TANGERANGNEWS.com- Pemerintah Malaysia memutuskan menurunkan harga solar menjadi 2,10 ringgit Malaysia atau sekitar Rp9.061 per liter mulai Juli 2026.
Kebijakan tersebut diambil untuk menekan praktik penyelundupan bahan bakar serta mengurangi kebocoran penerimaan negara yang terjadi akibat perbedaan harga solar di berbagai wilayah.
Saat ini, harga solar bersubsidi di Sabah dan Sarawak berada di level 2,15 ringgit Malaysia atau sekitar Rp9.276 per liter.
Sementara di Semenanjung Malaysia, harga solar mengikuti mekanisme pasar dan mencapai 4,37 ringgit Malaysia atau setara Rp18.855 per liter.
Dengan kebijakan baru tersebut, masyarakat di Semenanjung Malaysia nantinya hanya akan membayar sekitar separuh dari harga yang berlaku saat ini.
Sejak Juni 2024, pemerintah Malaysia menerapkan harga solar berbasis pasar di wilayah Semenanjung.
Namun, subsidi tetap dipertahankan di Sabah dan Sarawak karena kendaraan berbahan bakar solar, khususnya kendaraan penggerak empat roda, dinilai penting untuk menunjang mobilitas di daerah dengan kondisi geografis yang lebih berat.
Pada April 2026 lalu, harga solar di Semenanjung Malaysia bahkan sempat menembus 6,72 ringgit Malaysia atau sekitar Rp27.000 per liter, menjadi level tertinggi dalam beberapa waktu terakhir.
Kementerian Keuangan Malaysia mengungkapkan perbedaan harga antara wilayah Malaysia Timur dan Semenanjung telah memicu berbagai persoalan, termasuk penyelundupan solar bersubsidi serta potensi kebocoran pendapatan negara.
Dilansir dari CNN Indonesia, aktivitas penyelundupan disebut tidak hanya terjadi antarwilayah, tetapi juga berpotensi melibatkan lintas negara.
Meski demikian, pemerintah Malaysia belum menjelaskan secara rinci sumber pendanaan tambahan subsidi yang diperlukan untuk mendukung kebijakan tersebut.
Kondisi ini muncul di tengah meningkatnya tekanan terhadap keuangan negara akibat kenaikan biaya energi yang dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Sebagai langkah antisipasi, Malaysia juga terus memperkuat ketahanan energinya melalui kerja sama internasional.
Perusahaan energi nasional Petronas baru-baru ini menandatangani sejumlah kesepakatan baru di Turkmenistan bersama perusahaan energi milik negara setempat.
Kerja sama tersebut bertujuan memperluas aktivitas hulu migas Petronas di kawasan Laut Kaspia dan membuka akses terhadap cadangan gas dalam jumlah besar.
Pemerintah Malaysia menilai langkah itu dapat memperkuat pasokan energi sekaligus meningkatkan peluang ekspor ke sejumlah negara mitra seperti China, Jepang, dan Korea Selatan.
Selain itu, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyebut Rusia juga telah memberikan jaminan pasokan minyak, gas, dan solar kepada Malaysia melalui kerja sama jangka panjang yang disebut berlangsung hingga 20 tahun ke depan. Namun, rincian kesepakatan tersebut belum dipublikasikan secara detail.
Di sisi lain, beban subsidi energi Malaysia diperkirakan terus meningkat. Pada Maret 2026, Menteri Keuangan II Malaysia Amir Hamzah Azizan menyebut pengeluaran subsidi bahan bakar berpotensi melonjak menjadi sekitar 3,2 miliar ringgit Malaysia per bulan, naik lebih dari empat kali lipat dibandingkan sebelumnya yang berada di kisaran 700 juta ringgit Malaysia per bulan.