TANGERANGNEWS.com-Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyoroti adanya dinamika dan pergeseran pola belanja konsumen di sektor ritel saat ini.
Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Aprindo Solihin mengungkapkan daya beli masyarakat mengalami pergeseran di mana faktor harga terjangkau kini menjadi pertimbangan utama dibandingkan loyalitas terhadap merek tertentu.
Menurut Solihin, jika pada masa lalu konsumen harus menggunakan produk dengan merek spesifik, kini masyarakat cenderung lebih selektif dan mencari alternatif harga yang lebih terjangkau asalkan kebutuhan pokok mereka tetap terpenuhi.
"Kalau kita lihat daya beli masyarakat saat ini sudah pasti bergeser ya. Dulu kalau kita bicara harga, itu kan enggak menjadi nomor satu, harga ya. Orang selalu berbicara mengenai apa ya, kalau loyalitas terhadap brand," ujarnya di Tangerang, Kamis 10 September 2026.
Ia mencontohkan, pergeseran tersebut sangat terasa di berbagai lini produk, di mana konsumen kini lebih mengutamakan produk yang menawarkan efisiensi biaya.
Kendati demikian, sektor ritel yang berfokus pada kebutuhan pokok atau Fast Moving Consumer Goods (FMCG) dinilai masih memiliki ketahanan yang kuat karena menyangkut kebutuhan harian masyarakat yang tidak dapat ditunda.
"Kita enggak beli baju setiap minggu enggak apa-apa kan, enggak beli motor setiap bulan enggak apa-apa, tapi kalau enggak makan setiap hari itu enggak bisa," tambah Solihin.
Terkait dengan potensi hambatan logistik atau distribusi di tengah situasi tertentu seperti bencana alam, Solihin memastikan bahwa para pengusaha ritel umumnya telah mengantisipasi hal tersebut dengan menjaga ketersediaan stok atau buffer stock di gudang.
Dikatakanmya, rata-rata peritel nasionalmemiliki cadangan stok yang cukup untuk bertahan antara 14 hingga 28 hari ke depan guna memastikan kelancaran pasokan bagi konsumen.