TangerangNews.com

Nyeri Lutut dan Panggul Jangan Dianggap Biasa, Bisa Jadi Tanda Kerusakan Sendi

Fahrul Dwi Putra | Jumat, 6 November 2026 | 20:57 | Dibaca : 69


Ilustrasi cedera lutut. (@TangerangNews / Istimewa)


TANGERANGNEWS.com- Nyeri lutut ketika menaiki tangga atau panggul yang terasa sakit saat berjalan kerap dianggap sebagai keluhan biasa, terutama pada orang yang mulai memasuki usia lanjut. 

Namun, jika rasa sakit terus berulang hingga membatasi aktivitas, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian medis karena bisa menjadi tanda kerusakan sendi.

Salah satu penyebabnya adalah osteoartritis atau pengapuran sendi. Kondisi ini terjadi ketika tulang rawan yang berfungsi sebagai bantalan antartulang mengalami kerusakan secara bertahap. Dampaknya, sendi terasa nyeri, kaku, dan sulit digerakkan.

Kerusakan sendi tidak hanya dialami lansia. Orang dengan berat badan berlebih, memiliki riwayat cedera, atau kerap melakukan aktivitas yang memberikan tekanan berulang pada sendi juga berisiko mengalaminya. 

Selain osteoartritis, gangguan sendi dapat dipicu penyakit radang sendi, patah tulang, hingga gangguan aliran darah ke tulang.

Dokter spesialis ortopedi dan traumatologi Bethsaida Hospital Serang dr. Yosia Handoko, Sp.OT, FICS menjelaskan, nyeri sendi perlu diperiksa ketika mulai mengganggu kegiatan sehari-hari.

Pada kerusakan sendi panggul, keluhan dapat berupa nyeri di bagian selangkangan, panggul, atau paha. 

Pasien juga bisa mengalami kesulitan berjalan maupun menggerakkan kaki. Sementara kerusakan sendi lutut dapat ditandai rasa sakit ketika berdiri, berjalan, atau menaiki tangga, disertai kekakuan, pembengkakan, hingga perubahan bentuk kaki menyerupai huruf O atau X.

“Nyeri sendi yang terus berulang dan mulai membatasi aktivitas perlu diperiksa untuk mengetahui penyebab serta tingkat kerusakannya. Penanganan yang tepat dapat membantu mempertahankan fungsi gerak dan kualitas hidup pasien,” jelas dr. Yosia.

Meski demikian, kerusakan sendi tidak selalu harus ditangani melalui operasi. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mengetahui kondisi sendi dan kemampuan gerak pasien, serta pemeriksaan penunjang seperti rontgen atau MRI jika diperlukan.

Pada tahap tertentu, pasien masih dapat menjalani pengobatan tanpa operasi melalui pemberian obat antinyeri, fisioterapi, latihan penguatan otot, pengaturan aktivitas, dan pengendalian berat badan. 

Operasi penggantian sendi baru dipertimbangkan apabila kerusakan sudah berat dan penanganan konservatif tidak lagi memberikan hasil yang efektif.

Ada dua prosedur penggantian sendi yang dikenal dalam penanganan kerusakan panggul dan lutut, yakni Total Hip Replacement (THR) dan Total Knee Replacement (TKR).

THR merupakan prosedur penggantian sendi panggul yang menghubungkan tulang paha dengan tulang panggul. 

Dalam tindakan ini, kepala tulang paha dan permukaan rongga sendi panggul yang rusak diganti menggunakan implan buatan. 

Prosedur tersebut dapat dipertimbangkan untuk pasien dengan pengapuran panggul berat, kerusakan tulang akibat gangguan aliran darah, atau jenis patah tulang panggul tertentu.

Sementara itu, TKR dilakukan untuk mengganti permukaan sendi lutut yang menghubungkan tulang paha dan tulang kering. 

Bagian sendi yang mengalami kerusakan diganti dengan komponen implan buatan. Tindakan ini umumnya dipertimbangkan pada pasien dengan pengapuran lutut berat, radang sendi kronis, atau kerusakan akibat cedera.

“THR dilakukan pada sendi panggul, sedangkan TKR pada sendi lutut. Keduanya bertujuan mengurangi nyeri, memperbaiki fungsi sendi, dan membantu pasien kembali beraktivitas dengan lebih nyaman,” terang dr. Yosia.

Setelah menjalani operasi, pasien perlu mengikuti rehabilitasi dan fisioterapi secara bertahap. 

Proses tersebut bertujuan memulihkan kekuatan otot, kelenturan sendi, serta kemampuan berjalan. Waktu pemulihan setiap pasien dapat berbeda, bergantung pada kondisi kesehatannya.

Untuk mendukung penanganan gangguan tulang, sendi, dan cedera, Bethsaida Hospital Serang menghadirkan Orthopaedi & Trauma Center. 

Layanan ini didukung dokter spesialis ortopedi dan traumatologi, serta fasilitas pemeriksaan dan penanganan berupa X-ray, CT Scan 128 Slice, MRI 1.5 Tesla, kamar operasi, dan rehabilitasi medik.

Direktur Bethsaida Hospital Serang dr. Tirta Mulya Juandi mengatakan, penanganan gangguan tulang dan sendi membutuhkan pendekatan menyeluruh, mulai dari diagnosis, pemilihan tindakan medis, hingga rehabilitasi yang berkesinambungan.

“Bagi kami, keberhasilan penanganan bukan hanya diukur dari berkurangnya nyeri, tetapi juga dari kemampuan pasien untuk kembali bergerak, mempertahankan kemandirian, dan menjalani kehidupan yang lebih berkualitas,” tutup dr. Tirta Mulya Juandi.