Kamis, 24 September 2026

Daratan Seluas 30,3 Hektare Muncul di Sekitar Anak Krakatau, Bukan “Cucu” Krakatau

Muncul sebuah daratan baru di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau. (@TangerangNews / Istimewa)

TANGERANGNEWS.com- Daratan baru seluas sekitar 30,3 hektare muncul di antara Pulau Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung, Lampung Selatan. Kemunculan daratan tersebut berasal dari material vulkanik yang terakumulasi selama aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK).

Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno, membenarkan adanya daratan baru tersebut. 

"Oh iya, memang benar," kata Suwarno dikutip dari Kompas, Rabu 23 September 2026.

Menurut Suwarno, daratan itu terbentuk dari material yang dikeluarkan Gunung Anak Krakatau selama aktivitas erupsi. Material tersebut kemudian menumpuk di sekitar kawasan gunung api.

Ia menjelaskan, daratan tersebut bukan muncul secara tiba-tiba setelah erupsi terakhir. 

Material vulkanik yang menjadi pembentuknya telah mulai terlihat seiring meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau sejak status gunung tersebut dinaikkan menjadi Level III atau Siaga pada 2 Juli 2026.

"Ya, hasil dari letusan kemarin itu. Kurang lebih 30,3 hektar," ujar Suwarno.

Keberadaan daratan tersebut, lanjutnya, telah diketahui dan masih masuk dalam wilayah pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Lokasinya berada di sekitar Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung.

"Ya, enggak jauh, di sekitar itu aja. Hasil dari situ, lontaran apa... hasil erupsi kemarin itu di situ," katanya.

Kemunculan daratan tersebut juga menimbulkan spekulasi mengenai kemungkinan terbentuknya gunung api baru atau yang di masyarakat disebut sebagai "cucu" Krakatau. 

Namun, Suwarno mengatakan belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa daratan tersebut merupakan cikal bakal gunung api baru.

"Ya, enggak jugalah, enggak," ujarnya.

Suwarno menjelaskan, Gunung Anak Krakatau tetap memiliki sistem saluran magma di bawah permukaan. 

Namun, keberadaan material vulkanik yang membentuk daratan baru belum dapat digunakan untuk memastikan adanya saluran magma baru di lokasi tersebut.

"Ya, namanya magma gitu kan, dia mencari celah-celah yang lebih ringan akan keluar," kata dia.

Kondisi bawah permukaan juga tidak dapat diketahui hanya berdasarkan material yang terlihat di permukaan.

"Enggak tahu juga gitu kan, namanya di dalam, di dalam bumi kita enggak tahu," ujarnya.

Suwarno menambahkan, hingga kini belum diketahui apakah terdapat pergerakan magma menuju daratan baru tersebut.

Ia memperkirakan material yang membentuk daratan masih berkaitan dengan saluran utama Gunung Anak Krakatau.

"Kalau masalah akan keluar cucunya, belum kita ketahui," katanya.

Karena itu, daratan baru tersebut masih dipandang sebagai bagian dari dinamika aktivitas Gunung Anak Krakatau. 

Kemungkinan munculnya pusat erupsi baru belum dapat dipastikan dan masih membutuhkan pemantauan lebih lanjut.

Sebelumnya, status Gunung Anak Krakatau turun dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) pada Senin 21 September 2026, pukul 18.30 WIB. 

Penurunan status dilakukan setelah evaluasi menunjukkan adanya penurunan aktivitas erupsi, kegempaan, dan deformasi.

Meski statusnya telah turun, masyarakat tetap diminta tidak mendekati kawasan kawah aktif. Pada Level II, terdapat rekomendasi larangan melakukan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif.

Tags Anak Gunung Krakatau Anak Gunung Krakatau Meletus Fenomena Aneh Gunung Meletus