TANGERANGNEWS.com-Di tengah masifnya penggunaan media sosial (medsos) dan layanan digital, ancaman kejahatan siber kian mengintai celah keamanan finansial masyarakat.
Hal ini mengemuka dalam Workshop Media Sosial dan Finance yang digelar atas kerja sama Indonesia Social Media Network (ISMN) bersama Tempo Institute dan OCBC.
Acara yang berlangsung pada Senin, 27 Juli 2026 di Lantai 3 Gedung OCBC Space, BSD ini diikuti oleh puluhan pengelola homeless media serta media mainstream.
Fokus utama kegiatan ini adalah membekali para pengelola media dengan literasi digital agar mampu mengenali modus kejahatan siber sekaligus menyebarkan edukasi anti-hoaks kepada publik.
Berikut adalah tips penting dari para pakar untuk melindungi diri dari jerat penipuan digital dan hoaks.
Assisted Channel and Services Head OCBC Rudy Hamdani memaparkan bahwa modus penipuan kini semakin canggih dan kerap menyasar kelompok rentan seperti orang tua usia 60 hingga 70 tahun ke atas.
Meski perbankan telah membuat sistem yang ketat hingga sulit dibobol, namun jika nasabah tidak waspada, pembobolan tetap akan terjadi.
"Fraud justu paling banyak kena nasabah. Pelaku bisa ambil PIN rekening, email, WhatsApp, sosial media. Modusnya bisa pura-pura jadi petugas pajak atau Disdukcapil. Yang paling penting diedukasi, tidak hanya bisa proteksi sistemnya," ujar Rudy.
1. Waspada Modus Phishing & Social Engineering
Jangan pernah memberikan PIN, kata sandi, atau kode OTP kepada siapa pun yang mengaku sebagai petugas instansi resmi (pajak, Disdukcapil, dll).
2. Amankan Perangkat Android
Pastikan sistem operasi (OS) dan security patch selalu diperbarui. Perangkat yang jarang diinstal pembaruan keamanannya sangat rentan disadap.
3. Bijak Menggunakan Smartphone
Meskipun perangkat seperti iPhone cenderung lebih aman karena sistemnya yang tertutup, keteledoran pengguna tetap bisa menjadi celah kejahatan. Selalu bersikap kritis terhadap hal yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan (too good to be true).
4. Tindakan Cepat Saat Terkena Malware
Jangan pernah mengklik tautan (link) atau mengunduh aplikasi sembarangan yang dikirim via WhatsApp.
"Jika telanjur mengeklik dan ponsel mulai dikendalikan pihak lain, biasanya ditandai ponsel mati mendadak, segera matikan HP dan hubungi pihak bank untuk memblokir rekening secepatnya," terang Rudy.
Sementara itu, Koordinator Pemeriksa Cek Fakta Tempo.co Ika Ningtyas menyoroti bagaimana hoaks dapat menggoyangkan perekonomian nasional, seperti isu kelangkaan beras atau emas yang berujung pada panic buying dan kerugian finansial.
Menurut Ika, orang mudah percaya hoaks karena faktor emosi, informasi yang datang terlalu cepat, validasi sosial akibat semua orang ikut membagikan, serta kebiasaan membaca yang tidak teliti dan kurang kritis.
"Diperlukan ketelitian tinggi dan kemampuan cek fakta secara mandiri untuk membongkar hoaks sebagai modus penipuan digital yang kini semakin masif," jelas Ika.
1. Kenali Tiga Jenis Hoaks
Hoaks terbagi menjadi tiga yakni misinformasi di mana informasi yang salah namun disebar karena ketidak tahuan atau tanpa niat jahat. Lalu, Disinformasi yakni informasi salah yang sengaja dibuat untuk niat jahat. Kemudian, malinformasi, yakni informasi benar tapi disalahgunakan untuk tujuan jahat, contohnya seperti doxing.
2. Waspadai Modus Penipuan Umum
Berhati-hatilah terhadap modus penipuan berkedok finansial (belanja online, investasi, bansos, undian, pinjol), kesehatan (obat/alat kesehatan), hingga lowongan kerja fiktif.
3. Ciri Akun dan Website Palsu
Perhatikan penulisan nama akun yang mencatut pesohor atau instansi, misanya misal menggunakan nama artis Nagita Slavina atau akun Dana Paylater, namun memiliki kombinasi angka dan huruf besar-kecil yang tidak wajar.
Waspadai website palsu dengan nama yang mirip aslinya, nomor WhatsApp yang dicantumkan secara terbuka, atau instruksi meminta jawaban lewat kolom komentar.
4. Gunakan Teknologi untuk Cek Fakta
Lakukan verifikasi sumber foto menggunakan Google Image, atau cek keaslian video dan gambar buatan AI menggunakan situs pemeriksa seperti hivemoderation.com.