Jumat, 30 Januari 2026

BMKG Bantah Narasi OMC Jadi Bom Waktu Picu Cuaca Tak Stabil

Ilustrasi hujan angin.(Gemini AI / Rangga Agung Zuliansyah)

TANGERANGNEWS.com- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membantah narasi yang beredar di media sosial terkait Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang disebut-sebut dapat menjadi “bom waktu” dan memicu cuaca tidak stabil jika dilakukan secara terus-menerus. 

BMKG menegaskan, OMC merupakan langkah mitigasi bencana yang terukur dan berbasis sains.

Sebelumnya, narasi yang beredar menyebut OMC berisiko menimbulkan bencana lain, seperti menciptakan kondisi cuaca tidak stabil, membentuk cold pool atau kolam udara dingin, memindahkan atau menumpuk air di wilayah tertentu hingga memicu banjir besar, serta memberikan rasa aman yang palsu kepada masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, BMKG menyampaikan klarifikasi bahwa OMC dilakukan sebagai bagian dari upaya adaptasi terhadap menurunnya daya dukung lingkungan dan meningkatnya ancaman perubahan iklim.

"Langkah ini diambil sebagai respons paralel terhadap penurunan daya dukung lingkungan dan meningkatnya ancaman perubahan iklim," demikian keterangan BMKG melalui laman resminya, dikutip dari Kompas, Jumat, 30 Januari 2026.

BMKG menjelaskan, fenomena cold pool merupakan proses meteorologi yang sepenuhnya alami. Cold pool terjadi ketika air hujan menguap di bawah awan badai, menyebabkan udara mendingin, menjadi lebih padat, lalu turun ke permukaan bumi.

BMKG menegaskan, setiap hujan yang terjadi secara alami pasti membentuk cold pool. Oleh karena itu, mengaitkan fenomena ini sebagai dampak berbahaya dari OMC dinilai sebagai kekeliruan secara ilmiah.

Lebih lanjut, BMKG menjelaskan, OMC dengan teknik penyemaian awan atau cold seeding tidak menciptakan awan baru. 

Teknologi ini hanya bekerja pada awan yang memang sudah terbentuk secara alami di atmosfer. 

Jika OMC berhasil mempercepat turunnya hujan, maka cold pool yang terbentuk secara fisik dan kimiawi akan sama persis dengan cold pool dari hujan alami.

"Dari skala energi pun, tidak bisa dibenarkan. Ditinjau dari skala energi, teknologi manusia saat ini belum mampu menciptakan massa udara dingin dalam skala besar," kata BMKG.

"Melalui modifikasi cuaca, manusia hanya memicu proses alami pada awan yang sudah jenuh, alih-alih membangun sistem pendingin atmosfer raksasa," lanjut BMKG.

Terkait narasi OMC memindahkan hujan ke wilayah lain dan berpotensi menimbulkan banjir di daerah tetangga, BMKG menjelaskan terdapat dua metode utama yang digunakan dalam pelaksanaan OMC untuk melindungi wilayah strategis.

Metode pertama adalah Jumping Process Method, yakni mendeteksi suplai awan dari laut seperti Laut Jawa atau Samudra Hindia menggunakan radar, kemudian melakukan penyemaian sebelum awan tersebut mencapai daratan agar hujan turun di wilayah perairan.

Metode kedua adalah Competition Method, yang diterapkan pada awan yang tumbuh langsung di atas daratan. 

Penyemaian dilakukan sejak dini untuk mengganggu pertumbuhan awan agar tidak berkembang menjadi awan Cumulonimbus yang masif, tanpa menghilangkan keberadaan awan tersebut.

Dengan pendekatan tersebut, BMKG menegaskan OMC tidak bertujuan memindahkan hujan ke wilayah pemukiman lain.

Meski demikian, BMKG mengakui bahwa kemampuan lingkungan dalam merespons air hujan menjadi faktor penting dalam menentukan terjadinya banjir. 

BMKG menyoroti fakta hilangnya sekitar 800 situ di wilayah Jabodetabek sejak 1930-an yang menyebabkan berkurangnya daerah resapan air dan meningkatkan potensi banjir.

"Pun, fakta hilangnya sekitar 800 situ di Jabodetabek sejak 1930-an menjadi faktor utama kurangnya daerah resapan dan berpotensi menjadi pemicu banjir," kata BMKG.

Oleh karena itu, BMKG menilai penataan lingkungan tetap menjadi langkah paling utama dalam penanganan banjir. 

Namun, secara paralel, upaya pengurangan curah hujan melalui OMC dinilai masih diperlukan agar volume air hujan yang turun dapat lebih sesuai dengan kondisi lingkungan saat ini.

Tags BMKG Banten Cuaca Ekstrem Prakiraan Cuaca