Kamis, 2 Juli 2026

Siklus 4 Tahun Bitcoin Berakhir? Tiga Analisis Teknikal Ini Beri Gambaran

Ilustrasi Bitcoin.(Istimewa / Istimewa)

TANGERANGNEWS.com-Pergerakan harga Bitcoin kembali menjadi perhatian setelah sejumlah analis menemukan sinyal teknikal yang dinilai cukup menjanjikan. Mulai dari retest support jangka panjang hingga peluang bertahan di atas indikator penting, berbagai analisis menunjukkan prospek yang menarik.

Kondisi tersebut juga mendorong meningkatnya minat investor untuk memanfaatkan instrumen future crypto sebagai salah satu alternatif dalam menghadapi volatilitas pasar yang tinggi. Di tengah optimisme tersebut, trader juga mulai mencermati berbagai sinyal teknikal sebelum mengambil keputusan. 

Pasalnya, volatilitas Bitcoin masih tergolong tinggi sehingga setiap peluang perlu dibarengi dengan strategi yang matang. Tidak sedikit pelaku pasar yang memanfaatkan instrumen Bitcoin futures untuk mengantisipasi pergerakan harga, baik ketika pasar berada dalam tren naik maupun turun.

Meski demikian, pertanyaan besar masih muncul di kalangan investor. Apakah siklus empat tahunan Bitcoin yang selama ini menjadi acuan benar-benar mulai berakhir? Beberapa analis teknikal memiliki pandangan yang menarik mengenai kondisi tersebut.

 

Mengenal Siklus Empat Tahunan Bitcoin

Selama bertahun-tahun, pergerakan harga Bitcoin sering dikaitkan dengan siklus empat tahunan. Narasi ini muncul karena adanya peristiwa Bitcoin Halving yang berlangsung setiap sekitar empat tahun sekali dan mengurangi imbalan bagi para penambang.

Secara historis, halving sering diikuti oleh kenaikan harga dalam jangka menengah hingga panjang. Setelah memasuki fase bullish, pasar biasanya mengalami koreksi cukup dalam sebelum kembali membentuk siklus berikutnya.

Namun, seiring bertambahnya jumlah investor institusional dan meningkatnya adopsi Bitcoin secara global, sebagian analis mulai mempertanyakan apakah pola tersebut masih akan terus berulang. 

 

Gert Van Lagen : Retest Support Dinilai Menjadi Sinyal Positif

Salah satu pandangan optimistis datang dari analis teknikal Gert van Lagen. Menurutnya, Bitcoin saat ini sedang melakukan pengujian ulang atau retest terhadap area resistance penting yang sebelumnya berhasil ditembus.

Dalam analisis teknikal, kondisi seperti ini sering dianggap sebagai perkembangan yang sehat. Ketika suatu resistance berhasil ditembus, area tersebut berpotensi berubah fungsi menjadi support baru. Apabila harga mampu bertahan di atas level tersebut, peluang untuk melanjutkan tren kenaikan biasanya akan semakin besar.

Van Lagen menjelaskan bahwa resistance horizontal yang terbentuk sejak 2018, ditambah garis tren turun yang terbentuk beberapa tahun terakhir, kini berhasil dilewati oleh Bitcoin. Setelah breakout terjadi, harga kembali menguji area tersebut sebagai support.

 

Apakah Siklus Empat Tahunan Mulai Kehilangan Relevansi?

Pandangan Van Lagen menjadi menarik karena secara tidak langsung mempertanyakan narasi siklus empat tahunan Bitcoin yang selama ini dipercaya banyak investor.

Ia menilai bahwa struktur pasar Bitcoin saat ini mulai menunjukkan karakteristik yang berbeda. Alih-alih mengalami pola kenaikan dan penurunan yang berulang setiap empat tahun, Bitcoin justru mulai membentuk struktur teknikal yang lebih matang.

Masuknya investor institusional, meningkatnya likuiditas pasar, serta semakin luasnya penggunaan Bitcoin sebagai aset investasi dinilai menjadi beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut.

Dengan kata lain, Bitcoin kini tidak hanya dipengaruhi oleh momentum halving, tetapi juga oleh berbagai faktor makroekonomi, kebijakan moneter, serta permintaan dari investor global.

Jika kondisi tersebut terus berlanjut, kemungkinan besar pola siklus empat tahunan tidak lagi menjadi satu-satunya acuan dalam membaca arah pasar Bitcoin.

 

Struktur Pasar Jangka Panjang Masih Terjaga

Selain melihat area support baru, Van Lagen juga menyoroti struktur harga Bitcoin dalam jangka panjang yang masih menunjukkan tren positif.

Dalam analisis teknikal, struktur pasar dikatakan tetap bullish apabila harga terus membentuk pola higher high dan higher low. Artinya, setiap puncak harga baru lebih tinggi dibandingkan puncak sebelumnya, sedangkan titik terendah baru juga tetap berada di atas level terendah sebelumnya.

Selama pola tersebut masih bertahan, tren naik dianggap belum berakhir meskipun di tengah perjalanan terjadi beberapa kali koreksi.

Inilah alasan mengapa banyak analis tidak langsung menganggap penurunan harga sebagai awal dari tren bearish. Koreksi justru sering dipandang sebagai bagian alami dari pergerakan pasar sebelum melanjutkan kenaikan berikutnya.

 

Michael van de Poppe: Penutupan di Atas 200-Week Moving Average Jadi Konfirmasi Penting

Selain analisis dari Gert van Lagen, pandangan optimistis juga disampaikan oleh analis crypto Michaël van de Poppe. Menurutnya, Bitcoin memang sempat mengalami tekanan hingga menyapu area harga terendah atau liquidity sweep. Namun, kondisi tersebut justru sering menjadi bagian dari proses pembentukan tren baru sebelum harga bergerak lebih tinggi.

Van de Poppe menjelaskan bahwa pelaku pasar tidak seharusnya hanya berfokus pada penurunan harga jangka pendek. Sebaliknya, perhatian perlu diarahkan pada bagaimana posisi harga Bitcoin saat penutupan candle mingguan. 

Indikator yang menjadi sorotannya adalah 200-Week Moving Average (MA). Dalam analisis teknikal, indikator ini dikenal sebagai salah satu acuan utama untuk mengukur arah tren jangka panjang suatu aset. Selama bertahun-tahun, garis tersebut kerap menjadi area support kuat ketika Bitcoin mengalami koreksi besar.

Apabila harga mampu ditutup di atas 200-Week MA, hal itu menunjukkan bahwa tekanan beli masih mendominasi pasar. Sebaliknya, jika harga kembali turun di bawah level tersebut, peluang terjadinya tekanan jual lanjutan akan semakin besar.

 

João Wedson: Kapitulasi Belum Sepenuhnya Berakhir

Berbeda dengan dua analis sebelumnya, CEO Alphractal, João Wedson, memilih memberikan pandangan yang lebih konservatif. Ia mengakui bahwa Bitcoin mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, tetapi belum melihat bukti kuat bahwa fase kapitulasi benar-benar telah berakhir.

Dalam dunia investasi, kapitulasi merupakan kondisi ketika sebagian besar pelaku pasar menyerah akibat tekanan harga yang terus berlanjut. Pada fase ini biasanya terjadi aksi jual besar-besaran yang diikuti oleh kepanikan investor.

Menurut Wedson, siklus kapitulasi Bitcoin pada periode-periode sebelumnya memiliki beberapa ciri khas yang cukup jelas. Salah satunya adalah kerugian besar yang dialami para miner, meningkatnya volatilitas ekstrem dalam waktu singkat, serta munculnya kondisi deep oversold pada berbagai indikator teknikal.

 

Kapitulasi Bisa Menjadi Peluang Akumulasi

Meski terdengar lebih berhati-hati, pandangan Wedson bukan berarti menunjukkan sikap pesimistis terhadap Bitcoin. Sebaliknya, ia justru melihat potensi peluang apabila nantinya pasar benar-benar mengalami kapitulasi yang lebih dalam.

Dalam sejarah Bitcoin, fase kapitulasi sering kali menjadi awal terbentuknya dasar harga (market bottom). Setelah tekanan jual mereda, investor jangka panjang biasanya mulai melakukan akumulasi sehingga perlahan mendorong harga kembali naik.

Karena itu, Wedson mengingatkan investor untuk tidak hanya berfokus pada rasa takut ketika pasar mengalami koreksi. Dengan strategi yang tepat serta pengelolaan risiko yang baik, periode tersebut justru dapat dimanfaatkan sebagai kesempatan membangun posisi investasi secara bertahap.

Kesimpulannya, narasi mengenai siklus empat tahunan Bitcoin memang mulai dipertanyakan seiring berubahnya struktur pasar dan meningkatnya partisipasi investor institusional. Sejumlah analis melihat adanya sinyal teknikal yang menunjukkan bahwa Bitcoin masih memiliki peluang melanjutkan tren naik, terutama apabila mampu mempertahankan area support hasil breakout dan menutup perdagangan di atas 200-Week Moving Average.

Perlu diingat, semua aktivitas jual beli crypto memiliki resiko dan volatilitas yang tinggi karena sifat crypto dengan harga yang fluktuatif. 

Maka dari itu, selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan gunakan dana yang tidak digunakan dalam waktu dekat (uang dingin) sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli bitcoin dan investasi aset crypto lainnya menjadi tanggung jawab para trader dan investor.

Tags Berita Tekno Literasi Keuangan Tekno Tips Keuangan