Rabu, 5 Agustus 2026

IDI Nilai Komentar Nirempati Oknum Nakes ke Yurizal Pasien BPJS karena Dipicu Burnout

Tangkapan layar komentar sejumlah akun diduga nakes yang nirempati terhadap Yurizal Tri Chaerawan(@TangerangNews / Istimewa)

TANGERANGNEWS.com- Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menanggapi munculnya komentar yang dinilai tidak berempati dari sejumlah akun yang mengaku sebagai tenaga kesehatan terhadap pasien BPJS Kesehatan bernama Yurizal Tri Chaerawan. 

Organisasi profesi tersebut menilai perilaku seperti itu dapat dipicu kelelahan emosional atau burnout, tetapi tetap tidak dapat dibenarkan apabila dilakukan oleh tenaga kesehatan.

Wakil Ketua Majelis Pengembangan Profesi Kedokteran IDI Mahesa Paranadipa mengatakan, fenomena tersebut harus disikapi secara bijak dan proporsional.

"Di satu sisi, fenomena ini dapat dipicu oleh kelelahan emosional (burnout) atau kurangnya pemahaman digital professionalism sebagian oknum," kata Mahesa, Rabu, 5 Agustus 2026.

Mahesa menegaskan, Kode Etik Kedokteran Indonesia maupun prinsip etika nonmaleficence mengingatkan bahwa konten yang memojokkan pasien dapat merusak kepercayaan publik dan mengikis empati yang menjadi dasar pelayanan kesehatan.

Namun, menurutnya, identitas akun yang mengaku sebagai tenaga kesehatan juga harus dipastikan terlebih dahulu. Ia mengingatkan tidak sedikit akun anonim atau palsu yang mengatasnamakan profesi medis untuk memancing kemarahan publik atau merusak citra tenaga kesehatan.

Apabila akun tersebut terbukti milik tenaga kesehatan, Mahesa menegaskan, pemilik akun tidak dapat berlindung dengan alasan unggahan dibuat dalam kapasitas pribadi.

"Namun, jika akun yang bersangkutan ternyata bukan nakes asli atau akun buatan yang memalsukan identitas, maka masalah ini bergeser dari ranah pelanggaran etik profesi menjadi ranah penipuan publik & tindak pidana ITE (impersonation) yang perlu ditindak oleh aparat penegak hukum," ungkap Mahesa.

Ia menilai persepsi negatif yang muncul di media sosial kerap dipengaruhi tingginya beban kerja, tekanan sistem pelayanan, hingga rasa frustrasi tenaga kesehatan. 

Meski demikian, kondisi tersebut bukan alasan untuk menghilangkan empati terhadap pasien.

"Masalah sistemik dan kelelahan kerja seharusnya disalurkan melalui jalur advokasi resmi dan perbaikan internal organisasi, sementara empati kepada pasien yang dalam posisi rentan (vulnerable) harus tetap dijaga," ucapnya.

Dilansir dari AFU.id, kasus mencuat setelah Yurizal Tri Chaerawan, peserta BPJS Kesehatan asal Bogor yang juga diketahui berprofesi sebagai MC pernikahan itu mengunggah keluhan mengenai lamanya proses penanganan medis yang diterimanya di sebuah rumah sakit.

Dalam unggahannya, Yurizal mengaku harus menunggu sekitar delapan jam untuk mendapatkan ruang perawatan.

"8 jam belum dapat ruangan. Gamau spill RS nya, soalnya gue pake BPJS," tulis Yurizal di akun Threads miliknya.

Unggahan tersebut kemudian mendapat sejumlah komentar yang menuai kecaman publik. Beberapa di antaranya berbunyi. 

"PPnya kayak orang have tapi aslinya haven't kah? haven't some brain cells," tulis akun yang diduga milik seorang dokter.

"Potong aja kak nadinya nanti juga cepet dapet ruangan," tulis akun yang diduga milik seorang perawat.

Belakangan, sepupu Yurizal melalui akun Threads @hilperd mengabarkan bahwa Yurizal meninggal dunia pada 31 Juli 2026.

"Yurizal sender ini sepupu saya, sudah meninggal 31 juli kemarin, karena terlambat ditanganin RS karena sudah gawat bgt. Maafin sepupu saya kalo curhat gini di Threads, sebelumnya dia sakit ga pernah cerita-cerita ke mana-mana bahkan ke keluarga, apa-apa nyimpen sendiri. Sudah ya jgn ada hate lg di sini," tulis akun tersebut.

Tags Berita Kesehatan Berita Viral Pasien BPJS Tenaga Kesehatan Tangerang