TANGERANGNEWS.com-Istilah medis Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) yang selama puluhan tahun akrab di telinga kaum wanita kini resmi mengalami perubahan nama.
Para pakar kesehatan dunia menyepakati istilah baru, yaitu Metabolic Reproductive Syndrome (MRS), yang di Indonesia dikenal dengan nama PMOS (Penyakit Metabolik Ovarium Sindrom).
Perubahan besar ini dilakukan demi memperbaiki akurasi diagnosis serta penanganan pada pasien.
Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan - Konsultan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi Eka Hospital BSD dr. Agus Heriyanto Sp.OG, Subsp. FER, MARS, MM, menjelaskan perubahan nama ini didasari oleh tingginya angka underdiagnosis atau kasus yang tidak terdeteksi di masyarakat.
Selama ini, penggunaan kata polycystic (banyak kista) dianggap menyesatkan. Banyak dokter dan pasien terlalu berfokus mencari keberadaan kista kecil pada indung telur melalui pemeriksaan USG.
"Padahal, sekitar 70% pasien terlambat ditangani hanya karena mereka tidak memiliki kista saat diperiksa. PCOS/PMOS sebenarnya bukan penyakit kista, melainkan sebuah gangguan sistem metabolisme dan hormon yang berdampak pada organ reproduksi," urai dr. Agus, Jumat 26 Juni 2026.
Pergeseran Kriteria Diagnosis
Perubahan nama ini membawa tantangan baru, terutama pada kriteria diagnostik yang digunakan dokter.
Pada kriteria diagnosis lama (Kriteria Rotterdam), seorang wanita dinyatakan positif PCOS jika memenuhi minimal dua dari tiga tanda, yaitu gangguan menstruasi, kadar hormon pria (androgen) yang tinggi, dan gambaran indung telur polikistik pada USG.
Kini, kriteria PMOS menggeser fokus utama diagnosis pada aspek metabolik dan hormonal pasien, bukan lagi sekadar visual fisik ovarium lewat USG.
Dokter akan memeriksa lebih dalam mengenai gejala resistensi insulin, obesitas perut, gangguan kolesterol, serta masalah ovulasi.
"Artinya, meskipun hasil USG rahim seorang wanita bersih dari kista, ia tetap dapat didiagnosis mengidap PMOS jika memiliki gangguan haid kronis serta masalah metabolisme tubuh," tambah dr. Agus.
Dampak bagi Pengobatan dan Kesuburan Wanita
Perubahan parameter ini membawa dampak positif berupa deteksi dini yang lebih cepat. Pasien tidak perlu lagi menunggu gejalanya memburuk hingga memicu komplikasi jangka panjang yang destruktif. Beberapa risiko komplikasi yang dapat dicegah meliputi:
1. Infertilitas atau kesulitan hamil.
2. Diabetes melitus tipe 2.
3. Penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah.
4. Gangguan kecemasan (ansietas) hingga depresi.
"Bagi wanita yang mengalami siklus menstruasi tidak teratur, berat badan yang sulit turun, atau sedang berjuang dengan masalah kesuburan, sebaiknya segera melakukan pemeriksaan hormon dan metabolisme secara komprehensif," ujar dr. Agus.
Masyarakat yang membutuhkan diagnosis akurat serta penanganan terpadu mengenai PMOS dapat berkonsultasi langsung dengan dr. Agus Heriyanto di Eka Hospital BSD.
Layanan pendaftaran dapat diakses via appointment center di 1-500-129 atau WhatsApp di 0889-1500-129.