TANGERANGNEWS.com-Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah melakukan penelitian mendalam terkait karakteristik partikulat halus atau PM2.5 di Kota Tangerang Selatan (Tangsel).
Riset ini bertujuan untuk mengidentifikasi komposisi kimia, sumber pencemar, serta kaitannya dengan faktor meteorologi dan kesehatan masyarakat sebagai dasar ilmiah pengendalian pencemaran udara perkotaan.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Novita Ambarsari menjelaskan bahwa riset ini merespons meningkatnya perhatian publik terhadap kualitas udara di Tangsel dalam beberapa tahun terakhir.
“Kami ingin mengetahui karakter polutannya, termasuk apakah sumber pencemar berasal dari dalam wilayah Tangerang Selatan atau dipengaruhi daerah sekitar,” ujar Novita dikutip Rabu 22 Juli 2026.
Tangsel dipilih karena memiliki tingkat mobilitas kendaraan yang tinggi serta berfungsi sebagai wilayah lintasan kota penyangga Jakarta, sehingga berpotensi menerima polusi lintas wilayah.
Dalam penelitian ini, tim tidak hanya mengukur konsentrasi PM2.5, tetapi juga sejumlah gas pencemar seperti nitrogen dioksida (NO₂), sulfur dioksida (SO₂), ozon (O₃), dan amonia (NH₃) yang berperan dalam pembentukan partikulat sekunder di atmosfer.
Untuk mendapatkan hasil yang komprehensif, BRIN menganalisis komposisi kimia PM2.5 menggunakan metode pengambilan sampel berbasis filter (MiniVol Air Sampler).
Sampel tersebut kemudian diuji di laboratorium guna mengungkap kandungan senyawa organik, ion, logam, hingga morfologi partikel.
“Metode ini memungkinkan sampel PM2.5 dianalisis di laboratorium sehingga tidak hanya mengukur konsentrasi, tetapi juga mengungkap kandungan rinci, seperti senyawa organik, ion, logam, dan morfologi partikel, yang tidak dapat diperoleh dari sensor pemantauan kualitas udara,” jelas Novita.
Pelaksanaan riset ini dilakukan bersama Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangsel dengan memadukan data pemantauan kontinu dan hasil analisis laboratorium.
Hasil kajian awal menunjukkan bahwa konsentrasi polutan di perkotaan sangat dipengaruhi oleh kepadatan aktivitas transportasi serta kondisi meteorologi, seperti arah dan kecepatan angin serta curah hujan.
“Di kawasan perkotaan seperti Tangerang Selatan, kepadatan transportasi menjadi sumber emisi utama. Sementara kondisi meteorologi turut menentukan tinggi rendahnya konsentrasi polutan, sehingga keduanya perlu dikaji secara bersamaan,” tambahnya.
Mengingat temuan sebelumnya di berbagai wilayah menunjukkan kaitan erat antara peningkatan aerosol dan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), riset ini diharapkan mampu memberikan gambaran rinci bagi pemerintah daerah, dalam merumuskan kebijakan pengendalian pencemaran udara yang tepat sasaran.
Ke depan, BRIN berencana mengembangkan kajian senyawa Polycyclic Aromatic Hydrocarbon (PAH) pada PM2.5, air hujan, dan fase gas guna memperkaya data pencemar udara di kawasan Jabodetabek.
Novita menegaskan bahwa pengendalian pencemaran udara memerlukan sinergi lintas sektor agar kebijakan yang dihasilkan lebih efektif dan berbasis bukti ilmiah.