Kamis, 1 Oktober 2026

Kapan Pasien Jantung Koroner Perlu Memilih Metode Operasi CABG atau PCI Complex? Simak Kata Ahli

Ilustrasi penyakit jantung.(@TangerangNews / Istimewa)

TANGERANGNEWS.com-Bagi pasien yang telah disarankan menjalani operasi bypass jantung atau Coronary Artery Bypass Grafting (CABG), namun terkendala usia lanjut di atas 70 tahun, memiliki gangguan fungsi ginjal, penyakit penyerta, atau mengalami infeksi menjelang operasi, kini terdapat pilihan penanganan medis melalui kateter yang tidak memerlukan pembelahan dada, yakni PCI Complex.

Penyakit jantung koroner sendiri terjadi akibat penyempitan atau penyumbatan pada pembuluh darah yang memasok darah ke jantung.

Pada kondisi tertentu, dokter umumnya merekomendasikan CABG untuk membuat jalur baru aliran darah melewati pembuluh yang tersumbat.

Namun, karena CABG merupakan operasi besar, kondisi tubuh pasien perlu dipertimbangkan secara menyeluruh.

Menurut Dr. dr. Isman Firdaus, Sp.JP(K), MPH, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Interventional Kardiologi dan Kritikal Kardiolog RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, pendekatan melalui kateter dapat menjadi pilihan bagi pasien tertentu yang memiliki risiko operasi tinggi atau tidak bersedia menjalani CABG.

"Kita tidak hanya melihat sumbatan di pembuluh darah, tetapi juga kondisi pasien secara keseluruhan, termasuk usia, fungsi ginjal, penyakit penyerta, kondisi infeksi, serta risiko tindakan," ujarnya, Rabu 30 September 2026.

 

Mengenal Prosedur PCI Complex

PCI (Percutaneous Coronary Intervention) merupakan tindakan medis untuk membuka penyumbatan pembuluh darah jantung menggunakan kateter.

Prosedur ini disebut PCI Complex karena dikhususkan untuk menangani kasus yang lebih rumit, seperti penyumbatan total, sumbatan panjang, pembuluh darah berkelok, kalsifikasi berat, hingga penyumbatan pada percabangan pembuluh darah.

Berbeda dengan CABG, tindakan PCI dilakukan tanpa membelah dada. Kateter berukuran kecil dimasukkan melalui pembuluh darah, salah satunya lewat pergelangan tangan, lalu diarahkan menuju area penyumbatan di jantung.

"Dengan bantuan teknologi pencitraan di ruang Cath Lab, dokter membuka sumbatan menggunakan perangkat khusus dan memasang stent (ring) untuk menjaga pembuluh darah tetap terbuka," terang dr. Isman.

 

Penanganan untuk Lansia dan Gangguan Ginjal

Usia di atas 70 tahun tidak otomatis menjadi penghalang untuk menjalani prosedur PCI Complex, sebab penentu utamanya adalah kondisi klinis pasien secara menyeluruh.

Begitu pula dengan riwayat gangguan fungsi ginjal. Meskipun penggunaan zat kontras dalam PCI perlu diperhitungkan secara cermat, gangguan ginjal tidak serta-merta membuat pasien tertutup dari opsi tindakan ini.

Begitu pula jika pasien mengalami infeksi menjelang tindakan, dokter akan menilai tingkat urgensi, kondisi jantung, serta risiko dari masing-masing pilihan terapi.

"Setiap pasien berbeda. Karena itu, keputusan antara CABG dan PCI harus berdasarkan kondisi klinis dan anatomi pembuluh darah pasien, bukan hanya berdasarkan usia atau satu penyakit penyerta," tegas dr. Isman.

 

Pemulihan Lebih Singkat Tanpa Operasi Terbuka

Karena tidak memerlukan pembelahan dada, proses pemulihan pasien pascatindakan PCI Complex umumnya berlangsung lebih singkat dibandingkan operasi jantung terbuka.

Pada pasien yang stabil tanpa komplikasi, waktu perawatan relatif singkat dan diperbolehkan pulang sekitar tiga hari pascatindakan.

Kendati demikian, PCI Complex tidak serta-merta menggantikan posisi CABG untuk semua kasus. "Keputusan ideal harus melalui penilaian komprehensif oleh tim medis (Heart Team) guna mempertimbangkan anatomi pembuluh darah, risiko, serta kenyamanan pasien," ujar dr. Isman.

Bagi pasien maupun keluarga yang menghadapi kendala serupa, berkonsultasi secara mendalam dengan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah menjadi langkah awal terbaik untuk menentukan pilihan terapi yang paling tepat.

Tags