Connect With Us

Minat Anak Muda Jadi Peneliti Meningkat, BRIN Buka Lowongan Tiap Tahun

Fahrul Dwi Putra | Jumat, 19 Desember 2025 | 14:29

Lini masa sejarah riset dan inovasi Indonesia di kantor BRIN, Jakarta (@TangerangNews / Istimewa)

TANGERANGNEWS.com- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat peningkatan jumlah anak muda yang tertarik menekuni dunia riset dari tahun ke tahun. Tren ini terlihat dari semakin banyaknya mahasiswa yang terlibat dalam berbagai program riset dan inovasi yang dibuka oleh BRIN.

"Kalau dari jumlah mahasiswa yang kami rekrut melalui program-program MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka), kemudian program DPK (Direktorat Pengembangan Kompetensi) ini, tahun demi tahun meningkat," kata Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN, Agus Haryono, Jumat, 19 Desember 2025.

Meski minat generasi muda terhadap riset terus bertambah, Agus mengungkapkan jumlah peneliti yang masuk ke BRIN melalui jalur aparatur sipil negara masih belum optimal. 

Setiap tahun, BRIN membuka sekitar 500 formasi CPNS, namun yang terisi baru sekitar 200 orang.

"Meskipun jumlah CPNS yang masuk ke BRIN, dari setiap tahun kita membuka 500 lowongan. Itu yang masuk itu hanya 200 (orang). Jadi kita masih punya slot lebih agar masyarakat mau menjadi peneliti sekarang," imbuhnya.

Agus menjelaskan, saat ini syarat menjadi peneliti di BRIN minimal lulusan S3, baik dari dalam negeri maupun diaspora Indonesia yang menempuh pendidikan di luar negeri. 

Kebijakan ini berbeda dengan masa lalu, ketika formasi peneliti masih banyak diisi lulusan S1 dan S2.

"Dulu tidak ada slot untuk S3. Dulu slotnya hanya untuk S1-S2. Kalau S1-S2 kan banyak yang masuk se-Indonesia nih. S1-S2 itu syaratnya maksimal 35 tahun, kalau sampai S3 itu usia maksimal 40 tahun. Jadi akan lebih banyak diaspora yang bisa kembali ke Indonesia dalam usia tersebut," jelas Agus usai acara.

Selain CPNS, BRIN juga membuka peluang bagi peneliti melalui jalur Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dengan batas usia maksimal 60 tahun. 

Skema ini diharapkan dapat menjaring lebih banyak peneliti berpengalaman untuk memperkuat ekosistem riset nasional.

Agus menambahkan, BRIN saat ini memiliki Direktur Manajemen Talenta yang secara khusus bertugas merancang berbagai program untuk menumbuhkan minat anak muda terhadap profesi peneliti. 

Mahasiswa dari jenjang S1 hingga S3 didorong agar melihat riset sebagai jalur karier jangka panjang yang menjanjikan.

Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai inisiatif seperti program BRIN Go to School, BRIN Go to Campus, serta penyelenggaraan lomba-lomba riset bagi pelajar dan mahasiswa.

BRIN berharap langkah ini dapat melahirkan generasi peneliti baru yang tidak hanya kompeten, tetapi juga merasa bahagia menekuni dunia riset.

SPORT
Bukan Sekadar Kawasan Bisnis, Sinar Mas Land Hadirkan Platform D.A.N.C.E untuk Perkuat Ekosistem Digital Hub

Bukan Sekadar Kawasan Bisnis, Sinar Mas Land Hadirkan Platform D.A.N.C.E untuk Perkuat Ekosistem Digital Hub

Rabu, 16 September 2026 | 21:56

Pertumbuhan ekosistem digital yang semakin besar sering kali menciptakan tantangan baru, terutama dalam menjaga konektivitas, interaksi, dan peluang kolaborasi antarperusahaan agar berjalan beriringan.

AYO! TANGERANG CERDAS
Open Day Syafana Islamic School Banjir Orangtua, Hampir 1.000 Calon Siswa Sudah Daftar

Open Day Syafana Islamic School Banjir Orangtua, Hampir 1.000 Calon Siswa Sudah Daftar

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 23:53

Antusiasme orangtua untuk menyekolahkan anaknya di Syafana Islamic School terbilang tinggi. Hingga Open Day tahun ajaran 2027-2028 digelar, hampir 1.000 calon siswa telah mendaftarkan diri secara online.

TEKNO
Hadapi Tantangan Industri Ritel, Aprindo Gandeng UBM Serpong Kembangkan Data Sains dan AI

Hadapi Tantangan Industri Ritel, Aprindo Gandeng UBM Serpong Kembangkan Data Sains dan AI

Rabu, 9 September 2026 | 19:46

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) berkolaborasi dengan Universitas Bunda Mulia (UBM) dalam pengembangan inovasi serta pemanfaatan data science dan artificial intelligence (AI) di sektor ritel.

MANCANEGARA
Ameba Pemakan Otak Mulai Muncul di Berbagai Negara, Ilmuwan Khawatir Kasus Terus Bertambah

Ameba Pemakan Otak Mulai Muncul di Berbagai Negara, Ilmuwan Khawatir Kasus Terus Bertambah

Selasa, 14 Juli 2026 | 13:48

Kematian Jordan Smelski, bocah berusia 11 tahun asal Amerika Serikat, akibat infeksi langka yang disebabkan Naegleria fowleri atau “ameba pemakan otak”, kembali menjadi sorotan setelah para ilmuwan memperingatkan potensi penyebaran organisme tersebut

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill