Kamis, 5 Februari 2026

Tekanan Keuangan Jadi Alasan Pabrik Baja PT Krakatau Osaka Steel di Cilegon Hentikan Operasi

PT Krakatau Osaka Steel, Cilegon, Banten. (@TangerangNews / Istimewa)

TANGERANGNEWS.com- Aktivitas produksi PT Krakatau Osaka Steel di Kawasan Industri Krakatau, Cilegon, resmi terhenti. 

Perusahaan baja hasil kerja sama antara Osaka Steel Co, Ltd. dari Jepang dan PT Krakatau Steel (Persero) itu memutuskan menutup pabriknya di Indonesia setelah induk usahanya menilai kinerja keuangan tidak lagi memungkinkan untuk bertahan.

Kabar penghentian operasional tersebut telah sampai ke Kementerian Perindustrian. Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza membenarkan adanya laporan penutupan pabrik baja tersebut. 

“Oh iya, sudah (dapat kabar penutupan PT Krakatau Osaka Steel),” kata Faisol dikutip dari detikfinance, Kamis, 4 Februari 2026.

Ia menyampaikan, keputusan tersebut tidak lepas dari kondisi finansial Osaka Steel di negara asalnya. Perusahaan dinilai menghadapi tekanan berat sehingga memilih menghentikan kegiatan usaha di Indonesia.

“Kalau itu memang ada indikasi bahwa perusahaan Osaka Steel memang memiliki kesulitan keuangan,” ujarnya.

Menurut Faisol, keputusan penutupan diambil langsung oleh manajemen pusat di Jepang setelah mempertimbangkan kemampuan perusahaan dalam menghadapi persaingan industri baja.

“Jadi memang ada call dari pusat bahwa mereka tidak bisa bersaing dengan yang lain-lain dan kesulitan keuangan sehingga mereka akhirnya memutuskan untuk menutup,” lanjutnya.

Sebagai tambahan, PT Krakatau Osaka Steel merupakan perusahaan patungan yang dibentuk pada 2014. 

Kerja sama ini melibatkan Osaka Steel Co, Ltd. sebagai pemegang saham mayoritas dengan porsi 80 persen, sementara 20 persen saham dimiliki PT Krakatau Steel (Persero).

Kesepakatan pembentukan perusahaan tersebut ditandatangani oleh Presiden Direktur PT Krakatau Steel saat itu, Irvan K Hakim, bersama Presiden Direktur Osaka Steel Co, Ltd., Junji Uchida, di Jakarta pada awal September 2014.

Pabrik PT Krakatau Osaka Steel berdiri di atas lahan seluas 21,6 hektare di kawasan industri Krakatau. Modal disetor awal tercatat sebesar US$ 70 juta. 

Dalam tahap pembangunannya, total investasi yang digelontorkan mencapai sekitar US$ 220 juta atau setara Rp 2,8 triliun dengan asumsi kurs Rp 13.000 per dolar AS.

Fasilitas produksi tersebut mulai beroperasi secara komersial pada 25 Januari 2017. Namun, di tengah dinamika industri baja dan tekanan keuangan yang dihadapi perusahaan induk, operasional pabrik di Indonesia akhirnya dihentikan.

Tags Bisnis Kawasan Industri Banten Krakatau Steel