Jumat, 11 September 2026

Mahasiswa UPH Ubah Limbah Lele Jadi Cemilan Bergizi, Bisa Jadi Solusi Stunting di Tangerang

Himpunan Mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan Universitas Pelita Harapan (UPH), mengolah limbah ikan lele menjadi produk bergizi hingga bernilai ekonomi tinggi di Kelurahan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang.(TangerangNews / Rangga Agung Zuliansyah)

TANGERANGNEWS.com-Sisa pengolahan ikan lele yang kerap berakhir sebagai limbah kini disulap Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Teknologi Pangan Universitas Pelita Harapan (UPH), menjadi produk bergizi hingga bernilai ekonomi tinggi.

Melalui program LESTARI (Lele Sehat Tigaraksa Mandiri), para mahasiswa sukses memberdayakan warga Kelurahan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, dengan mengoptimalkan seluruh bagian lele, mulai dari daging, kulit, tulang, hingga organ dalam, tanpa ada yang terbuang.

Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berbasis zero waste ini lahir dari potensi lokal di Tigaraksa yang memiliki sekitar 600 kolam budidaya ikan lele.

Selama ini, warga setempat umumnya hanya menjual daging lele segar atau terbatas mengolahnya menjadi abon dan dimsum secara pre-order.

Melihat celah tersebut, mahasiswa UPH bergerak mendampingi warga untuk mengembangkan produk demi mendongkrak kesejahteraan mereka.

 

Dari Tulang Lele Jadi Cookies Tinggi Kalsium

Dipimpin oleh Joanna Faleshia, mahasiswi Teknologi Pangan UPH angkatan 2023  bersama dosen pembimbing Prof. Adolf J. N. Parhusip, tim LESTARI mengembangkan beragam produk olahan kreatif.

“Kami melihat potensi yang lebih besar dengan memanfaatkan bagian ikan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dan belum memiliki nilai ekonomi,” ujar Joanna, Jumat 11 September 2026.

Tulang dan kepala lele yang kaya kalsium mencapai 1.650 mg per 100 gram diolah menjadi cookies bergizi tinggi.

Inovasi ini tidak sekadar mengejar nilai ekonomis, melainkan turut menjawab persoalan kesehatan masyarakat.

Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Tangerang, ada 1,632 kasus stunting di Tigaraksa pada 2025. Karena itu, cookies tulang lele dihadirkan sebagai alternatif pangan camilan sehat yang ramah anak.

“Hal ini menjadi salah satu pertimbangan tim dalam mengembangkan cookies berbahan tulang lele. Selain mudah dikonsumsi oleh berbagai kalangan, termasuk anak-anak, cookies ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif pangan yang turut mendukung pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat,” ucap Joanna.

Dalam proses pengolahan, tulang dan kulit lele terlebih dahulu dipisahkan. Tulang kemudian dipresto untuk membantu mengeluarkan minyak yang terkandung di dalamnya sebelum dikeringkan menggunakan cabinet dryer. 

Sementara itu, bagian kulit lele yang kaya kandungan kolagen dan lemak diolah menjadi keripik renyah bercita rasa gurih.

Pengolahannya dirancang agar mudah direplikasi warga, mulai dari teknik marinasi jeruk nipis untuk menghilangkan bau amis, pengeringan menggunakan food dehydrator atau sinar matahari, hingga digoreng hingga mengembang sempurna.

Tidak berhenti di situ, sisa organ dalam dan air cucian pengolahan lele turut disulap menjadi pupuk organik cair yang bersinergi dengan para pelaku UMKM media tanam setempat.

"Organ dalam lele merupakan bahan organik yang mengandung protein dan asam amino yang dapat menjadi sumber nutrisi bagi tanaman," jelas Joanna.

 

Inovasi Berbuah Hibah Nasional

Gagasan cemerlang ini berhasil menarik perhatian Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI (Kemdiktisaintek RI).

LESTARI sukses mengamankan pendanaan sebesar Rp24,8 juta setelah menyisihkan ratusan proposal dalam ajang Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2026, serta mendapat dukungan tambahan dana senilai Rp10 juta dari pihak UPH.

Program ini melibatkan 16 mahasiswa dari tujuh program studi di UPH. Mahasiswa Teknologi Pangan fokus pada keamanan dan kualitas produk, Manajemen mendampingi perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) dan strategi bisnis.

Kemudan, Hukum mengawal legalitas usaha, DKV merancang identitas visual serta kemasan. Sementara Teknik Industri, Elektro, dan Sipil berkolaborasi mengoptimalkan proses produksi hingga sarana prasarana di lokasi kegiatan Gucang Farm.

 

Dongkrak Omzet Warga

Pendekatan terpadu ini terbukti memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat, yang melibatkan kelompok pembudidaya, Ibu-Ibu PKK, Karang Taruna, serta UMKM.

Sebelum program LESTARI berjalan, omzet mingguan warga berkisar di angka Rp700 ribu hingga Rp900 ribu. Berkat pemanfaatan optimal hingga 90% bagian ikan dan lahirnya produk-produk olahan baru, omzet warga kini meroket tajam hingga menyentuh Rp3,4 juta per minggu.

Melalui langkah inovatif ini, warga Tigaraksa kini tidak hanya sekadar menjual ikan konsumsi, tetapi bertransformasi menjadi pelaku wirausaha tangguh yang mandiri secara berkelanjutan.

Menurut Prof. Adolf, pengalaman ini juga menunjukkan bagaimana pembelajaran di perguruan tinggi dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan nyata di masyarakat. 

Di Teknologi Pangan UPH, mahasiswa tidak hanya belajar mengolah pangan, tetapi juga didorong untuk melihat bagaimana bahan dan hasil samping dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bernilai.

"Inilah yang menjadi salah satu kekuatan LESTARI karena program ini tidak sekadar memberikan pendampingan, tetapi juga membangun kemampuan masyarakat agar dapat mengembangkan usahanya secara mandiri,” ujarnya.

Tags