Jumat, 29 Mei 2026

Refleksi Iduladha: Apa yang Sudah Kita Kurbankan?

Juremi Al Kajary.(@TangerangNews / Rangga Agung Zuliansyah)

Oleh: Juremi Al Kajary

 

TANGERANGNEWS.com-Hari ini kita berkumpul di hari yang Agung. Hari pengorbanan, hari ketundukan hamba kepada Sang Khalik Allah Swt., hari raya Iduladha. Iduladha bukan sekadar tentang hewan kurban, juga bukan sekadar takbir. Akan tetapi tentang keimanan, ketaatan, pengorbanan, dan keyakinan penuh kepada aturan atau syariat Allah Swt. dan Rasul-Nya. 

Ketika kita mendengar kisah Nabiyullah Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s., seringkali perhatian kita hanya tertuju pada peristiwa penyembelihan. Padahal jauh sebelum itu, ada keteladanan keimanan dan ketundukan sosok wanita mulia yang luar biasa, ibunda dari Nabi Ismail a.s., Siti Hajar. 

Bayangkan, seorang ibu yang ditinggalkan di lembah tandus Makkah, tanpa ada air, pepohonan, makanan, manusia lain, ataupun bangunan. Yang ada hanya gurun pasir yang panas bersama seorang bayinya, Ismail kecil. 

Dalam sebuah hadis yang masyhur, bagaimana percakapan Siti Hajar dan Nabiyullah Ibrahim diabadikan oleh Rasulullah saw., dari Ibnu Abbas r.a.berkata;

ثُمَّ قَفَّى إِبْرَاهِيمُ مُنْطَلِقًا، فَتَبِعَتْهُ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ فَقَالَتْ: يَا إِبْرَاهِيمُ، أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهَذَا الوَادِي، الَّذِي لَيْسَ فِيهِ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ؟ فَقَالَتْ لَهُ ذَلِكَ مِرَارًا، وَجَعَلَ لاَ يَلْتَفِتُ إِلَيْهَا، فَقَالَتْ لَهُ: آللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا؟ قَالَ نَعَمْ، قَالَتْ: إِذَنْ لاَ يُضَيِّعُنَا،

“Kemudian Nabi Ibrahim pergi meninggalkan mereka (Siti Hajar dan Ismail kecil). Maka ibunya Ismail mengikuti sambil berkata; 'Wahai Ibrahim, di mana engkau pergi meninggalkan kami di lembah yang tidak ada manusia dan apapun ini? Apakah Allah yang memerintahkan ini? Nabi Ibrahim menjawab; benar. Siti Hajar berkata: "Kalau begitu Allah Swt. tidak akan menyia-nyiakan kami."

Saudaraku kaum muslimin, kalimat ini bukan keluar dari orang yang melihat kemudahan. Akan tetapi keluar dari hati yang dipenuhi keimanan dan keyakinan kepada syariat Allah Azza wa Jalla. 

Siti Hajar dan bayinya bertahan di lembah tandus itu. Ia berlari antara Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali demi mencari air untuk bayinya. Inilah simbol perjuangan, pengorbanan, ikhtiar, dan tawakal tingkat tinggi. Dari pengorbanan seorang ibu salihah inilah, Allah keluarkan air zam-zam yang terus mengalir hingga hari ini. 

Wahai kaum muslimin, kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa ketika manusia tunduk total kepada Allah Swt., maka pertolongan Allah akan datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Sayangnya, keadaan umat muslim hari ini banyak yang malu dengan syariat Allah dan Rasul-Nya. Syariat atau hukum Allah sering dianggap kuno dan tidak relevan. Banyak yang bangga dengan hukum buatan manusia. Atau bahkan lebih percaya dengan ideologi sosialisme maupun kapitalisme dibanding dengan ideologi Islam. 

Padahal Allah Swt. berfirman di dalam Al-Qur'an surah Al-Jatsiyah:18;

ثُمَّ جَعَلْنٰكَ عَلٰى شَرِيْعَةٍ مِّنَ الْاَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ

"Kemudian Kami jadikan Engkau (Muhammad), berada di atas suatu syariat dari urusan agama itu, maka ikutilah syariat itu. Dan jangan mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui."

Saudaraku kaum muslimin, syariat Islam bukan hanya sekadar salat, zakat, puasa, atau haji saja. Akan tetapi Islam adalah aturan hidup yang sempurna dan paripurna. Di dalamnya Islam mengatur akhlak, ekonomi, pendidikan, pergaulan (ijtima'i), keluarga, hukum (uqubat), hingga urusan pemerintahan. Jadi, Islam datang bukan sekadar untuk menghiasi masjid, tetapi untuk mengatur kehidupan manusia dan alam semesta. 

Sayangnya, Islam saat ini tidak diadopsi sebagai aturan. Yang terjadi, kaum muslimin mengalami banyak krisis. Krisis malu, kerusakan moral, riba merajalela (judol dan pinjol), zina dianggap sesuatu yang biasa, kezaliman pun terjadi di mana-mana.

Semua kerusakan itu bukan tanpa sebab, bukan pula karena kemajuan zaman. Tetapi karena banyak manusia meninggalkan petunjuk Allah Swt.. Ketika manusia jauh dari syariat Allah dan Rasul-Nya, maka hati menjadi gersang. Sebagaimana padang pasir tempat Siti Hajar dulu ditinggalkan. Hanya saja bedanya padang pasir tempat Siti Hajar, melahirkan air zam-zam karena ada keimanan, ikhtiar, dan tawakal. Sedangkan hati manusia hari ini sering kering karena jauh dari Al-Qur'an dan As-sunnah. 

Kaum muslimin, sesungguhnya iduladha mengajarkan bahwa kemenangan lahir dari pengorbanan. Nabi Ibrahim mengorbankan perasaannya. Siti Hajar mengorbankan kenyamanannya. Nabi Ismail mengorbankan dirinya demi ketaatan kepada Allah Swt.. Lalu pertanyaannya, di Iduladha ini apa yang kita kurbankan untuk agama Allah ini? 

Sementara kita masih seringkali lalai. Kita masih seringkali sulit meninggalkan riba, masih sulit menutup aurat, menjaga lisan, menegakkan salat berjamaah, masih enggan untuk menuntut ilmu agama, bahkan seringkali kita malu untuk menunjukkan identitas Islam kita.

Kaum muslimin, mari kita jadikan iduladha ini sebagai momentum untuk kembali kepada syariat Allah secara kaffah. Sebagaimana yang Allah perintahkan kepada kita di dalam surah Al-Baqarah ayat 208;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْم كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan)."

Allah Swt. dengan jelas dan tegas memerintahkan kepada kita untuk mematuhi dan mengamalkan syariat-Nya secara kaffah (keseluruhan), bukan mengambil sebagian yang enak atau cocok dan membuang sebagian lagi yang dirasa berat atau tidak enak. 

Sebab, keimanan sejati adalah tunduk sepenuhnya kepada Allah Swt., tunduk kepada semua syariat-Nya, sebagaimana keimanan keluarga Nabiyullah Ibrahim a.s. tunduk terhadap perintah-Nya. Hanya dengan ketundukan terhadap syariat-Nya, keluarga kita, masyarakat kita, negeri kita, akan mendapat keberkahan. Oleh karena itu syariat ini bukan hanya syariat yang diperintahkan kepada individu saja, tetapi juga syariat yang wajib diterapkan atau dipatuhi oleh masyarakat, juga negara. Dengan ketiga pilar inilah syariat Allah Swt. baru bisa kita amalkan secara kaffah. 

Wallahu a'lam bi ashshawab.

 

Tags