Jumat, 30 Oktober 2026

Kanker Payudara Stadium Lanjut Bukan Akhir Segalanya, Simak Terapi Modern Fokus Kendalikan Sel

Dokter Spesialis Bedah Onkologi di Eka Hospital BSD, Dr. dr. Sonar Soni Panigoro, Sp.B, Subsp. Onk. (K) M.Epid, MARS.(TangerangNews / Rangga Agung Zuliansyah)

TANGERANGNEWS.com-Mendengar diagnosis kanker payudara stadium lanjut kerap memicu kepanikan, rasa sedih, hingga perasaan putus asa pada pasien dan keluarga. Kondisi ini sering kali dianggap sebagai garis akhir karena penyakit dinilai sudah sulit disembuhkan.

Namun, seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu kedokteran dan teknologi pengobatan modern, paradigma tersebut tidak lagi sepenuhnya tepat.

Dokter Spesialis Bedah Onkologi di Eka Hospital BSD, Dr. dr. Sonar Soni Panigoro, Sp.B, Subsp. Onk. (K) M.Epid, MARS menjelaskan bahwa pasien dengan kanker payudara stadium lanjut saat ini memiliki banyak pilihan terapi yang efektif.

“Pengobatan medis terkini tidak hanya berfokus untuk memperpanjang usia harapan hidup, tetapi juga mengendalikan penyebaran sel kanker sekaligus memastikan pasien tetap memiliki kualitas hidup yang baik dan bebas dari rasa nyeri,” ujarnya, Rabu 28 Oktober 2026.

 

Ancaman di Usia Muda dan Pentingnya Deteksi Dini

Dr. Sonar menyoroti tren peningkatan kasus kanker yang kini makin memprihatinkan, bahkan menyasar usia yang sangat muda.

Kasus termuda yang pernah ia temukan ada di usia 18 tahun. Karena itu, deteksi dini sangat krusial. Begitu memasuki masa akil balik, perempuan disarankan melakukan pemindaian (screening) USG setidaknya 2 hingga 3 tahun sekali.

"Meski di bawah usia 30 tahun tergolong jarang, tapi setelah melewati usia 30 tahun, pemeriksaan harus dilakukan lebih sering," jelasnya.

Sayangnya, tingkat kesadaran masyarakat Indonesia terhadap bahaya dan pencegahan kanker dinilai belum mengalami peningkatan signifikan sejak tahun 1970-an.

Hal ini diperparah oleh maraknya informasi salah (hoaks) seputar kanker serta meningkatnya jumlah perokok aktif di usia muda.

"Padahal edukasi terus kami berikan, namun masyarakat masih banyak yang terpapar informasi yang salah. Banyak yang percaya mitos daripada penjelasan medis," tambah Dr. Sonar.

 

Karakteristik Kanker Payudara Stadium Lanjut

Secara medis, kanker payudara dikategorikan ke dalam stadium lanjut melalui dua fase utama:

Stadium III: Sel kanker telah tumbuh membesar, menempel pada dinding dada atau kulit payudara, serta menyebar luas ke kelenjar getah bening di sekitar ketiak, namun belum menyebar ke organ tubuh lain.

Stadium IV (Metastasis): Sel kanker telah menyebar jauh dari payudara menuju organ vital lain seperti tulang, paru-paru, hati (liver), atau otak.

Dr. Sonar menjelaskan bahwa pada fase ini, pendekatan terapi yang diberikan sangat berbeda dengan kanker stadium awal (stadium I atau II).

“Jika pada stadium awal fokus utamanya adalah penyembuhan total melalui operasi pengangkatan tumor, maka pada stadium lanjut, fokus terapi bergeser pada upaya memperlambat penyebaran sel kanker hingga menekan kanker masuk ke fase remisi (tidak aktif),” ungkapnya.

 

Pilar Penanganan Kanker Modern

Menurut Dr. Sonar, penanganan kanker payudara stadium lanjut bersifat sangat personal (personalized medicine) dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien berdasarkan hasil biopsi serta jenis sel kanker.

Tim dokter umumnya akan merancang kombinasi dari beberapa pilar pengobatan berikut:

Terapi Sistemik (Kemoterapi): Melawan dan menghancurkan sel kanker yang membelah cepat di seluruh aliran darah.

Terapi Target (Targeted Therapy): Bekerja spesifik menyerang sel kanker dengan protein tertentu (seperti HER2 positif) guna meminimalkan kerusakan sel sehat.

Terapi Hormonal: Menghentikan produksi hormon pemicu pertumbuhan sel pada kasus reseptor hormon positif (ER/PR positif) yang mencakup sekitar 70% kasus.

Tindakan Paliatif (Operasi & Radioterapi): Meredakan nyeri hebat akibat penyebaran ke tulang atau membersihkan luka kanker yang pecah agar tidak infeksi.

 

Upaya Pencegahan

Dr. Sonar menegaskan bahwa ilmu kedokteran hingga kini belum dapat memastikan penyebab tunggal munculnya kanker, karena penyakit ini dipicu oleh multifaktor.

Meski demikian, menerapkan gaya hidup sehat terbukti mampu menekan risiko hingga 40 persen.

"Untuk pencegahan, olahraga dengan prinsip gerakan lebih dari 1,5 jam per minggu sudah sangat lumayan. Namun perlu dipahami, kanker itu multifaktor. Jika ada kasus orang yang rajin olahraga tapi tetap terkena kanker, jangan menyalahkan olahraganya," tegas Dr. Sonar.

Menutup penjelasannya, dr. Sonar mengatakan menjalani pengobatan kanker stadium lanjut diibaratkan seperti lari maraton yang membutuhkan kedisiplinan, kesabaran, serta support system keluarga.

Bagi masyarakat yang membutuhkan konsultasi, second opinion, evaluasi stadium, hingga perencanaan terapi multidisiplin terkini, dapat berkonsultasi langsung dengannya di Eka Hospital BSD.

Tags