TANGERANGNEWS.com-Gelaran Festival Al-A'zhom ke-13 yang berlangsung di halaman Masjid Raya Al-A'zhom pada Juni 2026 berhasil menarik perhatian ribuan pengunjung.
Kendati demikian, di tengah keramaian acara tersebut, sejumlah pedagang lokal yang membuka lapak di bidang fesyen dan kuliner mengaku mengalami penurunan pendapatan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Faktor Tanggal Tua dan Daya Beli Pengunjung
Salah seorang pedagang atribut ibadah dan fesyen muslim, Tamim, 48, mengungkapkan perputaran omset usahanya sangat bergantung pada tingkat kepadatan pengunjung di area masjid.
Pada hari normal, area tersebut relatif sepi dan keramaian biasanya hanya terpusat pada akhir pekan (weekend) atau saat ada festival besar.
"Kalau weekend bisa dpat omset berkisar Rp1 juta hingga Rp1,5 juta," katanya, Sabtu 27 Juni 2026.
Meski festival kali ini dipadati pengunjung, Tamim mengaku keuntungan yang didapatnya belum stabil dan cenderung menurun dari periode sebelumnya.
Ia memperkirakan kondisi ini dipengaruhi oleh faktor momentum pelaksanaan acara yang bertepatan dengan masa akhir bulan.
"Keuntungan tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya sangat amat beda, tahun ini cukup menurun," ujar Tamim.
Perubahan Kebijakan Teknis dan Posisi Lapak
Keluhan senada juga disampaikan oleh Irfan, 46, pedagang makanan siap saji dan minuman di sekitar kawasan tersebut.
Menurut Irfan, pendapatan harian yang ia peroleh saat ini berkisar antara Rp500 ribu hingga Rp1 juta. Untuk menjaga daya tarik pembeli, ia menerapkan strategi harga terjangkau mulai dari Rp5.000 hingga Rp15.000 per porsi.
Berdasarkan pengalamannya berjualan selama tiga tahun di area tersebut, Irfan menyoroti hilangnya kebijakan kupon belanja dari panitia yang pada tahun-tahun sebelumnya sangat membantu mendongkrak omset pedagang.
"Kalau tahun sebelumnya enak, karena ada kupon yang dibagikan oleh panitia kepada anak yatim piatu. Kupon itu nanti bisa ditukarkan dengan jajanan kami, lalu kami klaim kembali ke panitia sebagai keuntungan dagangan," jelas Irfan.
Selain kebijakan kupon, Irfan menambahkan bahwa tata letak atau posisi stan festival menjadi tolok ukur krusial bagi pendapatan pedagang.
"Lapak yang berada di dalam area masjid lebih ramai karena posisinya dekat dengan panggung utama festival, dibandingkan lapak yang berada di luar pagar seperti kawasan Taman Elektrik," pungkasnya.
Harapan Pedagang
Meski mencatatkan penurunan omset, para pedagang sepakat bahwa kehadiran festival tahunan ini tetap menjadi instrumen penting yang membantu keberlangsungan mata pencaharian mereka.
Sebagai langkah evaluasi ke depan, para pedagang berharap pihak pengelola masjid maupun panitia penyelenggara dapat mengemas acara dengan lebih menarik.
"Salah satunya bisa dengan mengundang tokoh atau bintang tamu yang sedang viral biar lebih banyak pengunjung yang datang," terang Ifan.
Langkah tersebut dinilai dapat menjadi dorongan kuat untuk mendatangkan massa yang lebih masif, sehingga mampu meningkatkan daya beli di sekitar area ekosistem Festival Al-A'zhom.