TANGERANGNEWS.com-Tumpukan sampah di TPS liar, Jalan Darussalam 1, Kelurahan Batusari, Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang masih belum teratasi meski pemerintah daerah setempat disebut telah beberapa kali meninjau lokasi.
Warga mempertanyakan tindak lanjut dari peninjauan tersebut karena hingga kini belum ada realisasi penanganan maupun pengangkutan sampah.
Iqbaludin, warga yang tinggal di sekitar TPS liar mengatakan, persoalan sampah di lokasi tersebut telah berlangsung sejak 2010. Menurutnya, pemerintah telah melakukan peninjauan ke lapangan, namun belum ada kejelasan mengenai tindak lanjutnya.
“Upaya pemerintah buat ada normalisasi seperti awal ya itu baru rencana kalau menurut saya. Beberapa kali sih udah ditinjau ke lapangan, tapi realisasinya belum ada,” katanya, Jumat 18 September 2026.
Iqbaludin juga menjelaskan bahwa peninjauan turut dihadiri pihak kelurahan, staff, dan ketua RT. Namun, ia mengaku belum mengetahui rencana penanganan yang akan dilakukan pemerintah.
Menurutnya, pemerintah sebelumnya telah mengimbau masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan. Selain itu juga telah disediakan TPS di Jalan Pematang sebagai upaya mengatasi persoalan tersebut.
Iqbaludin juga menyebutkan, saat ini petugas pengangkut sampah telah tersedia di setiap RT dengan menggunakan gerobak. Namun, sebagian masyarakat masih membuang sampah sembarangan.
“Dulu memang kita enggak ada petugas. Nah, sekarang ini udah ada petugas sampah di setiap RT. Tapi ya lagi-lagi masyarakat tetap masih pada bandel. Sebetulnya kesadaran masyarakatnya sih kalau dipikir," lanjutnya.
Ia berharap peninjauan yang telah dilakukan pemerintah tidak berhenti pada pengecekan lokasi, tetapi dilanjutkan dengan tindakan nyata.
Jika sampah belum dapat diangkut, ia mengusulkan sampah tersebut ditimbun menggunakan tanah atau puing untuk mengurangi risiko longsor pada jalan di sekitar tumpukan sampah.
"Saya pengen nih, setelah ada peninjauan dari kelurahan, saya pengen ada realisasi sebetulnya. Kalau enggak minimal diangkut atau ditimbun pakai tanah," pungkasnya.
Reporter: Agustina Dwi Cahyaningrum