Selasa, 5 Mei 2026

Rupiah Melemah ke Rp17.400 per Dolar AS, Bank Indonesia Bakal Lakukan Intervensi

Ilustrasi pertukaran mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat. Indonesia mengalami kenaikan utang luar negeri mencapai USD304,28 miliar per Juni 2015.(BI / tangerangnews)

TANGERANGNEWS.com- Bank Indonesia buka suara setelah nilai tukar rupiah menyentuh kisaran Rp17.400 per dolar AS, salah satu level terlemah di tengah tekanan global. 

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G Hutapea mengatakan, pelemahan rupiah tidak terjadi secara terpisah, melainkan sejalan dengan tren depresiasi mata uang negara berkembang lainnya sejak konflik di Timur Tengah meningkat.

"Bank Indonesia akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya," ujar Erwin dikutip dari CNN Indonesia, Selasa, 5 Mei 2026.

Ia menjelaskan, tekanan terhadap mata uang emerging market terjadi secara merata. Philippine peso tercatat melemah 6,58 persen, Thailand baht 5,04 persen, India rupee 4,32 persen, Chile peso 4,24 persen, sementara rupiah melemah 3,65 persen dan Korea won 2,29 persen.

Pada perdagangan Selasa pagi, rupiah berada di level Rp17.410 per dolar AS, melemah 17 poin atau 0,10 persen dibandingkan hari sebelumnya. Kondisi ini dipengaruhi ketidakpastian global akibat eskalasi konflik geopolitik yang masih berlangsung.

Untuk meredam gejolak, BI melakukan intervensi berlapis di pasar keuangan. Langkah tersebut meliputi transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

"Bank Indonesia terus menegaskan komitmen untuk senantiasa hadir di pasar dan mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," lanjut Erwin.

Sejumlah analis menilai tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi penguatan dolar AS di tengah memanasnya tensi geopolitik global.

Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah masih berpotensi tertekan, meski pelemahannya cenderung terbatas karena pelaku pasar menunggu rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Sementara itu, analis mata uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan indeks dolar AS menjadi faktor utama yang menekan mata uang Asia, termasuk rupiah, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global.

Tags Bank Indonesia Berita Ekonomi Ekonomi Nasional