Connect With Us

Meski Abu Vulkanik Anak Krakatau Mereda, Dokter Ingatkan Risiko yang Mengintai Kesehatan Pernapasan 

Fahrul Dwi Putra | Selasa, 29 September 2026 | 08:37

Ilustrasi warga memakai masker karena udara buruk. (@TangerangNews / Istimewa)

TANGERANGNEWS.com- Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang berlangsung sejak awal September 2026 mulai mereda. 

Namun, paparan abu vulkanik yang sebelumnya menyebar ke sejumlah wilayah tetap perlu menjadi perhatian karena dapat berdampak pada kesehatan, khususnya sistem pernapasan.

Abu vulkanik sempat terbawa angin hingga Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu. 

Berdasarkan laporan BMKG, aktivitas erupsi yang dimulai pada 4 September 2026 menghasilkan kolom abu yang dilaporkan mencapai ketinggian hingga 20.000 kaki ke arah timur dan 50.000 kaki ke arah barat.

Masyarakat yang sempat berada di wilayah terdampak, termasuk Serang dan sekitarnya, tetap dianjurkan memperhatikan kondisi kesehatan meski aktivitas erupsi telah menurun.

Dokter Spesialis Paru Bethsaida Hospital Serang, dr. Rifian Arnanda, Sp. P, menjelaskan, abu vulkanik memiliki karakteristik berbeda dari debu biasa. 

Partikelnya dapat berukuran sangat kecil dan masuk hingga bagian dalam saluran pernapasan.

“Debu vulkanik berbeda dari debu biasa. Partikelnya bisa masuk sangat dalam ke paru-paru dan memicu peradangan serius, terutama pada mereka yang sudah memiliki kondisi pernapasan seperti asma atau PPOK," jelas dr. Rifian. 

Sejumlah keluhan yang perlu diperhatikan setelah terpapar abu vulkanik antara lain batuk kering berkepanjangan, tenggorokan terasa gatal atau teriritasi, sesak napas, dada terasa berat, hidung tersumbat, hingga mata merah dan berair.

Mengi atau suara napas berbunyi juga dapat muncul, terutama pada orang yang memiliki riwayat asma.

Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit paru seperti asma dan PPOK termasuk kelompok yang perlu memberikan perhatian lebih terhadap paparan abu vulkanik.

"Orang dewasa sehat pun tetap dapat mengalami gangguan apabila sebelumnya terpapar abu dalam jumlah cukup banyak," sebutnya.

Cara Mengurangi Paparan Abu

Jika masih terdapat endapan abu di rumah atau lingkungan sekitar, pembersihan sebaiknya dilakukan dengan metode basah. 

Menyapu abu dalam kondisi kering berisiko membuat partikel kembali beterbangan dan terhirup.

Kondisi udara di dalam rumah juga perlu diperhatikan. Ketika udara luar sudah memungkinkan, ventilasi dapat dibuka agar terjadi pertukaran udara. 

Air purifier dengan filter HEPA juga dapat digunakan untuk membantu menyaring partikel halus di dalam ruangan.

Masyarakat yang masih berada di lingkungan berdebu dianjurkan menggunakan masker dengan kemampuan filtrasi partikel yang baik. 

Masker respirator seperti N95 memiliki kemampuan menyaring partikel lebih baik dibandingkan masker kain biasa.

Selain itu, kondisi tubuh perlu tetap dipantau dalam beberapa hari setelah paparan. Batuk, sesak napas, dada terasa berat, atau mengi yang menetap maupun semakin berat sebaiknya tidak diabaikan.

Kenali Kondisi yang Membutuhkan Penanganan Medis

Masyarakat dianjurkan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas yang semakin berat, nyeri dada menetap, napas berbunyi disertai kesulitan berbicara, bibir atau ujung jari membiru, maupun demam tinggi yang disertai keluhan pernapasan.

Evaluasi medis menjadi semakin penting bagi kelompok rentan maupun masyarakat yang memiliki riwayat penyakit paru.

Bethsaida Hospital Serang menyediakan layanan konsultasi dan skrining kesehatan paru dengan dukungan fasilitas diagnostik dan tenaga medis untuk mengevaluasi berbagai keluhan pernapasan.

Direktur Bethsaida Hospital Serang dr. Tirta Mulya mengimbau, masyarakat yang sebelumnya berada di wilayah terdampak untuk tidak mengabaikan keluhan pernapasan setelah paparan abu vulkanik.

"Kami mengimbau seluruh masyarakat di wilayah yang sebelumnya terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau untuk tidak meremehkan keluhan pernapasan yang muncul. Fasilitas dan tenaga medis kami siap memberikan pelayanan terbaik,” pungkasnya.

MANCANEGARA
Ameba Pemakan Otak Mulai Muncul di Berbagai Negara, Ilmuwan Khawatir Kasus Terus Bertambah

Ameba Pemakan Otak Mulai Muncul di Berbagai Negara, Ilmuwan Khawatir Kasus Terus Bertambah

Selasa, 14 Juli 2026 | 13:48

Kematian Jordan Smelski, bocah berusia 11 tahun asal Amerika Serikat, akibat infeksi langka yang disebabkan Naegleria fowleri atau “ameba pemakan otak”, kembali menjadi sorotan setelah para ilmuwan memperingatkan potensi penyebaran organisme tersebut

AYO! TANGERANG CERDAS
Menkeu Suahasil Sebut Rencana Pendidikan Gratis SD hingga Perguruan Tinggi Belum Punya Anggaran Khusus

Menkeu Suahasil Sebut Rencana Pendidikan Gratis SD hingga Perguruan Tinggi Belum Punya Anggaran Khusus

Jumat, 25 September 2026 | 10:54

Rencana pemerintah menggratiskan biaya pendidikan negeri dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi masih dalam tahap penyusunan.

BISNIS
Pakons Prime Hotel Tangerang Hadirkan Wedding Showcase, Tawarkan Paket Mulai Rp32 Juta

Pakons Prime Hotel Tangerang Hadirkan Wedding Showcase, Tawarkan Paket Mulai Rp32 Juta

Jumat, 25 September 2026 | 22:29

Pakons Prime Hotel Tangerang menggelar Showcase Wedding selama dua hari selama tanggal 25 hingga 26 September 2026.

KOTA TANGERANG
Kondisinya Rusak, Empat Halte Bus Tayo Tangerang Diperbaiki

Kondisinya Rusak, Empat Halte Bus Tayo Tangerang Diperbaiki

Senin, 28 September 2026 | 20:53

Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang melakukan perbaikan terhadap sejumlah halte yang mengalami kerusakan.

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill