TANGERANGNEWS.com-Praktisi keamanan siber asal Indonesia, Stephanus Sunarto Purnomo, berhasil menemukan celah keamanan pada sistem NASA. Setelah melalui proses validasi mendalam, celah ini berpotensi memaparkan lebih dari 5.000 kredensial internal.
Temuan bermula dari kerentanan (vulnerability) yang pada penilaian awalnya berada pada tingkat Medium–High.
Namun, melalui validasi manual, analisis security control, serta attack-path analysis, Stephanus mendapati dampak kerentanan tersebut ternyata berpotensi jauh lebih besar.
Atas kontribusinya dalam melaporkan temuan ini melalui mekanisme responsible disclosure, Stephanus sukses memperoleh Letter of Recognition (LOR) dari NASA.
Menurut Stephanus, sebuah kerentanan tidak bisa dinilai hanya berdasarkan tingkat keparahan individual (severity) saja.
"Sejumlah kelemahan yang tampak sepele bisa berdampak masif ketika dikombinasikan dan membentuk sebuah jalur serangan (attack path)," ujarnya, dikutip Jumat 4 September 2026.
Dalam penelitiannya, ia menganalisis efektivitas batasan keamanan (security boundary) sistem saat diuji dengan skenario realistis.
Dari sana, analisis berkembang mulai dari kerentanan awal, security control bypass, pelanggaran batas akses, hingga akhirnya menemukan paparan lebih dari 5.000 catatan kredensial (credential records).
Kendati demikian, ia menegaskan bahwa jumlah kredensial yang terpapar bukanlah satu-satunya indikator risiko, sebab dampaknya turut bergantung pada tingkat hak akses, validitas, cakupan sumber daya, serta keterkaitannya dengan celah lain.
Stephanus juga menyoroti pentingnya peran analisis manual dalam pengujian keamanan, mengingat pemindai otomatis (automated scanner) belum tentu mampu merajut hubungan antar-temuan menjadi sebuah attack path.
"Scanner bisa menemukan vulnerability. Tetapi memahami bagaimana vulnerability tersebut berubah menjadi attack path membutuhkan cara berpikir yang berbeda," katanya.
Dalam melakukan riset ini, Stephanus memegang teguh prinsip etika dengan membatasi pengujian sebatas pembuktian kerentanan tanpa merusak sistem, mengganggu layanan, mengubah data, maupun menyebarluaskan informasi sensitif.
Detail teknis seperti endpoint, token, dan metode bypass sengaja dirahasiakan demi mencegah potensi penyalahgunaan.
Selain berkarier di sektor perbankan Indonesia dengan keahlian di bidang Cyber Security, Vulnerability Management, hingga Incident Response, Stephanus juga aktif membagikan pengalaman praktisnya sebagai mentor cyber security di salah satu perguruan tinggi di Indonesia.
Pengakuan internasional dari NASA ini sekaligus membuktikan bahwa talenta keamanan siber Indonesia mampu bersaing dan memberikan kontribusi nyata dalam ekosistem keamanan digital global.
"Cybersecurity bukan tentang seberapa jauh kita dapat menembus sebuah sistem. Cybersecurity adalah tentang menemukan kelemahan sebelum dimanfaatkan pihak yang berniat buruk, membuktikan risikonya, dan membantu membuat sistem menjadi lebih aman," pungkasnya.