Jumat, 27 Februari 2026

Antara Ibadah dan Konsumerisme Ramadhan yang Semakin Komersial

Niptahul Anwar, Mahasiswa Universitas Yuppentek Indonesia.(@TangerangNews / Rangga Agung Zuliansyah)

Oleh: Niptahul Anwar, Mahasiswa Semester Akhir Universitas Yuppentek Indonesia.

 

TANGERANGNEWS.com-Ramadhan secara teologis dimaknai sebagai bulan penyucian diri, penguatan ketakwaan, dan peneguhan solidaritas sosial. Puasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga latihan spiritual untuk membangun empati dan keadilan sosial. Namun dalam dinamika masyarakat urban kontemporer, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta dan wilayah penyangga seperti Tangerang, Ramadhan semakin tampil sebagai momentum ekonomi yang sarat dengan promosi dan konsumsi.

Fenomena ini terlihat jelas dari meningkatnya aktivitas belanja menjelang dan selama bulan suci. Pusat perbelanjaan dipadati pengunjung, kampanye “Ramadhan Sale” mendominasi ruang digital, dan tradisi buka puasa bersama lebih sering digelar di restoran maupun pusat komersial. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Ramadhan telah terintegrasi kuat dalam siklus ekonomi tahunan. Aktivitas konsumsi memang wajar meningkat karena kebutuhan bahan pokok bertambah. Namun yang berkembang bukan hanya pemenuhan kebutuhan, melainkan juga dorongan untuk tampil lebih baru, lebih mengikuti tren, dan lebih representatif secara sosial. Ramadhan secara perlahan dikonstruksi sebagai musim konsumsi kolektif. 

Dalam perspektif teori masyarakat konsumsi, Jean Baudrillard melalui karyanya The Consumer Society menjelaskan bahwa masyarakat modern membeli bukan semata karena fungsi barang, tetapi karena makna simbolik yang melekat padanya. Busana muslim, misalnya, tidak lagi sekadar memenuhi tuntutan religius, tetapi juga menjadi simbol identitas kelas dan gaya hidup. Media sosial memperkuat kecenderungan ini melalui tren “outfit lebaran” dan estetika Ramadhan yang lebih menonjolkan citra visual daripada kedalaman makna spiritual. Religiusitas berpotensi direduksi menjadi representasi performatif. 

Meski demikian, Ramadhan tidak sepenuhnya terseret arus konsumerisme. Tradisi zakat, infak, dan sedekah justru menunjukkan peningkatan signifikan setiap tahun. BAZNAS melaporkan tren kenaikan penghimpunan zakat nasional selama bulan Ramadhan, yang mencerminkan kuatnya solidaritas sosial umat. Fakta ini memperlihatkan adanya paradox di satu sisi konsumsi meningkat, di sisi lain kepedulian sosial juga menguat. Komersialisasi dan spiritualitas berjalan berdampingan dalam ruang yang sama. 

Dalam ranah kebijakan publik, pemerintah berada pada posisi dilematis. Stabilitas harga bahan pokok harus dijaga melalui operasi pasar dan pengawasan distribusi, sementara momentum ekonomi musiman tetap perlu didorong untuk menjaga pertumbuhan. Namun pendekatan struktural saja tidak cukup. Tantangan utamanya terletak pada dimensi kultural: bagaimana masyarakat menempatkan aktivitas ekonomi secara proporsional tanpa kehilangan ruh kesederhanaan yang menjadi inti puasa. 

Pada akhirnya, Ramadhan adalah arena refleksi kolektif tentang relasi antara iman dan kepentingan material. Komersialisasi mungkin menjadi konsekuensi logis dari sistem ekonomi modern, tetapi nilai pengendalian diri dan solidaritas sosial tidak seharusnya terpinggirkan. Ramadhan tidak menolak aktivitas ekonomi, tetapi menuntut etika dalam menjalaninya. Jika orientasi konsumsi lebih dominan daripada orientasi spiritual, maka bulan suci berisiko berubah menjadi sekadar festival belanja tahunan. 

Di situlah ujian sesungguhnya hadir: apakah Ramadhan akan terus tereduksi menjadi perayaan pasar, atau tetap menjadi madrasah moral yang membentuk karakter dan nurani publik secara berkelanjutan.

Tags Artikel Opini Opini