TANGERANGNEWS.com-Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang menerapkan sistem parkir digital di Stadion Benteng Reborn menulai beragam respon dari pengunjung, pedagang hingga juru parkir (jukir).
Saat ini, pengelolaan parkir di kawasan stadion seluas 4,5 hektare tersebut masih menggunakan metode manual.
Taufiq Hidayat, 48, juru parkir di Stadion Benteng Reborn mengatakan saat ini parkir parkir dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat.
"Kita di sini hanya mengatur dan menjaga, selebihnya mereka mau kasih silahkan engga pun tidak masalah, karna kita engga memaksa sebagai tukang parkir," katanya, Rabu 24 Juni 2026.
Taufik mengaku mendukung apapun program Pemkot Tangerang terkait dengan kemajuan Stadion Benteng Reborn tersebut, asal tidak merugikan jukir yang sudah ada.
"Kita selaku masyarakat kota Tangerang tidak mungkin tidak mendukung pastinya kita dukung, asal jangan ada yang dirugikan, tapi kalo sampai itu (parkir digital) dibangun, berarti pengunjung dipaksa bayar dong," pungkasnya.
Menurut Taufik, dengan sistem parkir manual ini para pengganguran bisa mencari penghasilan melalui ikut sertanya mereka dalam mengatur kendaraan atau keamanan di Stadion Benteng Reborn.
"Harapannya saya, ketika program itu dibangun kepada pihak terkait, mereka bisa merekrut kawan-kawan saya. Jika tidak bisa yah usahakanlah agar supaya bisa," katanya.
Sementara salah satu pedagang bakso cuanki di stadion, Deni, 48, mengaku pasrah dengan kebijiakan pemerintah daerah setempat.
"Saya mah cuma pedagang, cuma rakyat. Apapun kebijakannya, yang penting masih selaras dengan keberlangsungan kami para pedagang yang mengais rezeki di sini," terangnya.
Disisi lain Kiki, 30, warga Kecamatan Jatiuwung, Kota Tangerang yang kerap berolahraga di Stadion Benteng Reborn, menilai adanya program parkir digital tersebut akan membebaninya dalam pembayaran.
Sebab saat ini, dirinya hanya cukup membayar Rp2.000 kepada juru parkir tanpa terpatok waktu.
"Kalau nanti program itu dilaksanakan, berarti saya harus memikirkan berapa lama saya di sini dan berapa nominal yang saya harus bayar, karena setiap jam yang berjalan menjadi tolak ukur pembayaran parkir digital itu," pungkasnya.
Jika program tertap terlaksana, Kiki berharap sistemnya tertata rapih dan keamannya terjamin seperti di mal.