


TANGERANGNEWS.com- IHSG kembali dibuka dalam tekanan berat pada perdagangan Senin, 19 Oktober 2026. Indeks Harga Saham Gabungan langsung anjlok 4,31% ke level 4.961,87 atau turun 223 poin dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. 

Di tengah kejatuhan tersebut, pasar modal Indonesia juga menghadapi ancaman perubahan klasifikasi oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berpotensi menempatkan Indonesia satu kelompok dengan Zimbabwe.

Dilansir dari CNBC Indo, pada awal perdagangan, sebanyak 602 saham tercatat melemah, 88 saham stagnan, dan hanya 64 saham yang menguat. 

Total volume transaksi mencapai 1,17 miliar saham dengan nilai Rp1,04 triliun yang diperdagangkan sebanyak 80.236 kali.

Saat ini, Indonesia masih berada dalam kelompok Emerging Market bersama sejumlah negara, seperti Brasil, Cile, Mesir, Kolombia, Peru, Polandia, Qatar, Arab Saudi, China, India, Korea Selatan, Malaysia, dan Thailand.

Namun, MSCI membuka kemungkinan memindahkan Indonesia ke kategori Standalone Market. 

Jika perubahan tersebut terjadi, pasar modal Indonesia akan berada di luar kelompok pasar berkembang dan pasar frontier, serta sejajar dengan negara-negara seperti Argentina, Jamaika, Panama, Lebanon, Nigeria, Palestina, Ukraina, hingga Zimbabwe.

MSCI menilai status Indonesia sebagai pasar berkembang tidak lagi sepenuhnya mencerminkan kondisi pasar saham domestik. 

Penilaian tersebut didasarkan pada kekhawatiran pelaku pasar mengenai tingkat investabilitas saham Indonesia, termasuk transparansi struktur kepemilikan saham dan dugaan praktik perdagangan yang terkoordinasi.

Meski demikian, perubahan klasifikasi tersebut belum menjadi keputusan final. MSCI masih membuka konsultasi dengan pelaku pasar hingga 30 April 2027 dan dijadwalkan mengumumkan keputusan akhir paling lambat 30 Juni 2027.

"MSCI akan mengumumkan keputusan akhir pada akhir Juni 2027 dan mungkin memberikan pembaruan sementara mengenai tanggapan peserta pasar selama periode konsultasi," tulis MSCI dalam pengumumannya, dikutip Jumat 16 Oktober 2026.

Status Standalone Market menempatkan pasar saham suatu negara di luar tiga kelompok utama MSCI, yakni Developed Market, Emerging Market, dan Frontier Market. 

Jika Indonesia masuk kategori tersebut, saham-saham domestik tidak lagi menjadi bagian dari indeks MSCI Emerging Markets yang banyak digunakan pengelola dana investasi global sebagai acuan.

Perubahan itu berisiko mendorong keluarnya dana asing, terutama dari investor yang mengikuti indeks MSCI. 

Berkurangnya aliran modal asing juga berpotensi menekan aktivitas perdagangan dan harga saham di dalam negeri.

Selain persoalan MSCI, pasar keuangan Indonesia masih dibayangi sejumlah sentimen negatif dari luar negeri, mulai dari perkembangan inflasi Amerika Serikat hingga ketegangan geopolitik dan perang.

Ketegangan di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia turut menjadi perhatian investor. 

Pasar juga menunggu pengumuman pertumbuhan ekonomi China pada kuartal III-2026 serta keputusan suku bunga pinjaman acuannya.

Dari dalam negeri, investor mencermati langkah penegakan aturan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang akan diumumkan pekan ini.

Tekanan pasar terjadi setelah IHSG pada Jumat 16 Oktober 2026, anjlok lebih dari 11%. Pelemahan tersebut menambah kekhawatiran investor terhadap prospek pasar saham Indonesia di tengah evaluasi MSCI dan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan.