Connect With Us

Dampak Rupiah Melemah, Industri Minuman Kemasan Tertekan Biaya Produksi dan Daya Beli

Rangga Agung Zuliansyah | Jumat, 5 Juni 2026 | 23:57

(Dari kiri ke kanan) Ketua Umum ASRIM Triyono Prijosoesilo, Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kemenperin RI Merrijantij Punguan Pintaria dan Peneliti Senior CORE Indonesia Muhammad Ishak Razak. (@TangerangNews / Rangga Agung Zuliansyah)

TANGERANGNEWS.com-Industri makanan dan minuman nasional, khususnya sektor minuman kemasan, terus menunjukkan resiliensinya sebagai salah satu tulang punggung manufaktur di Indonesia.

Sektor ini menjadi penopang utama konsumsi domestik di tengah ketidakpastian ekonomi global, ketegangan geopolitik, serta pelemahan nilai tukar rupiah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dicatat oleh Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, ekonomi nasional pada triwulan I-2026 tumbuh sebesar 5,61 persen secara tahunan (year-on-year).

Industri pengolahan masih memegang porsi kontribusi terbesar terhadap PDB nasional, yakni mencapai 19,07 persen, di mana subsektor makanan dan minuman menyumbang sekitar 7,31 persen di dalamnya.

Meski mencatatkan angka pertumbuhan makro yang positif, realita di lapangan menunjukkan bahwa pemulihan industri ini belum berjalan secara ideal.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Minuman Dalam Kemasan (ASRIM), Triyono Prijosoesilo, mengungkapkan bahwa industri makanan dan minuman memang membukukan pertumbuhan positif sebesar 6,38 persen sepanjang tahun 2025.

Namun, angka tersebut nyatanya masih berada di bawah level sebelum pandemi yang biasanya mampu menyentuh kisaran 7 hingga 9 persen.

Peneliti Senior CORE Indonesia Muhammad Ishak Razak menjelaskan lonjakan pasar pada triwulan pertama tahun ini sebagian besar masih dipicu oleh faktor musiman seperti momentum Ramadan, Lebaran dan tingginya mobilitas masyarakat.

Di balik itu, industri masih dibayangi oleh tekanan struktural yang cukup berat.

"Pertumbuhan tersebut masih dibayangi oleh sejumlah tantangan struktural antara lain, pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp17.900 per dolar AS (Rabu, 3 Juni 2026), kenaikan biaya produksi, tekanan inflasi, serta lemahnya daya beli masyarakat yang menjadi tantangan nyata bagi pelaku industri," jelas Ishak dikutip Jumat 5 Juni 2026.

Tingginya ketergantungan pelaku usaha terhadap impor bahan baku serta material kemasan membuat biaya produksi membengkak akibat fluktuasi kurs.

Dampaknya terlihat pada data inflasi per April 2026, di mana kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 3,06 persen (year-on-year). Angka ini berada di atas tingkat inflasi umum nasional yang tercatat sebesar 2,42 persen.

 

Mendorong Kebijakan yang Adaptif

Merespons kondisi tersebut, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan komitmennya untuk terus menjaga iklim usaha manufaktur tetap kondusif melalui langkah-langkah strategis.

Merrijantij Punguan Pintaria, Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar pada Kemenperin menyampaikan bentuk dukungan ekosistem industri dari regulator.

Menurutnya, sektor industri pengolahan berkontribusi sekitar 19% terhadap PDB nasional pada Triwulan I-2026, dengan industri makanan-minuman (mamin) sebagai subsektor utama penopang pertumbuhan manufaktur nasional.

"Kami memahami bahwa tekanan ekonomi global juga memberikan tantangan kepada industri makanan dan minuman untuk terus tumbuh. Untuk itu, pemerintah terus berkomitmen mendorong penguatan struktur industri, pengembangan hilirisasi, serta peningkatan daya siang sektor mamin," jelasnya.

Selain itu, lanjut Merrijantij, pihaknya juga akan terus memperkuat sinergi bersama pelaku usaha dalam menjaga keberlanjutan industri dan penciptaan lapangan kerja di tengah dinamika ekonomi global.

Pihak ASRIM mengapresiasi langkah pemerintah tersebut dan berharap agar implementasi kebijakan atau regulasi ke depan, termasuk masalah cukai dan bea masuk, dapat berjalan secara adaptif tanpa memberikan beban tambahan yang memberatkan pelaku usaha.

Langkah ini dinilai krusial agar industri tetap mampu mempertahankan investasi serta melindungi penyerapan tenaga kerja nasional.

"Kami mendorong kebijakan yang adaptif dan konsisten, termasuk penguatan bahan baku domestik, kepastian regulasi, serta keseimbangan antara daya beli masyarakat dan keberlanjutan usaha," pungkas Triyono.

KAB. TANGERANG
Pemkab Tangerang Kaji Kondisi Abu Vulkanik, Kepastian Sekolah Tatap Muka Diputuskan Besok

Pemkab Tangerang Kaji Kondisi Abu Vulkanik, Kepastian Sekolah Tatap Muka Diputuskan Besok

Selasa, 8 September 2026 | 21:10

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang terus mengkaji serta memantau perkembangan sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK).

OPINI
Tunduk Syariat

Tunduk Syariat

Selasa, 8 September 2026 | 22:01

Dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad saw, akhirnya sampai juga ke tanah Yatsrib, Kota Madinah.

BISNIS
Pembiayaan Otomotif Tumbuh 44 Persen, Bank Danamon Diganjar Penghargaan

Pembiayaan Otomotif Tumbuh 44 Persen, Bank Danamon Diganjar Penghargaan

Senin, 7 September 2026 | 20:50

PT Bank Danamon Indonesia Tbk mencatatkan pertumbuhan pembiayaan otomotif sebesar 44 persen pada tahun fiskal 2025 dibandingkan tahun fiskal 2024.

MANCANEGARA
Ameba Pemakan Otak Mulai Muncul di Berbagai Negara, Ilmuwan Khawatir Kasus Terus Bertambah

Ameba Pemakan Otak Mulai Muncul di Berbagai Negara, Ilmuwan Khawatir Kasus Terus Bertambah

Selasa, 14 Juli 2026 | 13:48

Kematian Jordan Smelski, bocah berusia 11 tahun asal Amerika Serikat, akibat infeksi langka yang disebabkan Naegleria fowleri atau “ameba pemakan otak”, kembali menjadi sorotan setelah para ilmuwan memperingatkan potensi penyebaran organisme tersebut

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill