TANGERANGNEWS.com-Sering terbangun di malam hari untuk buang air kecil kerap kali dianggap sepele dan dinilai sebagai bagian normal dari proses penuaan.
Padahal, dalam dunia medis, kondisi ini bisa menjadi sinyal awal terjadinya pembesaran prostat jinak atau Benign Prostatic Hyperplasia (BPH).
Gangguan ini nyatanya dialami oleh sekitar 50% pria berusia di atas 50 tahun dan melonjak hingga 80–90% pada usia 80 tahun ke atas.
Karena gejalanya berkembang secara perlahan, banyak pria menunda pemeriksaan ke dokter. Akibatnya, sebagian besar pasien baru datang ketika kualitas tidur serta aktivitas sehari-hari sudah sangat terganggu, atau bahkan saat komplikasi serius seperti infeksi saluran kemih, batu kandung kemih, hingga gangguan fungsi ginjal sudah terjadi.
Dokter Spesialis Urologi di Primaya Hospital Kelapa Gading dr. Elita Wibisono, Sp.U., menyatakan banyak pasien menganggap pancaran urine yang melemah atau sering terbangun malam hari untuk buang air kecil sebagai hal yang wajar karena faktor usia.
“Akibatnya, mereka baru datang ke dokter ketika sudah mengalami komplikasi, bahkan hingga tidak bisa buang air kecil sama sekali,” jelasnya dikutip Jumat 19 Juni 2026.
Mengenal Nokturia dan Dampaknya pada Keharmonisan Pasangan
Secara medis, kondisi sering terbangun di malam hari untuk buang air kecil dikenal dengan istilah nokturia. Pembesaran prostat terjadi ketika kelenjar prostat membesar dan menekan saluran kemih, memicu gejala seperti pancaran urine melemah, rasa tidak tuntas saat berkemih, hingga urine menetes di akhir buang air kecil.
Jika seseorang harus bangun tiga hingga lima kali setiap malam untuk ke toilet, kualitas tidurnya otomatis akan rusak. Dampak lanjutannya adalah tubuh menjadi mudah lelah, konsentrasi menurun, dan produktivitas sehari-hari ikut merosot tajam.
Lebih jauh, dr. Elita menekankan bahwa efek BPH tidak berhenti pada gangguan fisik saja, tetapi juga merembet pada kualitas hubungan interpersonal. Gangguan tidur kronis ini nyatanya turut mengganggu tidur pasangan yang berada di sampingnya.
Rasa frustrasi akibat gangguan berkemih ini juga dapat menurunkan rasa percaya diri pria, mempengaruhi suasana hati, hingga berdampak pada kedekatan serta kehidupan seksual bersama pasangan.
“Kesehatan prostat erat kaitannya dengan kualitas hidup dan kebahagiaan pasangan. Ketika gejala terus mengganggu aktivitas sehari-hari, rasa percaya diri pria dapat menurun dan berdampak pada hubungan interpersonal maupun kehidupan seksual,” ungkapnya.
Tips Pencegahan dan Solusi Medis Modern Tanpa Sayatan
Meskipun faktor usia tidak dapat dihindari, dr. Elita menjelaskan bahwa perkembangan penyakit prostat dapat diperlambat melalui penerapan gaya hidup sehat sejak dini. Beberapa tips yang bisa dilakukan antara lain:
Bagi pasien yang membutuhkan tindakan medis, kabar baiknya adalah penanganan prostat kini jauh semakin nyaman berkat kemajuan teknologi.
Saat ini tersedia prosedur minimal invasif seperti TURP dan Rezum yang dilakukan tanpa sayatan pada perut, sehingga masa pemulihan pasien menjadi jauh lebih cepat.
Masyarakat, khususnya pria paruh baya, disarankan untuk segera berkonsultasi ke dokter apabila mulai mengalami perubahan pada pancaran urine, merasa tidak tuntas saat buang air kecil, terbangun lebih dari dua kali setiap malam untuk berkemih, atau muncul rasa nyeri dan darah saat buang air kecil.
“Jangan menunggu hingga tidak bisa buang air kecil atau muncul komplikasi pada ginjal. Gangguan prostat bukan bagian yang harus diterima begitu saja saat menua. Dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, pria tetap dapat menjaga kualitas hidup, produktivitas, dan keharmonisan bersama pasangan. Karena pada akhirnya, prostat yang sehat membantu menjaga hubungan tetap hangat,” tutup dr. Elita.