Connect With Us

Mengenal Metode Operasi UKA, Solusi Bagi Penderita Nyeri Lutut

Rangga Agung Zuliansyah | Rabu, 19 Juni 2024 | 23:12

Konsultan Orthopedi Siloam Hospitals Lippo Village, Dr. dr. John C.P. Butarbutar, SpOT., (K)., menjelaskan metode operasi Unicompartmental Knee Arthroplasty (UKA) yang bisa menjadi solusi bagi penderita osteoarthritis, Rabu 19 Juni 2024. (@TangerangNews / Rangga Agung Zuliansyah)

TANGERANGNEWS.com-Bagi penderita osteoarthritis atau cedera lutut traumatis, operasi Unicompartmental Knee Arthroplasty (UKA) bisa menjadi solusi. Sebab, metode ini selain lebih minim rasa sakit, waktu pemulihannya lebih cepat.

Konsultan Orthopedi Siloam Hospitals Lippo Village, Dr. dr. John C.P. Butarbutar, SpOT., (K)., menjelaskan UKA merupakan prosedur bedah minimal invasif dengan menggantikan hanya bagian yang rusak dari sendi lutut, baik di sisi medial (bagian dalam) maupun lateral (bagian luar). 

“Jadi yang diganti itu tulang bagian yang sakitnya saja, satu sisi saja, tidak seluruhnya. Jadi masih dipertahankan ligamennya, ototnya, sehingga pasca-operasi semuanya akan kembali alami,” ungkap John, Rabu 19 Juni 2024.

Menurut dr John, metode UKA hanya menargetkan bagian sendi yang rusak saja. Berbeda dengan metode operasi lain, seperti total knee replacement (TKR) yang mengganti permukaan sendi lutut secara keseluruhan dengan implan plastik dan metal.

Keunggulan UKA yakni hanya menargetkan area yang bermasalah, sehingga memungkinkan pemulihan yang lebih cepat, rasa sakit yang lebih minimal, dan penggunaan obat penghilang rasa sakit yang lebih sedikit.

Bahkan, ada pasien yang bisa sembuh hanya dalam lima sampai 7 hari, paling lama 17 hari. Pasien pun sudah bisa berjalan normal tanpa menggunakan tongkat.

“UKA pun hanya melapis sisi dalam lutut yang mengalami pengapuran saja, hanya satu sisi. Lalu, masih mempertahankan struktur yang penting, seperti ligament, meniscus, rawan sendi sisi lainnya," ungkap John.

Dikatakan Jhon, tren UKA ini sudah mulai menyebar di seluruh dunia. Namun di Indonesia baru masuk di beberapa tahun terakhir saja, sebab pasien nyeri lutut ini meningkat selama 10 tahun terakhir.

Penderitanya bukan hanya orang tua, namun juga generasi milenial yang secara fisik mengalami obesitas ataupun metabolic disease.

Hal ini disebabkan kebiasaan malas bergerak (mager), mengkonsumsi makanan serta minuman yang tinggi gula gula dan garam.

“Sekarang itu makin mager, makin beresiko. Ditambah pola makan yang buruk, bisa menjadi resiko nyeri lutut,” pungkas John.

Rasa sakit pada nyeri lutut akan semakin menjadi ketika dibawa aktifitas dan sakitnya hilang ketika berdiam diri. Namun jika didiamkan, sakitnya akan semakin parah seiring bertambahnya tahun. 

“Nanti mulai kakinya berbentuk O, lalu pincang. Itu resiko bila tidak diobati. Terlebih bila faktornya pengapuran, semakin lama didiamkan, pulihnya juga akan semakin lama,”katanya.

BANTEN
Pemprov Banten Dorong Pemantauan Real-Time Kasus Kekerasan Anak Bareng Komnas PA

Pemprov Banten Dorong Pemantauan Real-Time Kasus Kekerasan Anak Bareng Komnas PA

Selasa, 27 Oktober 2026 | 18:38

Kekerasan terhadap anak tengah marak terjadi di Provinsi Banten, termasuk kasus perundungan pelajar di wilayah Tangerang Selatan yang tengah menjadi sorotan belakangan ini.

TEKNO
Kompetisi Robotik Nasional Digelar di Tangerang, Kemenpora Tekankan Penguatan Daya Saing Digital Generasi Muda

Kompetisi Robotik Nasional Digelar di Tangerang, Kemenpora Tekankan Penguatan Daya Saing Digital Generasi Muda

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 18:41

Kompetisi teknologi bidang coding dan robotik, Codero National Competition (CNC) 2026 digelar di Mall @ Alam Sutera, Tangerang, selama 24–25 Oktober 2026.

PROPERTI
Program Video Competition Sinar Mas Land Diganjar Penghargaan Perhumas PR Excellence Awards 2026

Program Video Competition Sinar Mas Land Diganjar Penghargaan Perhumas PR Excellence Awards 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 22:48

Sinar Mas Land kembali mengukuhkan prestasinya di bidang komunikasi korporasi dengan meraih Juara II Perhumas PR Excellence Awards 2026 untuk kategori Teknologi & Digital PR.

MANCANEGARA
Ameba Pemakan Otak Mulai Muncul di Berbagai Negara, Ilmuwan Khawatir Kasus Terus Bertambah

Ameba Pemakan Otak Mulai Muncul di Berbagai Negara, Ilmuwan Khawatir Kasus Terus Bertambah

Selasa, 14 Juli 2026 | 13:48

Kematian Jordan Smelski, bocah berusia 11 tahun asal Amerika Serikat, akibat infeksi langka yang disebabkan Naegleria fowleri atau “ameba pemakan otak”, kembali menjadi sorotan setelah para ilmuwan memperingatkan potensi penyebaran organisme tersebut

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill