Connect With Us

Asal-usul Kampung Sewan Neglasari, Berawal dari Penyebutan Steven hingga Nama Rumah Sakit

Fahrul Dwi Putra | Kamis, 13 Agustus 2026 | 19:53

Gedung IGD Rumah Sakit Kusta (RSK) Sitanala, Kota Tangerang. (@TangerangNews / Achmad Irfan Fauzi)

TANGERANGNEWS.com- Perkembangan kawasan Neglasari, Kota Tangerang, tidak dapat dipisahkan dari sejarah Kampung Sewan dan Kelurahan Karangsari. 

Dalam buku “Melacak Asal Muasal Kampung di Kota Tangerang” karya Burhanudin, kawasan tersebut tercatat sebagai lokasi berdirinya Rumah Sakit Sewan pada 1951 yang kini dikenal sebagai RS Dr. Sitanala.

Secara administratif, Karangsari merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Neglasari. Sebelumnya, wilayah tersebut berada di bawah Kecamatan Batuceper sebelum terjadi pemekaran.

"Adapun Kecamatan Batuceper dimekarkan menjadi dua, yaitu Batuceper dan Kecamatan Neglasari," tulis Burhanudin dalam bukunya.

Asal nama Karangsari diduga berkaitan dengan kondisi wilayah yang memiliki batuan keras dan dilintasi anak Sungai Cisadane. 

Kontur batu yang menyerupai batu karang kemudian disebut menjadi asal nama Karangsari. Kata “sari” yang ditambahkan setelah “karang” menunjukkan wilayah tersebut merupakan inti kampung, tempat karang berada.

Di Kelurahan Karangsari terdapat Kampung Sewan. Keberadaan kampung tersebut salah satunya tercatat melalui pendirian Rumah Sakit Sewan. Namun, nama Sewan sendiri telah dikenal sebelum rumah sakit tersebut berdiri.

"Departemen Kesehatan RI mendirikan Rumah Sakit Sewan yang merupakan pemindahan dari Leprasarium Lenteng Agung. Sewan terletak di Desa Karangsari. Kampung Sewan Tangerang dengan luas lebih kurang 54 hektare. Pada 28 Juli 1951 Rumah Sakit Sewan diresmikan oleh Ny. Rahmi Hatta selaku Ibu Wakil Presiden RI Pertama," tulis Burhanudin.

Jahiri, salah satu narasumber dalam buku tersebut, menyebut Kampung Sewan di Desa Karangsari telah ada sejak zaman Belanda. 

Nama kampung tersebut kemudian semakin dikenal setelah Rumah Sakit Sewan diresmikan pada 28 Juli 1951.

Rumah sakit tersebut merupakan lembaga pemulihan lepra yang dipindahkan dari Lenteng Agung, Jakarta.

Pada 1962, nama Rumah Sakit Sewan kemudian berubah menjadi Pusat Rehabilitasi Sitanala. 

Perubahan nama tersebut dilakukan untuk mengenang jasa dr. JB. Sitanala, dokter yang dikenal sebagai salah satu pelopor penanganan penyakit kusta di Indonesia.

"Pada tahun 1962, Menteri Kesehatan RI Prof. Dr. Satrio resmi mengubah nama Rumah Sakit Sewan menjadi Pusat Rehabilitasi Sitanala. Perubahan ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dr. JB. Sitanala, pelopor dokter pertama di Indonesia yang menangani pasien kusta," paparnya.

Jahiri juga menyampaikan cerita mengenai asal nama Sewan. Menurutnya, pada masa lalu banyak orang di kawasan tersebut yang bisa disewa sehingga wilayah itu disebut Sewan. Ia juga menyebut Neglasari pada zaman kolonial merupakan wilayah milik tuan tanah kompeni.

Sementara itu, narasumber lainnya, Harrys, 60, memiliki cerita berbeda mengenai asal nama Sewan. Menurutnya, nama tersebut berasal dari seorang kopral Belanda bernama Steven yang sering melewati kampung tersebut.

Karena sering terlihat di kampung, masyarakat kemudian memanggilnya Mr. Steven. Pada masa itu, tidak banyak orang yang bisa membaca sehingga penyebutan nama tersebut mengalami perubahan.

"Karena orang sedikit yang bisa membaca, tulisan Steven menjadi Stewen, dan lama kelamaan karena perbedaan dialek menjadi Sewan," kata Harrys.

TEKNO
Kemendikdasmen Dorong Pembelajaran Berbasis AI Lewat Program Terpujilah GURU

Kemendikdasmen Dorong Pembelajaran Berbasis AI Lewat Program Terpujilah GURU

Jumat, 25 September 2026 | 21:19

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI mendorong pemanfaatan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) oleh tenaga pendidik dalam metode pembelajaran di ruang kelas lewat program Terpujilah GURU 2026

TOKOH
KH Ahmad Fudholi Meninggal Dunia Usai Jalani Perawatan Akibat Kecelakaan

KH Ahmad Fudholi Meninggal Dunia Usai Jalani Perawatan Akibat Kecelakaan

Senin, 7 September 2026 | 15:29

‎Ulama kondang asal Kabupaten Tangerang KH. Ahmad Fudholi meninggal dunia setelah menjalani perawatan pascakecelakaan di Tol Tangerang-Merak.

KOTA TANGERANG
Hadapi Persaingan Sarjana Era AI, Rektor UMT Dorong 3 Ribu Wisudawan Tingkatkan Kompetensi Digital

Hadapi Persaingan Sarjana Era AI, Rektor UMT Dorong 3 Ribu Wisudawan Tingkatkan Kompetensi Digital

Selasa, 29 September 2026 | 15:37

Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) menggelar prosesi wisuda bagi 3.038 lulusan yang berasal dari delapan fakultas di ICE BSD City, Selasa 29 September 2026.

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill