TANGERANGNEWS.com- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau 2026 di sejumlah wilayah Indonesia dapat berlangsung lebih panjang.
Kondisi kemarau secara umum diprediksi berakhir pada pertengahan hingga akhir Oktober, meski beberapa wilayah dapat mengalami kondisi kering hingga November.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan, kondisi tersebut berkaitan dengan pengaruh fenomena El Nino yang diperkirakan masih bertahan hingga awal 2027.
"BMKG memprediksi fenomena El Niño akan terus bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98% dan kategori kuat sebesar 62%, namun demikian dampaknya untuk wilayah Indonesia ketika bertemu periode musim kemarau hingga pertengahan bulan Oktober," kata Ardhasena, dikutip dari dw.com, Kamis 20 Agustus 2026.
Berdasarkan pemutakhiran data BMKG hingga Juni 2026, durasi musim kemarau berbeda-beda di setiap kawasan.
Sumatra diperkirakan mengalami kemarau selama 3 hingga 28 dasarian atau sekitar 30-280 hari.
Di Pulau Jawa, musim kemarau berlangsung sekitar 11-30 dasarian atau 110-300 hari. Sementara Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) diperkirakan mengalami kemarau selama 19-29 dasarian atau 190-290 hari.
Untuk wilayah Kalimantan, durasi kemarau diperkirakan mencapai 4-18 dasarian atau 40-180 hari.
Sulawesi sekitar 5-28 dasarian atau 50-280 hari, sedangkan Maluku Utara, Maluku, dan Papua sekitar 3-23 dasarian atau 30-230 hari.
Dalam laporan Prakiraan Cuaca Periode 14-20 Agustus 2026, BMKG mencatat sekitar 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.
Kondisi atmosfer pada periode tersebut masih dipengaruhi El Nino dengan intensitas sangat kuat serta kecenderungan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
Kondisi tersebut menyebabkan suplai uap air berkurang sehingga sebagian besar wilayah Indonesia berada dalam kondisi atmosfer yang lebih kering.
Meski demikian, hujan lokal masih berpeluang terjadi di sejumlah daerah karena dinamika atmosfer regional dan lokal tetap dapat mendukung pertumbuhan awan hujan.
Pada periode 14-20 Agustus, potensi hujan masih terdapat di sejumlah wilayah, antara lain Aceh, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, hingga Papua Pegunungan.
BMKG mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk mengantisipasi dampak musim kemarau dengan menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan.
Masyarakat juga diminta tidak membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar, terutama di wilayah yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan kawasan hutan.
Jika menemukan indikasi titik api atau hotspot, masyarakat diminta segera melaporkannya kepada pihak berwenang.