Selasa, 14 Juli 2026

Ameba Pemakan Otak Mulai Muncul di Berbagai Negara, Ilmuwan Khawatir Kasus Terus Bertambah

Naegleria fowleri atau yang lebih dikenal sebagai “ameba pemakan otak”(@TangerangNews / Istimewa)

TANGERANGNEWS.com – Kematian Jordan Smelski, bocah berusia 11 tahun asal Amerika Serikat, akibat infeksi langka yang disebabkan Naegleria fowleri atau “ameba pemakan otak”, kembali menjadi sorotan setelah para ilmuwan memperingatkan potensi penyebaran organisme tersebut ke wilayah-wilayah baru.

Jordan tertular saat berlibur bersama keluarganya di Kosta Rika pada 2014. Setelah bermain di kolam air panas alami, ia mulai mengalami sakit kepala hebat, muntah, hingga halusinasi. Dalam waktu kurang dari delapan hari setelah berenang, nyawanya tak tertolong.

"Jordan berenang satu hari, satu kali dan [sekarang] dia sudah tiada," kata ayahnya, Steve Smelski, dikutip dari BBC, Selasa 14 Juli 2026.

Naegleria fowleri merupakan mikroorganisme yang umumnya hidup di danau air hangat, mata air panas, serta kolam yang tidak terawat. Ameba ini masuk ke tubuh melalui hidung ketika seseorang menyelam atau berenang, lalu menyerang jaringan otak dan menyebabkan primary amoebic meningoencephalitis (PAM), infeksi yang sangat mematikan.

Data yang dikutip dari Journal of Infection and Public Health mencatat, antara 1962 hingga 2023 hanya terdapat 488 kasus yang dilaporkan di seluruh dunia. Namun, sekitar 97 persen penderitanya meninggal dunia.

Tahun lalu, India mencatat lebih dari 200 kasus infeksi Naegleria fowleri, menjadikannya wabah terbesar yang pernah terdokumentasi. Kasus serupa juga mulai ditemukan di negara-negara yang sebelumnya jarang melaporkan infeksi tersebut, seperti Italia, Belgia, Slovakia, hingga wilayah utara Amerika Serikat.

"Saya pikir akan ada lebih banyak kasus di masa depan. Kita akan melihatnya di seluruh dunia," kata ahli parasitologi molekuler dari University of Kent, Inggris, Dr Anastasios Tsaousis.

Menurut para peneliti, perubahan iklim dan meningkatnya suhu air diduga menjadi salah satu faktor yang memperluas habitat ameba tersebut.

"Ketika air menjadi lebih hangat, [ameba] akan lebih aktif," kata Tsaousis.

Selain itu, para ilmuwan juga menilai peningkatan jumlah kasus yang tercatat dapat dipengaruhi oleh kemampuan diagnosis yang semakin baik.

Kelompok anak-anak disebut menjadi golongan yang paling rentan terinfeksi. Usia rata-rata penderita tercatat sekitar 12 tahun, terutama karena anak-anak lebih sering bermain dan menyelam di perairan hangat.

"Usia rata-rata orang yang menderita penyakit ini jika terinfeksi adalah 12 tahun, karena anak-anak senang bermain air dan memercikkan air hangat," kata pakar ilmu air dari Western Sydney University, Prof Ian Wright.

Naegleria fowleri tidak hanya dapat masuk ke tubuh saat berenang. Dalam sejumlah kasus, infeksi juga terjadi akibat penggunaan alat pembilas hidung yang diisi menggunakan air keran yang terkontaminasi.

Meski peluang tertular sangat kecil, para ahli menyarankan masyarakat tetap waspada dengan menghindari masuknya air ke dalam hidung saat berenang di perairan hangat. Penggunaan penjepit hidung saat menyelam juga disarankan.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) turut merekomendasikan penggunaan air steril, air suling, atau air matang yang telah didinginkan untuk membersihkan rongga hidung.

"Jika ragu, jangan masukkan kepala Anda ke dalam air," kata Wright.

Tags Berita Kesehatan Kementerian Kesehatan Penyakit Berbahaya