Connect With Us

Pasokan Gagal Panen Dihantam El Nino, Pedagang Sayur di Legok Keluhkan Omzet Anjlok Drastis

Redaksi | Kamis, 17 September 2026 | 18:48

Pedagang sayur dan sembako di Kawasan Legok, Kabupaten Tangerang. (TangerangNews / Alfiyyah Saaddi)

TANGERANGNEWS.com-Kemarau panjang akibat fenomena El Nino dengan kategori sangat kuat melanda berbagai wilayah termasuk Tangerang.

BMKG melaporkan 451 ZOM atau 64,5% wilayah Indonesia mengalami curah hujan di bawah normal, sehingga kekeringan memicu gagal panen dan kenaikan harga pangan.

Hal ini pun berdampak pada pedagang sayur di Pasar Legok, Kabupaten Tangerang. Seperti yang diungkapkan Novan, cabai rawit dan tomat mengalami kenaikan harga paling tinggi dalam beberapa bulan terakhir.

"Kenaikannya bisa mencapai 30% hingga 50% dari harga normal," ujarnya, Kamis 17 September 2026.

Ia menyebut cabai rawit yang sebelumnya dijual Rp30.000-Rp35.000 per kilogram kini melambung jauh lebih tinggi. Tomat juga mengalami lonjakan serupa dari harga normal sekitar Rp10.000 per kilogram.

"Sekarang naik menjadi sekitar Rp50.000–Rp60.000 per kilogram. Tomat dari yang tadinya sekitar Rp10.000, kini bisa mencapai Rp20.000–Rp25.000 per kilogram," kata Novan.

Selain harga, Novan menyebut pasokan dari petani berkurang sekitar 20%–30% karena banyak tanaman gagal panen. Ia menilai kualitas sayur pun menurun, terlihat dari daun yang lebih cepat menguning dan ukuran sayuran lebih kecil.

"Banyak tanaman yang gagal panen atau layu akibat kurangnya pasokan air. Cabai atau tomat lebih cepat busuk," ujarnya.

Dampaknya, omzet harian Novan turun dari sekitar Rp1.500.000 menjadi Rp1.000.000 per hari. Ia juga menyebut pembeli mengurangi belanja hingga 25%–50% dari jumlah biasanya.

"Modal yang dikeluarkan lebih besar namun volume penjualan menurun. Yang biasanya membeli 1 kg cabai kini dikurangi menjadi seperempat atau setengah kilogram saja," jelasnya.

Novan berharap pemerintah segera menstabilkan harga dan memperlancar distribusi pangan. Ia juga meminta pemerintah memberikan solusi pengairan bagi petani yang terdampak kemarau.

"Berikan solusi pengairan bagi petani yang terdampak kemarau," pintanya.

Keluhan serupa datang dari Alifah, pedagang sayur yang sudah berjualan hampir dua tahun di kawasan Legok. Ia mencatat serai sebagai komoditas yang naik paling ekstrem dalam tiga bulan terakhir.

"Pengaruh banget kemarau ini. Serai dari jual Rp10.000, sekarang jual Rp30.000," tukasnya.

Selain serai, Alifah menyebut labu besar dan kentang juga ikut merangkak naik. Meski begitu, ia menilai kualitas sebagian besar sayur relatif sama kecuali serai yang menurun sejak kemarau.

"Biasanya Rp8.000, sekarang Rp15.000. Kalau yang lain kualitas mah, sama aja," ujarnya.

Dari sisi penjualan, Alifah mengaku omzet hariannya turun drastis semenjak kemarau melanda. Ia juga menyebut sejumlah sayur seperti cabai gendut, kol ungu, dan daun kencur kini sulit didapat.

"Semenjak kemarau, omset turun drastis, sejak kemarau ini susah," katanya.

Hingga saat ini, Alifah belum menerima bantuan modal maupun sosialisasi harga dari pemerintah. Ia mengaku belum ada bantuan apapun sejak kemarau melanda.

"Bantuan dari pemerintah setempat atau solusinya, belum ada," ungkapnya singkat.

Sementara itu, Manajer Bencana Ekologis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Melva Harahap menilai El Nino kali ini dampaknya semakin meluas karena dipicu krisis iklim.

Menurutnya, krisis iklim berakar dari akumulasi krisis lingkungan seperti kebakaran hutan dan hilangnya ekosistem.

"El Nino itu kan satu fenomena yang kemudian dampaknya semakin meluas karena dipicu oleh satu faktor lain yang kita sebut krisis iklim, itu bagian dari akumulasi krisis lingkungan hidup, yang terjadi karena ekosistem terganggu," tegasnya.

Ia menilai negara gagal menjamin ruang hidup dan penghidupan masyarakat serta gagal memastikan harga stabil di pasaran. Akibatnya, efek domino dirasakan petani, nelayan, pedagang kecil, hingga konsumen di kota.

"Negara gagal memastikan harga stabil di pasaran. Masyarakat, petani, dan nelayan yang merasakan dampaknya," ujarnya.

WALHI merekomendasikan pemulihan ekosistem di seluruh wilayah Indonesia sebagai langkah utama. Selain itu, WALHI mendorong penyerahan tata kelola sumber daya alam kepada rakyat melalui regulasi partisipatif yang mengakomodasi pengetahuan lokal.

"Memulihkan kembali ekosistem yang ada itu menjadi satu keharusan. Harus kerja bersama. Dan kita mengingatkan bahwa kita butuh negara untuk punya perspektif melihat kawasan-kawasan ekosistem itu sebagai kawasan penting," ujarnya.

Krisis ini menegaskan kemarau bukan sekadar soal cuaca yang panas. Namun, ada dampak ketahanan pangan yang harus ditangani bersama.

 

Reporter: Alfiyyah Saaddi

SPORT
Bukan Sekadar Kawasan Bisnis, Sinar Mas Land Hadirkan Platform D.A.N.C.E untuk Perkuat Ekosistem Digital Hub

Bukan Sekadar Kawasan Bisnis, Sinar Mas Land Hadirkan Platform D.A.N.C.E untuk Perkuat Ekosistem Digital Hub

Rabu, 16 September 2026 | 21:56

Pertumbuhan ekosistem digital yang semakin besar sering kali menciptakan tantangan baru, terutama dalam menjaga konektivitas, interaksi, dan peluang kolaborasi antarperusahaan agar berjalan beriringan.

WISATA
PLN Sulap Potensi Desa Bandung Pandeglang Jadi Wisata Ramah Lingkungan 

PLN Sulap Potensi Desa Bandung Pandeglang Jadi Wisata Ramah Lingkungan 

Kamis, 3 September 2026 | 10:45

PLN Group mengembangkan Desa Bandung, Kecamatan Banjar, Kabupaten Pandeglang, Banten, menjadi kawasan wisata berbasis energi bersih melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Desa Berdaya Eco-Wisata SiNyonya.

TEKNO
Hadapi Tantangan Industri Ritel, Aprindo Gandeng UBM Serpong Kembangkan Data Sains dan AI

Hadapi Tantangan Industri Ritel, Aprindo Gandeng UBM Serpong Kembangkan Data Sains dan AI

Rabu, 9 September 2026 | 19:46

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) berkolaborasi dengan Universitas Bunda Mulia (UBM) dalam pengembangan inovasi serta pemanfaatan data science dan artificial intelligence (AI) di sektor ritel.

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill