Connect With Us

Efek Negatif Lembur Bagi Wanita

| Jumat, 7 Februari 2020 | 13:44

Ilustrasi pekerja wanita lembur. (viva / viva)

 

Pada prinsipnya, setiap karyawan berhak dan pantas untuk mengambil lembur, terlepas dari jenis kelaminnya.  Kendati demikian, para pekerja, khususnya wanita, perlu menyadari konsekuensi yang berkemungkinan muncul, apabila sering mengambil lembur di kantor. Pasalnya, kelelahan dari bekerja lembur pasti memberikan efek samping kepada tubuh dan mental.

Menurut penelitian dari European Society of Human Reproduction and Embryology, sebesar 33 persen dari 11.9345 pekerja wanita yang bekerja di malam hari akan mengalami gangguan menstruasi.

Selain itu, wanita yang bekerja dengan waktu kerja rata-rata 60 jam per minggu selama lebih dari tiga dekade memiliki kecenderungan mengalami masalah pada kesuburan, bermasalah pada jantung, artritis, dan juga terserang diabetes.

Tidak hanya penyakit fisik, bekerja lembur juga memberikan beban yang berat kepada otak kita. Bekerja lembur juga meningkatkan stress yang berkepanjangan dan dapat berujung kepada depresi. Jika sudah begini, maka kinerja dan performa seorang karyawan akan menurun dan hal tersebut akan merugikan karyawan itu dan perusahaan.

BANDARA
Jadi Pintu Gerbang Indonesia, Menteri Pendidikan Sayangkan Tulisan Bahasa Inggris Dominan di Bandara Soekarno-Hatta

Jadi Pintu Gerbang Indonesia, Menteri Pendidikan Sayangkan Tulisan Bahasa Inggris Dominan di Bandara Soekarno-Hatta

Kamis, 29 Oktober 2026 | 20:58

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyinggung penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik yang dinilainya masih kalah dominan dibandingkan bahasa Inggris.

MANCANEGARA
Ameba Pemakan Otak Mulai Muncul di Berbagai Negara, Ilmuwan Khawatir Kasus Terus Bertambah

Ameba Pemakan Otak Mulai Muncul di Berbagai Negara, Ilmuwan Khawatir Kasus Terus Bertambah

Selasa, 14 Juli 2026 | 13:48

Kematian Jordan Smelski, bocah berusia 11 tahun asal Amerika Serikat, akibat infeksi langka yang disebabkan Naegleria fowleri atau “ameba pemakan otak”, kembali menjadi sorotan setelah para ilmuwan memperingatkan potensi penyebaran organisme tersebut

OPINI
Supervisi yang Membina, Bukan Sekadar Menilai

Supervisi yang Membina, Bukan Sekadar Menilai

Jumat, 30 Oktober 2026 | 18:29

Bagi sebagian guru, kata “supervisi” masih terdengar seperti jadwal ujian: tegang, penuh persiapan dadakan, lalu lega ketika selesai. Padahal supervisi dirancang untuk membantu guru bertumbuh. Jika hanya berhenti pada pengisian instrumen

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill